
Tidak lama setelah Ze dan Jimmy tiba di Rumah Sakit bersalin tersebut, Bu Lidya dan Tuan Harold juga tiba di sana bersama Nick dan beberapa orang anak buahnya untuk berjaga-jaga. Berjaga-jaga jika seandainya Jimmy tiba-tiba mengamuk dan membuat onar di tempat itu.
Para Dokter dan Perawat yang bertugas di hari itu tidak bisa berkutik. Mereka pasrah dan membiarkan Rumah Sakit tersebut terlihat seperti sarang segerombolan mafia.
"Bagaimana kondisimu, Nak?!" tanya Bu Lidya yang baru saja masuk ke dalam ruangan Ze.
"Beginilah, Bu. Kata Dokter masih bukaan satu dan kemungkinan aku akan melahirkan nanti siang atau sore hari," jawab Ze dengan tenangnya. Berbeda dengan Sang Suami yang tampak grasak-grusuk dan tidak tenang.
"Semoga semuanya berjalan dengan lancar tanpa hambatan apapun," ucap Bu Lidya. Walaupun Bu Lidya berusaha tenang, tetapi tetap sama. Ia tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya. Ia sangat khawatir karena anak semata wayangnya akan bertaruh nyawa hari ini untuk melahirkan cucu pertamanya.
"Amin, Bu."
Ze melirik Jimmy yang duduk di sofa di ruangan itu dengan wajah memucat dan keringat dingin yang terus mengucur dari berbagai sudut di tubuhnya.
"Lihatlah Mas Jimmy!" ucap Ze kepada Bu Lidya.
Bu Lidya pun melirik lelaki itu sebentar kemudian kembali fokus kepada Ze. "Wajar lah, Sayang. Dia pasti sangat khawatir karena istri yang paling dia cintai akan bertaruh nyawa demi buah hatinya hari ini," jawab Bu Lidya.
"Iya sih, tapi tidak segitunya juga, Bu. Makanya selama ini aku tidak pernah mengajak Mas Jimmy saat mengontrol kandungan. Aku selalu pergi bersama Mei atau Mommy. Jika pergi bersama dia, eh tiba-tiba Dokter melakukan cek HB, bisa-bisa dia pingsan atau yang lebih parahnya lagi Dokter itu yang akan jatuh pingsan," tuturZe sambil memutarkan bola matanya.
Bu Lidya terkekeh pelan. "Ternyata Jimmy lucu juga, ya."
__ADS_1
Jarum jam terus berputar dan tidak terasa hari pun sudah mulai siang. Sakit yang Ze rasakan di perutnya menjadi lebih sering dan teratur. hampir dalam lima menit sekali ia diserang rasa sakit tersebut. Sakit yang amat sangat, yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
"Ya, Tuhan!" pekik Ze sambil berpegangan pada dinding ruangan.
"Bagaimana, Ze? Sebaiknya kamu berbaring saja, biar Ibu bantu memijit kaki atau punggungmu dengan pelan," ucap Bu Lidya yang sejak tadi pagi terus menemani Ze di ruangan itu.
"Tidak usah, Bu. Ze malah merasa semakin sakit ketika berbaring," jawabnya sembari melangkah bolak-balik di ruangan tersebut.
Sementara Dokter yang menangani Ze hari ini terus memantau dan sesekali mengecek kondisi Ze dan calon buah hatinya.
"Apa suami Anda tidak ingin ikut menyaksikan kelahiran Putra pertamanya, Nona Ze?" tanya Dokter sambil tersenyum hangat.
Dokter terkekeh pelan. Wanita itu tahu benar apa yang dimaksud oleh Ze. Sebab Ze sudah sering menceritakan pada Dokter tersebut bahwa suaminya phobia akut terhadap apapun yang berbau-bau medis.
Sementara itu di ruangan lain, Jimmy sudah diamankan oleh Tuan Harold, Nick dan beberapa temannya yang lain di sebuah ruangan yang letaknya tidak jauh dari ruangan bersalin.
Jimmy benar-benar kesal karena tidak bisa menemani Ze di saat-saat paling menegangkan ini. Namun, ia juga tidak ingin berada satu ruangan dengan para Dokter dan Perawat yang akan membantu persalinan Ze.
"Aku ingin ke sana untuk menemani Ze, tapi aku takut tidak bisa menahan emosiku," tutur Jimmy dengan wajah panik sambil mengintip dari balik pintu.
"Sudahlah, Jimmy. Duduklah yang tenang di sini bersama kami," jawab Nick sambil rebahan di salah satu tempat tidur pasien yang kosong.
__ADS_1
"Bagaimana jika kita merampok Bank, Jimmy? Sama seperti dulu. Siapa tahu dengan begitu kamu bisa lebih tenang? Lihatlah, aku bawa ini," sela salah satu temannya yang lain sambil memperlihatkan senjata api yang terselip di pinggangnya.
Bugkh!!
"Aw!" pekiknya.
Tiba-tiba sebuah bantal melayang tepat ke kepala lelaki itu. Bantal pasien yang sengaja di lempar oleh Tuan Harold karena kesal.
"Bukannya memberikan jalan keluar yang tepat, kamu malah mengajaknya yang tidak-tidak!" gerutu Tuan Harold. "Ini bukan saatnya untuk melakukan hal itu. Benar 'kan, Jimmy?!" lanjut Tuan Harold, seolah-olah manis dan bijak. Padahal ia pun sama, ia begitu merindukan sosok Jimmy yang dulu, beringas dan begitu ditakuti.
Jimmy masih mengintip dari balik kaca yang ada di pintu ruangan tersebut. Ia memperhatikan seorang perawat yang sedang membawa peralatan medis menuju kamar bersalin. Dan yang paling menonjol di penglihatan Jimmy saat itu adalah jarum suntik yang terlihat lebih mengerikan dari sebuah samurai asli dari Jepang.
"Astaga! Mereka akan menyuntik istriku! Mereka akan menyuntik istriku!" pekiknya sambil menggedor-gedor pintu.
Nick, Tuan Harold, dan teman-temannya hanya bisa menggelengkan kepala mereka. "Sudahlah Jimmy, mungkin itu yang terbaik untuk istrimu." Nick mencoba menghibur lelaki itu.
"Terbaik bagaimana? Bagaimana jika jarum suntik itu patah kemudian tertancap di bokong istriku?!" kesal Jimmy.
"Tidak mungkin, Jimmy! Karena istrimu jauh lebih pemberani dari dirimu. Dia berani menghadapi jarum suntik itu, tidak seperti kamu, penakut!" timpal yang lainnya.
...***...
__ADS_1