My Naughty Uncle

My Naughty Uncle
Membuat Keputusan


__ADS_3

Setelah Nyonya Martha merasa yakin bahwa cucunya tersebut baik-baik saja, ia pun segera keluar dari kamar tersebut dan membiarkan Evan untuk beristirahat. Sepeninggal Nyonya Martha, Evan segera bangkit dari tempat tidurnya kemudian meraih ponsel yang ia letakkan di samping bantalnya.


Dengan wajah yang begitu serius, Evan tampak menekan-nekan layar ponselnya kemudian meletakkannya ke samping telinga. Cukup lama Evan menunggu panggilannya di angkat oleh seseorang di seberang sana. Hingga akhirnya terdengar jawaban di ponsel tersebut.


"Ya, Evan. Ada apa?"


"Daniel, gawat, gawat, gawat! Sepertinya Om Jimmy sudah mengetahui semuanya dan aku sarankan kamu dan Aldi untuk berhati-hati," tutur Evan dengan wajah cemas.


"Gila! Aku dan Aldi tidak ada hubungannya dengan Om Jimmy. Yang menjebak Om Jimmy 'kan kamu? Lagi pula dari mana Om Jimmy tahu masalah itu? Mungkin kah dari Leonard, tapi kita 'kan sudah memintanya untuk tidak memberitahu Om Jimmy?" pekik Daniel dengan mata membulat.


"Ya, aku yakin Om Jimmy sudah menemui Leonard dan mengancamnya hingga Leonard mau tidak mau harus berkata jujur. Ah pokoknya kamu harus berhati-hati, sebisa mungkin hindari dia. Jika kamu lihat Om Jimmy, segera saja pergi dan menjauh agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, seperti aku saat ini."


"Lho, memangnya kamu kenapa, Van?" tanya Daniel heran.


"Aku baru saja kena bogem mentah dari Om Jimmy. Seandainya Oma-ku tidak datang dan menolongku, mungkin saat ini aku sudah dijadikan ikan pepes olehnya," gerutu Evan sembari menyentuh hidungnya yang masih terasa sakit.

__ADS_1


Mendengar penuturan Evan, Daniel pun bergidik ngeri. Ia membayangkan bagaimana nasibnya di tangan lelaki itu nantinya. Keponakannya saja seperti itu, apalagi dirinya yang hanya orang lain.


"Sebenarnya Om-mu itu siapa, sih? Kok, ngeri begitu?" tanya Daniel.


"Ah, aku tidak berani bercerita. Pokoknya jangan berani berurusan dengan lelaki itu," sahut Evan.


"Lah, kalau kamu sudah tahu begitu kenapa juga kamu berani menjebaknya, Babang tamvan!" celetuk Daniel tidak habis pikir.


"Ya, pada awalnya 'kan aku cuma iseng. Dan aku tidak menyangka bahwa ternyata Om Jimmy akan semarah ini," sahut Evan dengan raut wajah penuh penyesalan.


Sementara para ketiga lelaki itu tengah ketakutan. Jimmy yang masih kesal, duduk di tepian tempat tidurnya sambil berpikir keras. Sekarang ia ragu untuk melanjutkan pernikahannya bersama Ze. Ya, karena ia sudah yakin bahwa di antara dirinya dan Ze memang tidak terjadi apa-apa pada malam tersebut.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apakah aku harus melajutkan rencana pernikahan ini walau tanpa dasar rasa cinta atau aku sudahi saja?" gumam Jimmy yang kemudian mengacak puncak kepalanya pelan.


Hampir semalaman penuh Jimmy tidak tidur. Ia terus memikirkan masalah pernikahannya dengan Ze. Lelaki itu sadar bahwa sebenarnya ia dan Ze sama-sama korban dari kejahilan ketiga lelaki tidak bertanggung jawab tersebut.

__ADS_1


Setelah berpikir keras sepanjang malam, akhirnya Jimmy mengambil sebuah keputusan yang sangat berat. Pagi ini Jimmy sudah terlihat sangat rapi. Lelaki itu sudah bersiap menuju suatu tempat, di mana mungkin dia akan membuat hati seseorang kecewa dengan keputusannya.


Dengan langkah cepat, Jimmy melangkahkan kakinya keluar dari kamar kemudian menelusuri ruangan demi ruangan yang ada di ruangan megah tersebut.


"Jimmy, mau kemana pagi-pagi begini? Kamu tidak sarapan dulu," tanya Nyonya Martha dengan wajah bingung menatap putra ke-duanya itu ketika mereka berpapasan.


"Ada yang harus aku lakukan, Mom. Aku akan sarapan di tempat kerja saja," jawabnya tanpa menoleh sedikitpun kepada Nyonya Martha.


Nyonya Martha hanya bisa geleng-geleng kepala sembari memperhatikan Jimmy yang terus menjauh dan menghilang dari balik pintu utama. Setibanya di depan, Jimmy segera memasuki mobilnya yang sudah dipersiapkan oleh salah satu pekerja di kediaman mewah orang tuanya tersebut.


Kini Jimmy melaju bersama mobilnya menuju kediaman seorang gadis. Gadis yang sudah terjerat dengan dirinya karena suatu kesalahan yang tidak pernah mereka lakukan.


"Ini gara-gara ketiga bocah sialan itu! Aku jadi kerepotan seperti ini. Mana sudah beberapa hari aku tidak pergi ke tempat Gym!" gerutunya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2