My Daddy Is My Sugar Daddy

My Daddy Is My Sugar Daddy
46. Bilang Aja Salah Papa


__ADS_3

"Kamu kira ngeluarin orang dari sini bisa segampang nendang kulit udang?" ucap wanita itu semakin kesal.


"Kamu liat muka saya, Bu?" Rahadyan menunjuk wajahnya sendiri. "Ada muka saya peduli?"


Hening.


"Gak ada! Muka saya enggak peduli! Jadi saya mau dia dikeluarin biarpun saya bayar lagi!"


Katanya saat orang sudah terlalu banyak uang, dia akan menjadi gila. Ternyata benar.


"Enggak bisa."


"Kalo gitu saya telfon Pak Mahardika sekarang." Mahesa Mahardika seharusnya adalah orang paling berpengaruh di sekolah ini.


Narendra adalah pemiliknya tapi Mahesa Mahardika adalah penanggung jawabnya. Jadi dia bisa dibilang adalah pemilik dan pengontrol.


Bu Direktur yang merasa dia bisa menantang Rahadyan ini bisa langsung diludahi kalau Mahardika mau.


"Silakan aja." Bu Direktur menjawab diluar dugaan Rahadyan. "Nih, saya telfonin orangnya kalo mau."


Rahadyan cengo.


Itu membuat ekspresi Bu Direktur menjadi sangat jengkel dan muak.


"Denger yah, Pak Rahadyan. Alasan kenapa kamu dibolehin ngeliat CCTV itu bukan karena kamu banyak uang, tapi karena kamu punya kontrak pengawal sama Narendra. Cuma karena itu."


"Kamu—"


"Jadi biarpun kamu nawarin satu triliun buat ngeluarin Astrid, sekolah bakal nolak. Semua siswa sama di sini. Mau anak kamu, mau Astrid."


"Tapi—"


"Lagian, kamu nih kurang kerjaan banget yah ngintilin anak perempuan kamu mulu? Kamu punya banyak perusahaan perlu ditengokin, tapi malah sibuk ngurusin anak perempuan kamu yang lagi eksplorasi dunianya sendiri."

__ADS_1


"Bu—"


"Saya enggak tau harus kasian sama kamu karena kamu pengangguran atau saya mesti sinis karena kamu kurang kerjaan. Tapi yang mana pun, saya harap kamu ngerti kalau saya sibuk."


Rahadyan menjatuhkan rahangnya tercengang, kena mental oleh sang Bu Direktur.


Pantesan masih jomblo, pikir Rahadyan diam-diam. Ganas bener.


*


"Bisa dibilang kamu orang pertama yang di hari pertama sudah masuk ke ruang Direktur." Bu Direktur berbicara dengan nada penuh wibawa pada anak gadis di depannya.


Kalista.


Berbeda dari saat bersama Rahadyan, Bu Direktur sekarang terlihat sopan dan bijaksana, serta memahami posisinya sebagai orang nomor satu di sekolah ini.


"Dan biasanya kasus kecil enggak langsung ditangani."


Kalista menatap wanita di depannya tanpa emosi. Nama yang tertera di atas meja perempuan itu membuat Kalista sedikit mengangkat alis.


"Saya enggak ngerasa saya punya salah, Bu Wini."


"Wi-ne." Bu Direktur mengoreksi. "Pronunciation-nya Wi-ne, bukan Wini."


"Oh, oke, Bu." Kalista membalas tak peduli. "Terus urusannya manggil saya apa yah, Bu? Saya kan enggak salah."


"Kamu kira saya enggak tau?" Bu Direktur mengulas senyum simpul di bibirnya. "Bawa pengawal ke mana-mana, sengaja pamer sana-sini, pura-pura enggak tau kalau orang lain mandang kamu sebelah mata—itu semua undangan buat orang ngebully kamu."


"...."


"Yah, tapi saya enggak manggil kamu buat hukuman. Saya cuma mau tanya karena tadi ada anjing sibuk gonggong ke saya."


Kalista mengerutkan kening pada bahasa yang dipakai Bu Direktur. Tapi ia kemudian memaklumi sebab Bu Direktur ini kelihatan masih berusia di bawah tiga puluh tahunan.

__ADS_1


Paling mentok dia tiga puluh tahun. Masih muda buat pintar mengutuk seseorang.


"Saya juga enggak suka anjing, Bu." Kalista menjawab pasti. "Menurut saya enggak ada anjing lucu di dunia ini, mau anjingnya kayak boneka sekalipun.."


Bu Direktur mengangguk-angguk. Sangat setuju pada ucapan Kalista sekalipun itu diluar topik. "Memang. Memang anjing itu najis."


"Iya, Bu."


"Tapi pertanyaan saya, Kalista." Bu Direktur segera berdehem. "Kamu enggak pa-pa?"


Kening Kalista berkerut heran. Maksudnya apa?


"Itu pertanyaan tulus. Pihak sekolah menilai kalau kamu enggak butuh bantuan apa-apa dan kamu bukan korban, dari yang kelihatan. Tapi sebagai orang tua kamu di sekolah, saya cuma mau tau. Kamu serius enggak pa-pa?"


Sepertinya dia benar bertanya dengan tulus.


Kalau begitu, Kalista akan menjawabnya tulus juga.


"Udah biasa," guman Kalista santai. "Saya udah biasa dibully orang karena Mama saya pelacurr."


"Kamu sakit hati?"


"Mama saya pelacurr, jadi yang mereka omongin bener. Tapi kalo Ibu nanya saya pantes nerima itu atau enggak, ya jelas enggak."


Bu Direktur mengangkat alis.


"Makanya mumpung saya diajak ngomong, saya izin aja. Besok-besok kalo saya mukul orang, bilang aja Papa saya yang nyuruh."


"Kalo orangnya protes, bilang juga Papa saya yang ngajarin."


"Terus kalo bawa-bawa polisi, bilang kalo Papa saya yang tanggung jawab."


"Oke." Dengan mudahnya Bu Direktur setuju.

__ADS_1


*


__ADS_2