
"Oh ya, Daniel. Boleh aku bercerita sedikit tentang Ze," ucap Daniel dengan wajah kusut sekusut hati dan pikirannya saat ini.
"Ze? Siapa Ze?" tanya Daniel dengan alis berkerut menatap Evan.
Evan menekuk wajahnya ketika membalas tatapan Daniel saat itu. Ia sedikit kesal karena Daniel lupa akan nama gadis yang sudah menjadi korban taruhan mereka. Gadis yang kini menjadi istri dari pamannya akibat perbuatan jahil mereka.
"Ze, Daniel! Gadis yang sudah menjadi bahan taruhan kita, ck!" Evan berdecak kesal sembari membuang muka ke arah lain.
Daniel terbahak setelah mendengar penjelasan Evan barusan. "Ze, gadis cupu itu? Ya, ya, lalu kenapa? Jangan bilang kalau kamu benar-benar jatuh cinta sama gadis itu, ya!" celetuk Daniel yang masih terbahak di tempat tersebut.
Evan terdiam sejenak setelah mendengar perkataan Daniel. Ada kata-kata yang membuat hati Evan tersentil ketika Daniel mengatakannya.
Daniel menghentikan tawanya seketika ketika melihat ekspresi Evan yang terlihat menyedihkan. Lelaki itu memasang wajah heran kemudian kembali berucap. "Van? Apa yang aku katakan barusan itu benar?" tanya Daniel dengan ragu-ragu.
Evan menghembuskan napas berat kemudian menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa.
__ADS_1
"Aku tidak tahu bagaimana perasaanku saat ini, Daniel. Tapi, setelah Om Jimmy benar-benar menikahi Ze, entah mengapa aku merasa tidak rela. Aku kesal melihat kebersamaan mereka. Apa lagi Ze sudah mulai memanggil Om-ku dengan sebutan 'sayang' membuat kupingku panas ketika mendengarnya," tutur Evan sambil mengusap wajahnya kasar.
Daniel yang tadinya begitu serius mendengarkan perkataan sahabatnya itu, tiba-tiba terbahak dan tawanya yang menggelegar membuat Evan semakin kesal.
"Ah, kamu memang tidak bisa diajak bicara," kesal Evan yang mencoba bangkit dari posisi duduknya.
Namun, Daniel dengan cepat menghentikan Evan dan menarik tangan lelaki itu agar kembali duduk seperti sebelumnya.
"Ok, ok! Aku mencoba serius sekarang," ucap Daniel sembari menahan tawanya agar tidak kembali pecah.
Evan pun kembali ke posisinya semula sambil menatap Daniel dengan tatapan kesal.
"Ah, kamu! Bukannya memberikan solusi untuk permasalahanku, malah memberikan pertanyaan bodoh itu kepadaku," sahut Evan sambil memutarkan bola matanya.
"Tapi bisa jadi 'kan! Karena kamu membenci gadis itu, kamu tidak ingin dia menjadi bagian dari keluargamu. Apa lagi sekarang dia sudah menjadi istri dari om kamu sendiri," tutur Daniel yang kembali menyeruput kopi hitamnya yang masih tertinggal separuh.
__ADS_1
"Aku tidak pernah membenci Ze, Daniel. Bahkan selama sebulan aku menjalin hubungan dengan gadis itu, aku merasa nyaman-nyaman saja karena dia gadis yang baik dan bahkan ia tidak pernah meminta apapun padaku," sahut Evan dengan tatapan kosong menerawang.
Daniel mengerutkan alisnya. "Jangan bilang kamu benar-benar jatuh cinta pada gadis itu ya, Evan?! Jika itu benar maka kamu akan menyesali perbuatanmu sepanjang hidupmu," ucap Daniel dengan wajah serius menatap Evan.
"Ish, jangan menakuti aku dengan berkata seperti itu, Daniel! Masa iya aku jatuh cinta sama Ze? Ya, walau aku akui dia memang gadis yang manis," tutur Evan.
"Nah 'kan! Kamu saja mengakui kalau Ze itu manis! Tetapi, serius 'sih dia memang gadis yang manis. Apa jangan-jangan selama ini kamu memang menyukai gadis itu, tetapi kamu tidak pernah menyadarinya, bisa jadi 'kan?!" lanjut Daniel.
"Oh, my god! Daniel, kamu malah membuat pikiranku semakin mumet saja!" gerutu Evan sembari mengacak rambutnya yang sudah tersisir rapi.
Daniel malah terkekeh pelan melihat Evan yang semakin kebingungan. Evan melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya kemudian segera bangkit dari posisi duduknya.
"Sepertinya aku harus kembali, Daniel. Aku duluan, ya!" Evan mengulurkan tangannya kepada Daniel dan Daniel pun segera menyambutnya.
"Saranku ya, Van. Sebaiknya kamu keluar saja dari rumah Oma-mu. Kamu kaya, uang banyak, kamu bisa membeli sebuah rumah di kawasan perumahan elit dan hidup di sana dengan tenang tanpa melihat kemesraan Om Jimmy dan Ze," ucap Daniel sambil menggenggam erat tangan Evan.
__ADS_1
"Oma-ku tidak akan pernah setuju, Daniel. Seandainya Oma-ku setuju aku pergi dari rumah itu, mungkin sudah lama aku pergi dari sana. Lagi pula kenanganku di rumah itu sangat banyak dan sulit untuk dilupakan," tutur Evan.
...***...