
Karena Evan sudah bilang tidak bisa menjemputnya dengan alasan menyambut para tamu undangan, Evan meminta sopir pribadinya untuk menjemput Ze di depan komplek.
Ze pun menurut saja. Ia menunggu kedatangan sopir pribadi Evan yang akan membawanya ke hotel mewah, di mana pesta itu akan dilaksanakan. Tidak berselang lama setelah Ze berada di depan komplek, mobil yang dikemudikan oleh sopir pribadi Evan pun tiba dan berhenti tepat di hadapan Ze.
"Nona Zea Natasha?" tanya lelaki itu memastikan.
"Ya," jawab Ze.
"Masuklah, Tuan Evan sudah menunggu kedatangan Anda," ucap lelaki yang bekerja sebagai sopir pribadi Evan tersebut.
Sopir itu membukakan pintu mobil untuk Ze dan mempersilakannya untuk masuk ke dalam. Setelah Ze masuk kemudian duduk di dalam dengan tenang, lelaki itu pun segera melajukan mobilnya menuju hotel mewah tersebut.
Tak sepatah katapun terdengar di dalam mobil tersebut. Baik Ze maupun sopir pribadi Evan tidak ada yang ingin membuka percakapan, walaupun hanya untuk sekedar berbasa-basi. Ze lebih memilih bermain dengan ponselnya, sedangkan lelaki tersebut tetap fokus pada kemudinya.
Setelah beberapa saat, mobil itu pun berhenti tepat di halaman depan hotel mewah tersebut. Sopir pribadi Evan kembali membukakan pintu mobil untuk Ze dan Ze pun segera keluar kemudian menatap sekeliling bangunan megah tersebut.
__ADS_1
"Wah, hotelnya benar-benar besar, ya!" gumam Ze. Ze memang sering melewati hotel tersebut, tetapi baru kali ini dia menginjakkan kakinya di tempat penginapan terkenal di kalangan kelas atas tersebut.
"Mari, Nona!" ajak lelaki yang tadi menjemputnya agar Ze mengikutinya.
Ze pun mengangguk pelan kemudian mengikuti langkah lelaki itu menuju Ballroom di mana pesta tersebut berlangsung. Setibanya di depan ruangan tersebut, lelaki itu menahan langkah Ze kemudian berucap.
"Sebaiknya Anda tunguu sebentar di sini," ucapnya. Setelah Ze menganggukkan kepalanya tanda mengerti, lelaki itu pun bergegas menemui Evan yang sedang sibuk menyambut para tamunya.
"Tuan Evan, Nona Ze sudah tiba dan dia sedang menunggu di luar," ucap lelaki itu.
"Baiklah, aku akan segera menemuinya," sahut Evan sembari melangkahkan kakinya. Namun, sebelum ia tiba di tempat Ze yang menunggunya, Evan sempat menghentikan langkahnya di depan kedua sahabatnya yang ternyata juga sudah berkumpul di tempat tersebut.
"Ah, baiklah! Tapi aku mohon, t olong jaga mobilku dengan baik. Karena aku sangat menyayanginya," tutur Daniel yang tampak tidak ikhlas menyerahkan kunci mobilnya kepada Evan.
"Haha, kalau itu kamu tidak usah khawatir, Daniel. Aku akan merawatnya dengan baik, khusus buat kamu," jawab Evan sambil terkekeh mematap Daniel. Setelah berhasil mendapatkan kunci mobil Daniel, Evan pun kembali melangkahkan kakinya menuju tempat, di mana Ze sudah menunggu kedatangannya.
__ADS_1
"Ze," sapa Evan sembari memperhatikan penampilan Ze saat itu. Ia mengelus tengkuknya ketika sadar bahwa penampilan Ze benar-benar tidak cocok untuk pesta mewahnya. Namun, demi aksinya malam ini, ia pun mempersilakan Ze untuk ikut masuk ke pestanya.
"Evan," balas Ze sambil tersenyum semringah.
"Mari ikuti aku, Ze." Evan menuntun Ze memasuki Ballroom tersebut hingga Evan berhenti di sebuah meja kosong dan mempersilakan Ze untuk duduk dan menunggunya di sana.
"Tunggu sebentar di sini, ya! Aku ingin menyambut para tamuku," ucap Evan yang dibalas dengan anggukan oleh gadis itu.
Setelah Evan pergi, Ze duduk di kursi tersebut seorang diri sambil memperhatikan kemeriahan pesta tersebut. Pesta yang didominasi oleh orang-orang kelas atas. Bahkan pakaian mereka semuanya bermerek dan pastinya berharga sangat mahal.
"Butuh dua-tiga tahun gajiku untuk bisa membeli satu lembar pakaian seperti mereka," gumam Ze sambil tersenyum kecut.
Sambil menyambut tamunya, Evan terus memperhatikan gelagat kedua sahabatnya yang terlihat aneh. "Aku tidak akan terjebak di dalam permainan kalian, teman. Lihat saja," gumam Evan dalam hati.
"Bagaimana? Apa kamu sudah mempersiapkan semuanya?" tanya Aldi kepada Daniel yang sedang asik menikmati minumannya.
__ADS_1
"Kamu tenang saja, semuanya sudah siap." Daniel tersenyum sambil memicingkan matanya kepada Aldi.
...***...