
Lelaki jahat itu menoleh ke arah asal suara sembari melepaskan pegangannya di tas milik Ze. Perlahan lelaki itu berjalan ke arah seseorang yang baru saja berteriak kepadanya.
"Jangan ikut campur!" kesal lelaki jahat itu sembari menyerang orang tersebut dengan menggunakan pisau lipat yang sejak tadi ada di tangannya.
Terjadilah perkelahian di tempat itu. Ze memeluk tasnya kemudian memperhatikan perkelahian kedua lelaki tersebut dengan seksama. Namun, sepertinya perkelahian yang terjadi di hadapan Ze tampak tidak seimbang, lelaki jahat itu harus menghadapi seorang lelaki yang ukuran tububnya jauh lebih besar.
Bukan hanya itu, lelaki bertubuh besar itu pun ternyata menguasai ilmu beladiri yang sangat bagus. Beberapa kali lelaki jahat itu mencoba menyerang dengan menggunakan pisau lipat tersebut, tetapi selalu saja gagal. Malah sebaliknya, lelaki jahat itu sudah beberapa kali kena bogem mentah dan membuatnya babak belur.
"Ampun, Boss! Ampun," lirih lelaki jahat itu sambil bertekuk lutut di hadapan lelaki bertubuh besar tersebut.
"Bass, boss, bass, boss! Memangnya gue Boss lu!" kesal lelaki bertubuh besar sembari merapikan kemejanya.
Setelah lelaki jahat itu K.O barulah orang-orang berdatangan dan menghampiri mereka. Bahkan para security restoran tersebut baru menyadari bahwa ada kejadian tidak menyenangkan di depan restoran mereka setelah melihat orang-orang berkerumun.
"Amankan lelaki ini sebelum para polisi datang menjemputnya," titah lelaki bertubuh besar itu kepada para security restoran.
"Siap!" sahut mereka.
Lelaki itu menghampiri Ze yang masih terpelongo sambil memeluk tas serta buket bunga mawar pemberian Evan. Mata Ze terbelalak setelah sadar siapa yang kini berdiri di hadapannya.
"Anda?!" pekik Ze sambil tersenyum kecut, menatap lelaki dewasa berwajah menawan tetapi menyebalkan tersebut.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan malam-malam begini di pinggir jalan? Jangan bilang kamu--" Belum habis lelaki itu bicara, Ze sudah menyela ucapannya dengan wajah menekuk.
"Ish, aku gadis baik-baik, Om. Bukan seperti yang Om pikir, ya!" sela Ze dengan kesal.
"Memangnya apa yang kamu pikirkan? Aku bahkan belum selesai bicara dan kamu sudah memotong ucapanku. Sini, ikut aku!" Lelaki itu meraih tangan Ze kemudian menuntunnya hingga ke sebuah motor sport yang sedang terparkir di pinggir jalan.
Ze ingin protes, tetapi lelaki itu sudah menariknya dari kerumunan dan kini mereka berdiri tepat di samping motor milik lelaki dewasa tersebut.
"Mau kuantar?" tanya lelaki itu dengan wajah serius menatap Ze.
Ze tampak menimbang-nimbang dan kemudian memperhatikan jalanan saat itu. Sedangkan lelaki dewasa itu masih memperhatikan sambil menunggu jawaban darinya. Akhirnya Ze menganggukkan kepalanya, ia tidak punya pilihan lain.
"Beneran ya, Om. Anterin Ze sampe rumah," lirih Ze.
Lelaki itu memberikan sebuah helm kepada Ze dan Ze pun segera mengenakannya. "Naiklah," titah lelaki itu seraya melirik Ze.
Perlahan Ze menaiki motor sport tersebut dengan berpegangan di pundak lelaki itu. Setelah Ze duduk dengan nyaman di belakangnya, tiba-tiba saja ia kembali berucap.
"Pegangan yang erat. Aku takut kamu jatuh tetapi aku tidak menyadarinya, 'kan gawat!" celetuk lelaki itu sambil terkekeh pelan.
"Astaga, Om?! Memangnya tubuhku seringan kapas hingga di saat aku jatuh, Om sampai tidak menyadarinya," sahut Ze dengan kesal.
__ADS_1
Lelaki itu kembali tertawa setelah mendengar ucapan Ze dan kemudian mulai menghidupkan mesin motornya. Walaupun kesal setingkat kecamatan, tetapi Ze tetap menuruti apa kata lelaki itu. Ze berpegang erat di pinggangnya dan mereka pun mulai melaju memecah keramai kota.
"Namamu siapa, sih?" tanya lelaki itu sembari melajukan motor sport miliknya menuju kediaman Ze.
"Zea. Om bisa panggil aku, Ze. Kalau Om?" balas Ze sambil mendekatkan wajahnya ke samping wajah lelaki itu agar bisa mendengar suaranya dengan jelas.
"Jimmy," sahut lelaki itu.
Tidak berselang lama, mereka pun tiba di depan komplek dan Ze meminta Jimmy untuk berhenti di sana.
"Di mana rumahmu?" tanya Jimmy.
"Sudah dekat kok, Om. Terima kasih karena sudah menolongku," ucap Ze sembari menyerahkan buket bunga mawar pemberian Evan kepada Jimmy.
Jimmy tersenyum tipis sambil memperhatikan buket bunga yang berada di hadapannya. "Apa ini?"
"Untuk Om, sebagai ucapan terima kasihku," sahut Ze.
Jimmy menggaruk kepalanya yang tidak gatal kemudian meraih buket bunga tersebut. Walaupun ia bingung untuk apa bunga itu, tetapi ia tetap menerimanya agar Ze tidak kecewa. "Terima kasih."
Ze tersenyum kecil sembari melangkah pergi dan sebelumnya gadis itu sempat melambaikan tangannya kepada Jimmy. Lelaki dewasa itu masih terdiam di muka komplek sambil memperhatikan Ze hingga gadis itu hilang dari pandangannya.
__ADS_1
...***...