My Daddy Is My Sugar Daddy

My Daddy Is My Sugar Daddy
61. Cuma Tersenyum


__ADS_3

"Ada sesuatu yang mau Nona ceritakan pada saya?" Sebagaimana Sergio menyadari dari suara Kalista sesuatu telah terjadi, Agas jelas lebih menyadari karena ekspresi Kalista.


Mereka benar-benar meninggalkan rumah agar Kalista bisa berjalan-jalan ke mana yang Kalista mau. Tapi ekspresi kosong di wajah Kalista tak bisa disembunyikan sejak Rahadyan memberikan sejumlah uang ke dompet Kalista yang katanya untuk jajan.


"Nona?"


Kalista menatap trotoar yang mereka lewati dengan kepala tertunduk murung. "Kakak bener. Aku enggak benci sama Om yang itu."


Menyebut Rahadyan sebagai Om Rahadyan apalagi Papa masih terlalu sulit bagi Kalista. Dulu ia cuma menyebut dia Papa karena Kalista tak mau dikira anak kurangajar oleh Agas, tapi kemudian Agas menyaksikan banyak sifat liar Kalista hingga ia putuskan buat tidak pencitraan lagi.


"Aku enggak benci sama dia, tapi aku juga enggak mau deket sama dia. Aku enggak mau manggil dia Papa apalagi sampe beneran kayak anak ke dia. Aku enggak mau."


Tangan Kalista terkepal kuat.


"Aku enggak tau kenapa."


Masih lebih mudah bagi Kalista kalau menyebut dirinya kecewa pada Rahadyan atau marah padanya. Tapi Kalista tidak benar-benar tahu apakah ia sungguhan kecewa atau marah.


Makanya Kalista selalu bilang kalau ia tidak peduli.


Ia tak peduli pada Rahadyan.


"Aku—"

__ADS_1


Ucapan Kalista terhenti ketika ia menoleh, melihat Agas tersenyum seperti biasa.


Tidak salah jika dia tersenyum, tapi bukankah ini bukanlah saatnya tersenyum mengingat Kalista sedang menceritakan hal menyedihkan tentang perasaannya?


Lalu kenapa ....


"Nona sepertinya terus memikirkan orang itu di kepala Nona."


"Eh?"


"Nona mempertanyakan apa yang harus Nona rasakan untuk orang itu. Dan pertanyaan muncul karena kepedulian, bukan ketidakpedulian."


"Aku enggak—"


Agas mengulurkan tangan ke rahang Kalista, menepikan anak rambutnya ke belakang telinga dan masih mengulas senyum.


"Tidak masalah mempertanyakan, Nona. Tidak masalah memikirkan orang yang Nona tidak ingin dia menjadi penting bagi Nona. Nona akan berhenti peduli, berhenti memikirkan, kalau Nona benar-benar sudah bisa memutuskan. Untuk sekarang pikirkan saja."


Kadang-kadang Agas mengatakan sesuatu yang sangat sulit dimengerti tapi entah kenapa bisa diterima.


Tidak masalah memikirkan Rahadyan karena Kalista belum tahu dia siapa baginya.


Benar juga. Justru Kalista semakin memikirkan Rahadyan karena ia terus-menerus menolak, menganggap kalau orang itu ada di pikirannya, berarti Kalista sangat peduli pada dia.

__ADS_1


"Kak Agas kadang bikin aku takut."


Sekarang Kalista menyadarinya dengan sangat jelas. Agas itu seperti bisa membaca dan memahami pikiran Kalista bahkan tanpa ia suarakan.


Dan itu justru membuat Agas jadi terlihat ... agak terlalu misterius.


"Kak Agas." Kalista menelan ludah ragu justru ketika Agas tersenyum lembut menanggapinya.


Dia seperti sedang melihat sesuatu dalam diri Kalista dan semakin lama itu membuatnya semakin menakutkan.


"Nona bebas berbicara apa saja," ucap dia melihat Kalista ragu.


"Aku ...." Kalista menguatkan kepalan tangannya. "Kak Agas bakal jagain aku terus, kan?"


"Tentu saja. Saya bisa memastikan dengan diri saya kalau Nona tidak akan terluka kecuali jika saya sudah sekarat. Jadi Nona tidak perlu merasa khawatir."


Rasanya itu adalah jawaban profesional. Kalista tidak bertanya mengenai hal yang profesional.


"Kak Agas bakal rayain ulang tahun sama aku, kan?"


Ulang tahun Kalista itu tinggal satu setengah bulan lagi. Jadi seharusnya Agas pasti mengangguk, kan?


Tapi, ternyata Agas cuma tersenyum.

__ADS_1


*


__ADS_2