
Bu Direktur mengajak Kalista makan di kafetaria sekolah. Karena sekarang sedang jam pelajaran, ya tentu saja kafetaria tidak terlalu ramai. Ada beberapa siswa saja yang duduk di sana, kemungkinan karena di kelas mereka ada ulangan dan mereka sudah selesai mengerjakan makanya dibiarkan keluar.
Kalista duduk memesan semangkuk besar salad buah, sedangkan Bu Direktur memilih memesan sepiring omelet tuna.
Awalnya mereka cuma basa-basi membicarakan hal sederhana. Tanpa Kalista tahu kalau Bu Direktur punya niat khusus.
"Anyway, Kalista," Bu Direktur melipat tangannya di atas meja, menatap Kalista secara langsung, "kamu ada masalah di rumah?"
"Hm? Enggak tuh, Bu." Kalista merasa tidak ada jadi ya ia jawab tidak ada.
"Ohya? Terus terang saya denger kabar enggak enak soal kamu."
"Saya?"
"Dari mamanya Cassandra."
Kalista mengerjap bingung. "Ibu kenal Kak Cassie?"
"Bukan kenal temen, tapi kenal di lingkungan sosial elit. Kamu ngerti kan, kayak semacam circle tempatnya orang-orang kaya ngumpul ngomongin satu sama lain."
Mulut Kalista langsung membentuk huruf O, mengangguk-angguk. "Jadi Ibu juga dari kalangan elit gitu?"
__ADS_1
Pertanyaan polos Kalista dijawab tawa kecil oleh Bu Direktur. "Anggep aja begitu. Atau lebih tepat bilang Mama saya."
Wanita itu kembali makan dengan tenang. "Ada kabar dari mertua om kamu, katanya kamu ngebentak dia pas ke rumah kamu kemarin. Terus kamu juga bilang katanya hak waris itu punya kamu, bukan Rahil."
"Uwwah." Kalista bahkan tak sadar membuat ekspresi jijik di depan Bu Direktur. "Pinter banget bikin cerita halu."
"Does that mean she was lie?"
"Lie banget, Bu." Kalista mencak-mencak. "Dia tuh duluan yang ngajak saya berantem. Saya kan cuma lewat doang terus saya enggak nyapa, eh dianya sewot. Bilang saya enggak sopan terus nyinggung-nyinggung Mama saya."
"Terus dia juga bilang katanya Rahil yang berhak jadi ahli waris soalnya saya anak pelacurr—intinya dia ngomong gituan, jadi saya bilang aja kenyataannya saya anak pertama."
Kalista mengoceh penuh emosi. "Padahal saya enggak kepikiran soal waris-warisan. Saya tuh, Bu, bukan cewek yang mimpinya suatu saat bakal jadi CEO. Saya tuh bukan feminis. Saya biasa aja, netral-netral aja. Jadi jangankan mikirin warisan keluarga Papa, mikirin masa depan saya aja saya males. Kasih aja tuh semua ke Rahil. Saya cukup dikasih duit, anteng saya."
"Entah gimana saya emang udah kepikiran begitu." Bu Direktur menjawab tenang. "Buat kamu yang di dalem keluarga, mungkin keliatannya baik-baik aja. Tapi keluarga besar dari keluarga kamu itu enggak. Itu perbedaan keluarga yang punya harta sama yang enggak, sih. Kalau kamu paham."
"Saya paham." Kalista mendengkus. "Semua orang selalu permasalahin soal lahir dari siapa. Seakan-akan semuanya nentuin."
"Sebenernya, itu enggak terlalu salah. Kalau ibunya buruk, anaknya punya potensi besar ikut buruk karena interaksi paling banyak dalam keluarga itu sama ibu."
"Mama saya enggak buruk, dia goblok."
__ADS_1
Bu Direktur terkejut mendengar anak di depannya mengatakan hal sekaras itu. Tapi, Bu Direktur tidak merespons karena tahu Kalista sedang emosi. "Kenapa?"
"Mama saya enggak pernah nyuruh saya ngelacur." Kalista mengepal tangannya kuat-kuat, memerah oleh amarah. "Mama saya tuh enggak pernah sekalipun nyuruh saya deketin cowok buat dapet uang. Mama saya malah pernah nampar saya waktu saya bilang 'nanti aku kayak Mama aja'."
"Terus kenapa Mama kamu 'bodoh'? Bukannya dia baik?"
"Dia enggak berenti!"
Urat-urat di leher Kalista sampai terlihat saat dia berteriak tertahan.
"Mama nampar saya karena tau mimpi kayak gitu salah, tapi tetep aja enggak berenti! Mama selalu ngajarin saya jadi baik, tapi Mama sendiri malah ngulang-ngulang kesalahan dia sendiri! Makanya dia goblok!"
Bu Direktur langsung mengulurkan tangan ke tangan Kalista, meremasnya lembut.
"You know, Kid?" ucap Bu Direktur penuh kasih sayang. "You're really a strong girl."
Lagi-lagi Bu Direktur cuma melihat bagaimana anak ini menangani masalahnya sendiri, sebelum ia bisa membantu.
Bagaimana cara Kalista menyelesaikan masalahnya? Itu benar-benar sangat mudah.
Dia tidak menjadi mamanya yang baik namun bodoh itu.
__ADS_1
*