My Naughty Uncle

My Naughty Uncle
Serangan Jimmy


__ADS_3

"Katakan di mana istriku?!" Jimmy menghampiri Nick kemudian meletakkan senjata yang ia pegang tepat di antara kedua kening sahabat lamanya itu.


"Istrimu tidak ada di sini, Jimmy. Mereka membawanya ke Villa," jawab Nick dengan santainya.


"Apa?! Villa?!" pekik Jimmy sambil menautkan kedua alisnya.


"Ya, Villa milik Tuan Harold," sahut Nick.


Jimmy terdiam sejenak sambil memperhatikan wajah Nick dengan seksama. Namun, senjata yang ia pegang masih terarah ke kepala Nick. Setelah beberapa saat, Jimmy pun yakin bahwa Nick tidak sedang berbohong.


Jimmy menarik kembali senjatanya, kemudian menyimpannya. Ia berbalik tanpa bicara sepatah katapun kemudian meninggalkan Nick di tempat itu sendirian.


"Jimmy, boleh aku ikut!" teriak Nick.


"Tidak!" tegas Jimmy.


"Ah, jangan begitulah!"


Nick berlari kecil dan menyusul Jimmy yang sedang berjalan keluar dari tempat itu. Setibanya di depan mobil milik Jimmy, Nick segera masuk dan duduk di samping lelaki itu tanpa peduli diizinkan atau pun tidak.


Di Villa milik Harold.


"Terima kasih atas makanannya, Tuan Harold. Terima kasih pula atas layanannya yang sangat memuaskan ini," ucap Ze sambil melemparkan senyumnya kepada beberapa anak buah Tuan Harold yang sedang berdiri di belakangnya dengan wajah kesal.


"Sama-sama, Nona Ze." Tuan Harold melirik beberapa orang anak buahnya yang tampak menggemaskan dengan tampilan baru mereka. Ya, walaupun terlihat jelas di wajah para lelaki itu bahwa mereka tengah kesal.

__ADS_1


Ze tampak kelelahan karena perjalanan yang mereka lalui menuju Villa milik Tuan Harold lumayan jauh dan cukup melelahkan. Tuan Harold menyadari akan hal itu kemudian meminta salah satu anak buahnya untuk menyiapkan satu buah kamar khusus untuk Ze.


"Tidak usah repot-repot, Tuan Harold. Aku bisa beristirahat di sini saja," jawab Ze yakin.


"Tidak apa, Nona Ze. Sebaiknya kamu istirahat saja. Bukankah saat ini kamu sedang hamil dan orang hamil tidak boleh lelah. Aku tidak ingin terjadi sesuatu kepadamu apalagi kepada bayimu. Bisa-bisa Jimmy tidak akan pernah memaafkan aku jika itu terjadi," tutur Tuan Harold.


Tuan Harold tetap meminta anak buahnya menyiapkan sebuah kamar untuk Ze beristirahat. Beberapa dari mereka bergegas mempersiapkan kamar tersebut dan setelah kamar itu siap digunakan, mereka pun kembali dan meminta Ze untuk mengikuti mereka.


"Ini kamar Anda, Nona. Selamat beristirahat," ucap lelaki yang mengantarkannya, ketika mereka tiba di depan kamar tersebut.


"Terima kasih," jawab Ze.


Ze masuk ke dalam ruangan itu sambil memperhatikan sekelilingnya. Ia menghampiri jendela kamar dan menikmati keindahan pemandangan di tempat itu. Lautnya yang biru dengan pasir putih yang belum terjamah sama sekali. Deburan ombak yang terdengar jelas hingga ke telinga Ze dan ia sangat menikmatinya.


"Tuan Harold memang keren. Membangun sebuah Villa di tempat seindah ini. Siapapun akan takjub saat melihatnya, termasuk aku," gumam Ze.


Setelah beberapa saat, Ze pun terlelap. Beberapa menit setelah Ze masuk ke alam tidurnya, Jimmy tiba di tempat itu bersama Nick yang tadi ikut bersamanya.


"Jimmy, tidak usah gegabah! Istrimu baik-baik saja, percayalah padaku!" ucap Nick sembari berlari kecil mengikuti Jimmy yang melangkah dengan cepat memasuki ruangan itu.


Jimmy tidak menghiraukan ucapan Nick. Ia terus melangkah hingga akhirnya ia bertemu dengan beberapa orang anak buah Tuan Harold. Para lelaki berwajah sangar itu tampak bahagia melihat kedatangan Jimmy. Namun, sayang hal itu tidak membuat Jimmy ikut bahagia.


Ia sudah tidak bisa menahan amarahnya kemudian menyerang para lelaki sangar tersebut. Mereka yang merasa kesakitan akibat serangan Jimmy, terpaksa melawan dan terjadilah perkelahian di sana.


Nick hanya bisa menggelengkan kepalanya dan membiarkan mereka berkelahi di sana. "Dasar orang-orang bodoh!" gumam Nick.

__ADS_1


Setelah beberapa menit berikutnya, perkelahian itu dimenangkan oleh Jimmy sedangkan yang para lelaki sangar itu terjengkang di lantai sambil meringis menahan sakit.


"Hei, Jimmy! Sudahlah," ucap Nick lagi ketika Jimmy kembali memasuki ruangan lainnya mencari keberadaan Ze sambil menghajar siapa saja yang ia temui.


Sementara itu.


Tiga orang laki-laki sangar yang tadi melayani Ze, tidak tahu bahwa di luar sedang terjadi keributan. Mereka sedang menertawakan penampilan mereka satu sama lainnya.


"Lihatlah aku, aku adalah inem seksi. Mau apa, Tuan? Teh, kopi atau su-su ...." desis salah seorang dari mereka sambil bergaya dengan centilnya.


Dua yang lainnya terbahak melihat kelakuan lelaki itu. Ya, akibat permintaan aneh Sang Bumil yang bersedia makan asalkan mereka bertiga mengganti pakaian dengan seragam para pelayan. Lengkap dengan dress, celemek serta penghias kepala.


"Memang dasar itu Bumil! Puas sekali ia mengerjai kita hari ini!" gerutunya.


"Aku heran, bagaimana Jimmy menghadapi wanita itu," ucapnya.


"Sama aku juga," timpal yang lainnya.


Tepat di saat itu, Jimmy tiba di sana dan ia sempat terpelongo melihat penampilan mantan teman-temannya itu.


"Astaga, itu Jimmy!" ucap mereka sambil menahan malu.


Sedangkan Nick yang sejak tadi mengekor di belakang Jimmy, tergelak saat menatap ketiga lelaki yang tampak konyol tersebut.


"Ya Tuhan! Ada apa dengan kalian?!" pekik Nick di sela gelak tawanya.

__ADS_1


"Tertawalah, Nick! Ini semua ulah istri lelaki itu," jawab mereka dengan kesal.


...***...


__ADS_2