My Daddy Is My Sugar Daddy

My Daddy Is My Sugar Daddy
65. Terserang Fakta


__ADS_3

"Lissa? Lo nanyain siapa Lissa?"


"Sapa? Blackpink?!" balas Kalista sewot lantaran masih kesal.


Kalista berhasil menyembunyikan fakta ia menyelinap ke kamar Agas, karena nampaknya Agas tidak curiga. Tapi Kalista sama sekali tidak bisa berhenti memikirkan siapa si Lissa itu.


Siapa sih? Siapa dia, siapa?!


"Jadi Agas bilang sesuatu soal Lissa, gitu maksudnya?"


"Lo kenapa nanya mulu bukannya jawab, sih?!" Kalista melotot ganas dan malah semakin kesal.


Jawab aja susah bener deh!


Tentu saja Kalista tidak bilang ia menyelinap lalu mendengar Agas berkata rindu pada si Lissa-Lissa itu, tapi penjelasan Kalista rasanya masih cukup bisa dimengerti karena ia bilang Agas mengatakan sesuatu soal Lissa.


Sudah. Dia kenal atau tidak?


Sementara itu Sergio menghela napas penat. Alih-alih menjawab Kalista, dia justru menarik tangannya buat masuk ke kamar.


Berhubung tadi Kalista minta Agas buat pergi mengambilkannya makanan dan jus—biar dia menjauh sebentar—maka tidak ada yang menegur.


"Buruan, Sergio." Agas bakal selalu ada di samping Kalista dan memantau seluruh kegiatannya tanpa terkecuali. Jadi mereka cuma punya waktu sedikit. "Sergio!"

__ADS_1


"Gue jelasin pake kata juga lo mana paham, jadi mending langsung aja!"


Sergio berhenti di meja komputernya, lalu membungkuk buat mengetik sesuatu. Tahu yang dia ketik?


Dia mengetik 'Gunung Jayawijaya'. Lalu muncul sebuah gambar gunung yang justru menyoroti sebuah kastel hitam megah.


"Nih. Ini jawabanya."


"Maksud gue tuh Lissa orang, bukan Lissa nama destinasi wisata, geblek!"


Sergio melotot. "Ini bukan destinasi wisata, goblok, ini rumah orang! Istananya orang! Nah, si Lissa tuh tinggalnya di sini. Which means apa? Which means elo sama gue kagak level."


Kalista seketika menatap nanar. Iyakah? Masa sih? Bukannya si Rahadyan itu orang terkaya di negara ini?


"Orangnya kaya banget? Dia yang punya tuh rumah?"


"Ini namanya Kastel Bintang. Satu dari dua kastel di negara kita yang ditinggalin kayak rumah, selain kastel lain yang dipake buat wisata doang."


Sergio mengetik sekali lagi nama sebuah gunung lalu muncul kastel lainnya. "Nah, ini namanya Kastel Mawar, kastel satunya lagi. Dua-duanya punya Narendra."


Hah?


"Hadeh, dasar orang kudet. Makanya gue bilang pengawal lo tuh enggak main-main. Nih, rumah bosnya tuh begini."

__ADS_1


Kalista menelan ludah. Tadinya sih Kalista punya niat mau ngajak ribut si Lissa itu kalau dia masih menggoda Agas padahal Agas itu punyanya Kalista, tapi kalau rumahnya dia bikin rumahnya Rahadyan bersujud ... duh.


Jangan-jangan nanti malah keluarga ini yang rata tanah.


"T-terus yang namanya Lissa mana?" Kalista paling tidak mau adu kecantikan.


Walaupun si Lissa itu tinggalnya di kastel, paling tidak Kalista bisa bersaing secara fisik dong?


"Enggak ada."


"Hah?"


"Anak perempuan Narendra tuh ibaratnya tuan putri Rapunzel. Enggak bisa lo liat kecuali lo manjat menara dulu. Satu-satunya waktu lo ngeliat mereka cuma pas ada nikahan Narendra, tapi generasi sekarang udah enggak ada karena tiga-tiga anak cowoknya Narendra udah pada nikah. Kira-kira lima belas tahun lagi lah lo bisa ke kastelnya mereka ngeliat si Lissa."


Buset.


"Masuk ke sana aja enggak boleh bawa handphone. Makanya si Agas enggak punya HP. Soalnya kalo dia tugas di rumahnya Narendra, dia enggak dibolehin megang HP." Sergio menghela napas. "Tapi—"


"Tapi dia jelek?"


"Tapi kalo mesti jujur sih, lo upilnya Lissa aja enggak nyampe."


*

__ADS_1


__ADS_2