
Akhirnya Jimmy tiba di depan rumah sederhana milik Bu Lidya. Ia menghentikan mobilnya di pinggir jalan dan tidak masuk ke dalam pekarangan rumah wanita itu. Jimmy memperhatikan pintu depan rumah Bu Lidya dengan seksama tanpa membuka pintu atau pun kaca mobilnya.
Di samping rumah Bu Lidya ada beberapa orang Ibu-Ibu tengah duduk di teras depan rumah sambil berbincang. Entah apa yang mereka perbincangan, yang pasti saat itu wajah mereka terlihat sangat serius.
Kini tatapan Jimmy beralih ke arah Ibu-Ibu tersebut, tetapi mereka sama sekali tidak menyadari akan hal itu. Ada sesuatu yang membuat Jimmy penasaran dengan apa yang tengah mereka bicarakan.
Tatapan mereka yang terus tertuju ke rumah sederhana milik Bu Lidya membuat Jimmy yakin bahwa mereka tengah memperbincangkan masalah Bu Lidya atau pun Ze.
Jimmy mencoba memasang telinganya dengan baik dan ternyata perkiraannya tidak salah. Para Ibu-Ibu tersebut tengah membicarakan aib Ze dan hal itu membuat Jimmy sedikit meradang setelah mendengarnya.
"Nah, tuh dia orangnya! Ibu dan anak sama saja, sama-sama tidak punya urat malu. Sudah kedapatan oleh Pak Polisi di hotel bersama seorang pria, bukannya dinikahkan, eh malah dibiarkan! Apa jangan-jangan kerjaan si Ze memang begitu? Ih, amit-amit! Perawan rasa janda, donk!" celetuk salah seorang Ibu sembari menunjuk ke arah pintu rumah Ze dengan menggunakan bibirnya yang sengaja dimonyongkan.
"Bisa jadi, Bu. Mana ada laki-laki yang mau menikahinya kalau memang kerjanya dia kayak begitu. Benar, 'kan?" sahut salah satu dari mereka menimpali.
Kebetulan saat itu Ze tengah bersiap menuju tempat kerjanya. Namun, baru beberapa langkah Ze menginjak kakinya di halaman depan rumah, gadis itu kembali lagi masuk ke dalam. Dompet gadis itu ketinggalan dan terpaksa Ze mengambilnya kembali ke dalam rumah.
__ADS_1
Jimmy membuang napas kesal. Ia benar-benar tidak habis pikir kenapa para tetangga sebelah rumah Bu Lidya bisa berpikiran seperti itu terhadap Ze. Dan tiba-tiba saja Jimmy teringat akan niatnya yang ingin membatalkan rencana pernikahannya bersama Ze.
"Ya, Tuhan! Jika aku membatalkan pernikahanku bersama Ze, entah apa yang akan terjadi pada gadis itu. Semua tetangganya pasti akan semakin menjelek-jelekkan Ze dan Bu Lidya," celetuknya dengan raut wajah sedih.
Jimmy kembali menatap ke arah depan rumah Bu Lidya dan tepat di saat itu Ze keluar dari rumahnya sambil tersenyum kecil. Jimmy refleks keluar dari mobilnya kemudian berjalan menghampiri Ze. Ze membulatkan matanya ketika melihat Jimmy tiba-tiba saja berada di hadapannya sambil tersenyum hangat.
"Om, ngapain pagi-pagi sudah berada di sini?" tanya Ze dengan wajah bingung.
Tiba-tiba saja Jimmy bersikap sangat manis. Ia merengkuh pundak Ze kemudian berucap. "Ze, ikutlah denganku. Hari ini akan kuperkenalkan dirimu dengan Mommy-ku. Aku yakin, Mommy pasti sangat senang bertemu denganmu. Ehm, soal surat-surat pernikahan kita sudah hampir selesai diurus. Tidak lama lagi kita akan sah menjadi suami-istri," ucap Jimmy dengan nada suara yang sengaja ia naikkan agar Ibu-Ibu yang duduk di teras sebelah rumah Ze mendengarnya.
"Om kenapa?" tanya Ze heran karena tidak ada angin dan tidak ada hujan, tiba-tiba saja Jimmy terlihat manis sekali. Ya, walaupun sebenarnya saat itu Ze merasa sedikit risih ketika Jimmy merengkuh pundaknya.
"Menyelematkan dirimu dari tetangga julid," sahut Jimmy dengan setengah berbisik.
Ze memperhatikan ke samping rumahnya dan benar, ternyata Ibu-Ibu di sana tengah memperhatikan dirinya dan Jimmy. Gadis itu tersenyum kemudian kembali mengalihkan pandangannya kepada Jimmy.
__ADS_1
"Memangnya mereka bilang apa?" tanya Ze.
"Sesuatu yang akan membuat kupingmu gatal," sahut Jimmy sembari menuntun Ze ke arah mobilnya dan Ze pun menurut saja.
Ze tertawa renyah dan hal itu membuat Jimmy menautkan kedua alisnya sambil membukakan pintu mobil untuk gadis itu.
"Sudahlah, Om. Jangan diambil hati. Mereka memang suka begitu dan aku sudah terbiasa dijulitin oleh mulut-mulut rempong mereka."
Setelah Ze masuk, Jimmy pun segera menyusulnya. "Mulut mereka benar-benar pedas dan bikin emosi jiwa," sahut Jimmy.
"Biarkan saja, Om. Ehm, ngomong-ngomong Om serius mau ngajakin aku ketemu sama Mommy-nya Om? Tapi, aku tidak bisa, Om. Aku harus kerja karena kalau hari ini aku bolos lagi, aku pasti akan dipecat," tutur Ze.
"Ya, aku serius dan soal pekerjaanmu, biarkan saja kamu dipecat. Lagi pula bukannya kita akan segera menikah? Dan setelah kita menikah, aku tidak akan mengizinkan kamu kembali bekerja," jawab Jimmy sembari melajukan mobilnya.
"Eh, enak saja!" protes Ze.
__ADS_1
...***...