
"Hei, it's me."
Rahadyan tidak bergerak sekalipun mendengar Laura masuk ke kamarnya setelah mengetuk dua kali. Perempuan itu duduk di tepi kasur Rahadyan, duduk memandangi punggungnya yang kini malah sibuk bermain game.
Layar raksasa yang menampilkan situasi game itu seperti menggambarkan situasi hati Rahadyan juga. Kacau. Penuh keributan. Hanya berisi keinginan mengacak-acak segalanya sambil berharap dia menang (merasa lebih baik).
Laura tidak banyak bicara. Cuma membiarkan Rahadyan bermain sampai dia benar-benar puas. Mungkin itu memakan waktu lebih dari dua jam, karena Laura merasa bokongnya sudah panas duduk sampai Rahadyan akhirnya berbalik.
"I just wanna make her smile." Rahadyan bercerita tanpa diminta. "You know, I don't know why, I don't even care about why. Why I do love her so much? Tell me why?"
Laura menipiskan bibirnya. "Well, maybe 'cause she's your kid?"
"Kid? She's my everything, Laura, everything. I love her before I love myself, can you believe that?"
"Terus kenapa lo malah nyuruh dia pergi?"
"Karena dia enggak suka di sini!" Tanpa sadar Rahadyan meninggikan suaranya. Tapi, setelah itu dia tersadar dan menutup wajahnya dengan tangan.
Rahadyan tak bisa menyembunyikan gemetar di badannya. Tanpa suara, tanpa ringisan dan hanya dalam getaran samar, pria itu menangis.
__ADS_1
"Dari awal dia enggak suka di sini," guman Rahadyan sambil menyeka air matanya. "Dari pertama dia enggak mau di sini. Tapi gue maksain, just because I think she will change her mind. She will try to accept it, accept me."
"So, menurut lo, biarin dia hidup di luar itu keputusan yang lebih baik?"
"Apa yang kurang? Dia tetep punya gue. Dia mau tinggal di mana itu pilihan dia. Dia enggak perlu mikirin soal biaya atau apa pun. Ada gue."
Cuma, biarkan dia pergi karena sepertinya dia sangat tidak menyukai Rahadyan ada di hidupnya. Bertanggung jawab juga bisa dilakukan tanpa mengawasi dari dekat. Selama ada Agas, Kalista akan aman.
Lagipula, sekalipun Agas dingin padanya, Kalista bahkan lebih menyukai Agas daripada Rahadyan. Kalista pasti akan menikmati hidupnya yang tanpa Rahadyan.
"Gue enggak ngerasa lo ngambil keputusan bener, Rahadyan." Laura menepuk bahunya. "But she's yours so it's all up to you."
*
Pelan-pelan, justru menyusup rasa bersalah. Penyesalan sudah menyuruh anaknya pergi, berteriak terlalu keras pada Mama, lalu bertingkah seperti badjingan yang tidak mau repot lagi mengurus keluarga.
Hah, apa sebenarnya yang ia lakukan?
Padahal Rahadyan tahu Kalista itu memang sedang di usianya tidak waras.
__ADS_1
Dulu Rahadyan juga sama. Walau Raynar tidak separah Rahadyan di usia itu, tidak pernah memberontak pada Mama apalagi melakukan hal yang membuat Mama atau Papa luar biasa kecewa, tapi Rahadyan pernah.
Tidak semua anak itu bisa langsung tahu diri pada orang tuanya. Raynar adalah anak yang tahu diri sedangkan Rahadyan bukan.
Dan Kalista sama seperti Rahadyan.
Jadi Rahadyan tahu perasaan Kalista. Anak itu tidak mau memikirkan sesuatu yang membosankan seperti Rahadyan bakal sedih atau dia bakal kehilangan keluarganya.
"Bu."
Sebelum Rahadyan sadar, ia malah sudah menelepon Bu Direktur. Sejauh ini, cuma Bu Direktur yang bisa sedikit memahami Kalista, bahkan lebih dari Rahadyan.
"Rahadyan." Suara Bu Direktur terdengar ke sepenjuru kamar Rahadyan. "Kalista enggak masuk hari ini. Kenapa?"
"Dia lagi marah."
"Hah?"
"Saya nyuruh dia pergi." Rahadyan menutup wajahnya sendiri walaupun tidak ada yang bisa melihat perasaan bersalah di sana. "Saya enggak tau lagi mesti gimana, Bu."
__ADS_1
".... Bisa ketemu saya sekarang?" ucap Bu Direktur tiba-tiba.
*