
"Tempat ini indah sekali ya, Bu Martha. Aku rasa siapapun akan betah tinggal di sini," kata Bu Lidya sambil memperhatikan ruangan demi ruangan yang ia lewati.
"Ah, aku enggak. Di sini sepi, bahkan tidak ada satupun warga yang tinggal di sini," jawab Bu Martha.
"Nyonya, apa yang dikatakan oleh Bu Lidya benar. Tempat ini sangat indah. Coba lihat lautan biru di depan sana, pasirnya yang putih, serta daratannya yang dipenuhi tanaman menghijau. Nanti bujuklah Tuan itu, siapa namanya, agar bersedia memberi sedikit lahannya kepada Tuan Jimmy. Biar nanti Tuan Jimmy bisa membuat tempat tinggal di sini. Jadi, pas liburan kita bisa pergi ke sini, 'kan?" bujuk Mei.
"Hhh, apaan sih? Memangnya kamu mau bertetanggaan dengan si Harold itu! Salah sedikit saja, kamu bisa di-dooorrr!" kesal Mommy Martha.
Mei terkekeh pelan sambil mengelayut di pundak Mommy Martha. "Hehe, iya. Gak jadi deh," jawabnya.
"Harold?" Tiba-tiba Bu Lidya teringat seseorang yang bernama Harold. Seorang laki-laki yang ia kenal beberapa puluh tahun yang lalu, ketika masih remaja.
Ketiga wanita pemberani itu terus melangkahkan kaki mereka menelusuri setiap ruangan dan Mommy Martha tampak bingung karena mereka tidak menemukan satu orang pun di sana.
"Aku heran, kemana semua orang? Apa mereka tidak berada di sini?!" gumam Mommy Martha.
"Tidak mungkin lah, Nyonya. Lah, kenapa pintu di depan dibiarkan terbuka? Ah, jangan-jangan mereka memang menjebak kita lagi," sahut Mei dengan wajah memucat kemudian memeluk lengan Mommy Martha.
"Hush! Kamu tenang saja, ada Jimmy yang akan menyelamatkan kita," jawab Mommy Martha dengan penuh keyakinan.
Akhirnya ketiga wanita itu tiba di ruang utama. Ternyata seluruh lelaki sangar itu berkumpul di sana bersama Tuan Harold, Jimmy dan Ze.
Mommy Martha yang tadinya begitu bersemangat ingin memberikan pelajaran kepada para mafia tersebut, malah mengurungkan niatnya. Nyalinya menciut tatkala melihat para lelaki bertubuh besar dengan wajah sangar yang sedang berkumpul di ruangan itu.
__ADS_1
Apa lagi Mei, wanita itu sangat ketakutan. Lututnya bahkan bergetar dan bersembunyi di balik punggung Mommy Martha saat para lelaki bertatto tersebut menatap mereka.
"Nyonya, seandainya tahu mereka semenakutkan ini, mungkin saya memilih untuk tidak ikut ke tempat ini," bisik Mei.
Mommy Martha tersenyum kecut. "Lah, katanya kamu berani. Hadapi mereka gih," sahut Mommy Martha dengan setengah berbisik pula.
"Ish, Nyonya. Saya masih ingin hidup," balas Mei.
Jika kedua wanita itu ketakutan, berbeda dengan Bu Lidya. Ia tidak gentar ketika melihat wajah sangar para lelaki itu. Bahkan dengan beraninya Bu Lidya membalas tatapan mereka satu persatu. Hingga akhirnya mata Bu Lidya tertuju pada sosok Tuan Harold yang kini juga sedang menatap dirinya dengan mata membulat.
"Li-Lidya? Benarkah itu kamu?!" ucap Tuan Harold dengan terbata-bata. Lelaki itu bangkit dari tempat duduknya kemudian berjalan dengan maksud menghampiri Bu Lidya.
"Harold? Kau ...."
Untuk beberapa saat ruangan itu mendadak hening. Semua orang terpaku ketika mengetahui bahwa Tuan Harold dan Bu Lidya ternyata saling kenal. Termasuk Jimmy dan Ze.
"Ya, aku pun tidak menyangka, Mas."
Mata Tuan Harold tampak berkaca-kaca saat itu. Namun, berbeda dengan Bu Lidya. Tampak rasa kesal yang terpancar dari kedua bola mata Bu Lidya saat itu. Bibirnya bahkan terlihat mencong kanan, mencong kiri karena saking kesalnya.
"Ohh! Jadi kamu yang sudah menculik Ze, ha?! Awas kamu Harold! Aku tidak akan pernah mengampunimu," pekik Bu Lidya dengan wajah memerah.
Bu Lidya yang sangat kesal segera menghampiri Tuan Harold dengan sebuah ranting yang ia temukan di halaman depan Villa barusan. Tanpa merasa takut sedikitpun, Bu Lidya menyerang lelaki itu dengan ranting tersebut.
__ADS_1
Plakk! Ranting itu mengenai celana formal milik Tuan Harold. Ia memukul lelaki itu sambil terus mengomel.
"Aw! Ampun, Lidya! Aku benar-benar tidak tahu bahwa Ze adalah putrimu," pekik Tuan Harold sambil berlari kecil, mencoba menyingkir dari amukan Bu Lidya.
Sedangkan para anak buahnya hanya diam sambil menikmati tontonan gratis nan langka tersebut. Kapan lagi bisa melihat Tuan Harold, lelaki yang begitu mereka segani ketakukan dan tidak berdaya seperti sekarang ini. Begitulah pikir mereka semua, termasuk Jimmy dan Nick.
"Wah, ternyata nyali Bu Lidya benar-benar bisa diacungi empat jempol, Nyonya. Nyonya sih tidak ada apa-apanya," gumam Mei.
"Ish, sialan tuh mulut! Bisa lebih manis sedikit, gak!" kesal Mommy Martha dengan mata membulat melirik Mei yang masih bersembunyi di balik punggungnya.
Plakkk!
Plakkk!
Plakkk!
Ranting itu terus saja meluncur ke kaki dan bokong Tuan Harold. Bahkan Bu Lidya tidak peduli dengan permintaan ampun lelaki paruh baya tersebut. Hingga akhirnya Ze pun turun tangan karena semua orang tampak menikmati tontonan gratis tersebut termasuk suaminya.
Ia menghampiri Bu Lidya yang terus mengejar Tuan Harold kemudian memeluk wanita itu. "Sudahlah, Bu. Tuan Harold tidak melakukan apapun kepadaku. Lihatlah aku, aku baik-baik saja, Bu. Malah sebaliknya, Tuan Harold itu sangat baik kepadaku," tutur Ze.
Bu Lidya menghentikan aksinya kemudian menatap Ze dengan seksama. Ternyata benar, anak perempuannya itu baik-baik saja. Sedikitpun tidak terlihat goresan di tubuhnya.
"Oh, syukurlah kalau kamu baik-baik saja, Nak! Ibu hampir saja mati berdiri ketika mendengar kamu diculik. Ini semua gara-gara lelaki itu," sahut Bu Lidya yang kemudian kembali menunjuk ke arah Tuan Harold dengan menggunakan ranting yang sekarang menjadi senjata andalannya.
__ADS_1
"Maafkan aku, Lidya! Aku benar-benar tidak tahu bahwa ternyata Ze adalah anak perempuanmu," tutur Tuan Harold dengan wajah memelas.
...***...