My Daddy Is My Sugar Daddy

My Daddy Is My Sugar Daddy
79. Ziarah Kubur


__ADS_3

Kalau dipikir-pikir, ini ketiga kali mereka berkendara berdua setelah Rahadyan kemarin menjemputnya dari sekolah dan saat Rahadyan menjemputnya dari makam Sukma Dewi.


Berulang kali Rahadyan melirik anaknya, sementara anak itu justru diam saja memandang ke luar jendela.


Apa dia merasa sedih yah karena akan mengunjungi kuburan mamanya?


"Ehem." Rahadyan pura-pura berdehem demi menarik perhatiannya. "Kalista."


Anak itu melirik.


"Soal calon istri Papa, yang kamu minta kemarin—kamu mau yang kayak gimana?"


Tatapan Kalista biasanya akan sinis atau minimal mencemooh pertanyaan Rahadyan, tapi kali ini dia cuma menatap datar seolah tidak punya kepedulian bahkan buat menghina.


"Kenapa Om nanya aku?"


"Jelas Papa nanya kamu. Dia bakal jadi—" Jadi Mama buat kamu adalah apa yang nyaris Rahadyan katakan tapi langsung terhenti oleh insting.


Hmmm, jangan deh. Jangan katakan itu. Kalista sangat menyayangi Sukma Dewi dan sedikitpun tidak terlihat mau punya pengganti, jadi dia pasti tidak mau punya Mama baru.


"Maksud Papa," Rahadyan merevisi ucapannya, "gimana juga nanti dia bakal interaksi sama kamu, jadi saya harus nanya pendapat kamu."


"Serah Om." Kalista membuang muka.


"Masa kamu enggak punya pendapat sama sekali? Yang simpel aja kayak, kamu maunya dia enggak banyak omong, atau kamu maunya dia yang taat agama. Pendapat kamu, Papa mau tau."

__ADS_1


"Serah Om."


Rahadyan menghela napas. Setidaknya, keras kepalanya Kalista tidak hilang.


Kayaknya mood dia lagi buruk sekarang. Ya, namanya juga perempuan. Apalagi di umur sedang puber, jadi wajar saja kalau dia suka berubah-ubah tidak jelas.


"Ah, kita mampir dulu beli bunga?" tanya Rahadyan sekaligus mengalihkan pembicaraan.


Lagian ke kuburan untuk ziarah kan biasanya bawa bunga.


"Gak usah," jawab Kalista malas.


"Kenapa?"


"Mama enggak bakal bangun ngeliat bunganya, jadi enggak ada gunanya."


Mobilnya dengan cepat tiba di pemakanan Sukma Dewi berada. Rahadyan turun menyusul Kalista, meskipun dalam hati sebenarnya ia tidak enak datang tanpa membawa bunga.


Rasanya sudah seperti keharusan buat menghormati.


Tatapan Rahadyan tertancap pada ekspresi anaknya. Tak bisa disembunyikan, kesedihan di wajah Kalista nampak jelas seiring mendekatinya mereka ke makam.


Saat mereka nyaris mencapai kuburan itu ... Kalista tiba-tiba berhenti.


Anak itu berdiri memandangi kuburan mamanya dengan ekspresi yang pelan-pelan semakin dingin.

__ADS_1


"Buat apa?" bisik dia nyaris tak terdengar.


Tapi Rahadyan dengar dan paham maksudnya.


Kuburan itu, tidak seperti terakhir kali, tanahnya telah dirawat. Rumput bahkan sudah tumbuh dengan baik di atasnya, sementara sekitaran diberi pelindung.


Bagian namanya yang kemarin cuma ditancapkan dengan papan sekarang telah berganti menjadi marmer.


Itu semua atas perintah Rahadyan.


"Enggak ada salahnya ngerawat kuburan Mamamu. Jadi Papa—"


"Berisik."


Rahadyan tertegun.


Matanya nanar menatap Kalista yang tiba-tiba menunduk, menggertak giginya seolah tengah menahan marah.


Tangan Kalista terkepal kuat dan entah kenapa kemarahannya perlahan-lahan berubah jadi kebencian.


"Hah!" Kalista menghela napas kasar sebelum tiba-tiba tertawa kecil. "Pasti rasanya enak kalo semua hal dimudahin sama uang."


"Kalista—"


"Om enggak punya dosa biarpun Om ninggalin perempuan hamil anak Om, karena Om kaya. Ya, ya, ya, Om enggak tau. Enggak tau sama sekali. Emang Mama yang salah. Dasar gundik enggak tau diri."

__ADS_1


Mulut Rahadyan terkatup tanpa bisa bersuara.


*


__ADS_2