My Daddy Is My Sugar Daddy

My Daddy Is My Sugar Daddy
98. Itu Papa Bohong


__ADS_3

Kalista menelan ludah berulang kali sambil menunggu panggilannya dijawab. Berputar-putar di kepala Kalista rasa gengsi yang berkata 'buat apa dirinya menghubungi si Tidak Berguna itu?'.


Kalista tidak mau. Kalista tidak sudi. Kalista tidak seharusnya melakukan ini.


Tapi, Kalista juga sadar kalau saran Bu Direktur tidak salah.


"Halo—"


Baru saja suara Rahadyan terdengar, Kalista sudah tersentak kaget. Mendadak saja ia merasa sangat terbakar sampai mengangkat suaranya.


"Kak Agas sama Sergio keluar aja!" Kalista mengusir mereka sambil mengibas-ngibaskan tangan. "Sana! Sana! Pergi dulu!"


Suster sebenarnya terkejut, tapi Agas malah tertawa kecil sementara Sergio cengo. Agas seketika menarik kerah baju Sergio agar pergi, meninggalkan Kalista yang tidak bisa mengendalikan rasa gengsinya.


Memang dasar perempuan.


"Halo?" Dari seberang benua sana, Rahadyan setengah cengo mendengar suara itu.


Walau berbeda, tapi bagaimana dia mengucapkan nama Agas dan Sergio sudah cukup memberitahu siapa dia.


"Kalista?" Rahadyan bahkan tidak percaya sekalipun menebaknya sendiri. "Ini kamu kan, Kalista?"


Kalista mengerutkan bibirnya tampa kendali.


Sulit. Lebih sulit dari yang ia duga. Mulutnya terkunci tak mau bicara pada Rahadyan. Bahkan ketika Kalista berusaha keras memikirkan ucapan Bu Direktur lagi, ia tetap merasa tidak bisa bicara.


Aaaaakhhhh! Dasar dirinya ini!


"Aw!"


Tiba-tiba, Kalista tersentak kaget. Baru saja obat merah dari kapas suster mengenai lukanya dan Kalista terkejut.


Tapi yang mencengangkan, Kalista malah bersuara padahal saat tadi terkena alkohol saja gadis itu cuma santai-santai.


Kalista tidak tahu. Mulutnya spontan bersuara.

__ADS_1


"Kalista, kamu kenapa? Nak?" Rahadyan jelas panik mendengar suara kesakitan anaknya.


Agas tidak melaporkan soal Kalista jatuh, jadi Rahadyan tidak tahu sama sekali keadaan Kalista sekarang.


"Kalista? Kamu kenapa diem? Papa telfon Agas sekarang kalo kamu enggak ngomong. Kalista!"


Lebay banget sih. Kalista melotot jengkel pada ponselnya. Berharap si Rahadyan dengar dan sadar dia sudah membuat malu Kalista di depan suster.


Tapi yah berkat kekesalannya mendadak, Kalista jadi tidak canggumg.


"Ehem." Kaliara berdehem dan mendadak percaya diri. "Aku habis jatoh."


"Jatoh?!" Rahadyan serasa mendengar pabrik besar keluarga terbakar dan kerugian mencapai triliunan. Seakan-akan kiamat bakal terjadi dalam beberapa detik lagi dan dia belum tobat sama sekali.


Jelas saja, Kalista malu pada suster.


"Maaf, Sus." Kalista tersenyum canggung. "Om saya agak sakit makanya kelakuan dia begini."


"Kalista! Papa serius!"


"Kamu ...." Rahadyan mau memuntahkan omong kosongnya karena khawatir dan jelas mau mengomel. Bagaimana bisa Agas membiarkan Kalista jatuh?!


Tidak bisa! Jelas tidak bisa! Kenapa? Karena Rahadyan tahu, dalam keluarga Narendra, kalau ada tuan mereka yang terluka bahkan oleh kesalahan pribadi, yang bertanggung jawab adalah pengawal dan pelayannya!


Agas seharusnya tidak membiarkan Kalista jatuh! Apa pun alasannya tidak boleh!


Emang dasar enggak becus, gumam Rahadyan seperti orang gila. Tentu dalam hati saja.


Mau Sergio mau orang satu M, dua-duanya enggak becus. Kalo gue di sana, Kalista digigit nyamuk aja enggak gue biarin. Emang enggak bisa dipercaya. Enggak ada cowok becus ngurusin anak gue kecuali gue.


Daripada ngabisin duit bayar Agas, kayaknya mending gue bayar Al buat ngebom Sergio bareng Agas. Itu lebih ada gunanya.


"Kamu kenapa nelfon Papa?" Ketika dalam hati bergumam sana sini mengenai rencana keji pembunuhan, Rahadyan pun berpura-pura seolah tidak memikirkan apa-apa. "Black card kamu ilang?"


Dari semua alasan, dia nanya seakan-akan gue mau minta duit. Kalista mendesis jengkel walau sebenarnya itu tidak terlalu salah.

__ADS_1


Ya memang sih Kalista memanggil Rahadyan paling cuma buat uang. Tapi Kalista tidak suka disinggung soal itu!


"Bukan." Kalista menjawab ketus. "Aku mau nanyain soal Kak Agas."


"Agas?"


"Om janji sama aku bakal perpanjang kontraknya Kak Agas, tapi tadi Om bilang enggak."


Di seberang sana, Rahadyan butuh waktu buat konek.


Ohiya yah, tadi Agas mengiriminya pesan kalau Kalista dengar soal kebohongan mengenai kontrak.


Dan itu benar-benar berefek sebab Kalista langsung menelepon Rahadyan dengan nomor pribadinya. Padahal, Rahadyan kesulitan meminta nomor Kalista sebab anaknya macam singa.


Rencana Agas berjalan baik.


"Om kan janji mau—"


"Kalista." Rahadyan tersenyum cerah. "Papa udah perpanjang kontrak dari sebelum pergi."


Bodo amat soal rencana. Hah, taikucing, lah si Agas dan Sergio.


Mereka sudah membantu Rahadyan mendapat telepon dari anaknya, jadi gunanya mereka sampai di sana saja. Kalau dilanjutkan kebohongan ini, Rahadyan malah menyia-nyiakan kesempatan.


"Tapi tadi Om bilang Kak Agas mahal!"


"Itu kan Papa bohong sama Sergio." Rahadyan menjawab tanpa rasa berdosa. Melimpahkan penyalahan pada Sergio dan Agas nanti. "Agas juga udah tau. Orang Papa ngomong sama dia. Kontraknya Papa perpanjang lagi satu bulan, sesuai janji."


Kalista membeku.


"Papa mau perpanjang lebih lama kalau bisa, tapi Agas yang enggak mau. Dia bilang dia mau langsung balik ke Papua nanti, jadi Papa enggak bisa apa-apa. Cuma, kalau buat sebulan lagi, masa Papa enggak kasih?"


Haha, makan tuh. Biar Kalista mengamuk pada Sergio dan Agas.


*

__ADS_1


__ADS_2