My Naughty Uncle

My Naughty Uncle
Akhirnya


__ADS_3

"cepat, Dok! Sebaiknya lakukan sekarang," titah Nick lagi.


"Jangan, Sus! Jika kamu masih ingin bernapas hingga besok, sebaiknya jangan lakukan itu," ancam Jimmy sambil melototkan matanya menatap Perawat tersebut.


Perawat itu tampak bingung. Ia tidak tahu harus mengikuti perintah Nick atau Jimmy. Tepat di saat itu Tuan Harold menghampiri mereka.


"Sebaiknya berikan obat penenang untuk lelaki ini, Sus. Aku yang akan bertanggung jawab atas semuanya." Tuan Harold memerintahkan anak buahnya untuk memegang tubuh Jimmy, membantu Nick yang sudah tampak kewalahan.


"Ba-baik, Tuan!" Perawat itu pun segera mengambil obat penenang dan memasukkannya ke dalam sebuah alat suntik.


Melihat ujung jarum suntik yang tampak berkilau, kepala Jimmy seakan berputar hebat. Ia benar-benar kesal kepada Tuan Harold dan semua anak buahnya, termasuk Nick.


"Aku menyesal sudah membantumu menikahi Ibu mertuaku, Tuan Harold!" celetuk Jimmy yang tidak bisa menahan rasa kesalnya.


Tuan Harold membulatkan matanya dengan sempurna setelah mendengar ucapan lelaki itu. Ia menyentil kepala Jimmy dengan geram.


Pletak!


"Apa katamu tadi, ha?! Dasar bocah kurang ajar," kesal Tuan Harold. "Suster, kasih jarum yang paling besar! Kalau perlu jarum yang biasa digunakan untuk menyuntik gajah sekalian!" titahnya kepada Perawat tersebut.


"Baik, Tuan!" jawab Perawat itu.


"Apa?! Jangan! Jangan! Ampun," lirih Jimmy yang tampak pasrah dengan keadaannya sekarang. Jangankan membela diri atau berusaha kabur dari tempat itu, bergerak pun susah karena Nick dan teman-temannya sudah memegang dirinya dengan erat.

__ADS_1


Dengan gemetar, Perawat itu membawa suntikan yang sudah berisi obat penenang dengan dosis yang sesuai. Ia menghampiri tubuh Jimmy yang bergetar dengan hebat kemudian membuka sedikit celana lelaki itu.


"Tuan, jangan tegang! Kalau Tuan tegang, bisa-bisa jarumnya patah," ucap Perawat tersebut sambil menepuk-nepuk bokong montok Jimmy.


"Jangan sentuh bokongku, Suster! Kamu sudah melakukan pelecehan padaku," protes Jimmy karena Perawat itu sudah menyentuh bokongnya.


"Lalu bagaimana caranya saya bisa menyuntikkan obat ini jika bokong Anda mengeras seperti ini, Tuan?" sahut Perawat itu.


"Sudah, biarkan saja jarumnya patah, Sus. Yang penting obat itu sudah masuk ke dalam tubuhnya," jawab Nick dengan wajah meringis karena menahan tubuh besar Jimmy agar tidak melakukan perlawanan.


"Ya, Tuhan! Enak sekali kamu bilang seperti itu," kesal Jimmy.


Akhirnya Perawat itu berhasil menancapkan jarum suntik tersebut di saat Nick dan Jimmy asik berdebat. Setelah selesai menyuntikkan obat penenang tersebut, Perawat itu pun tersenyum lega.


"Sudah selesai, Tuan."


Sementara Ze dan Dokter masih berjuang mengeluarkan bayi mungil itu. Setelah jalan lahirnya melebar, Dokter pun dengan mudah meraih kepala bayi tersebut. Perlahan Dokter meraihnya dan menarik bayi itu keluar.


"Oek ... oek ... oek ...!"


Tiba-tiba terdengar suara tangisan seorang bayi dari dalam ruangan. Suaranya sangat nyaring dan terdengar sangat jelas di telinga Jimmy dan teman-temannya. Namun, sayangnya Jimmy sudah tidak berdaya. Obat penenang itu sudah bereaksi pada tubuhnya.


"Bayiku," lirihnya sambil tersenyum tipis hingga akhirnya ia benar-benar terpejam dan tak sadarkan diri.

__ADS_1


"Heh, Sus. Lelaki ini baik-baik saja, 'kan? Kira-kira kapan dia akan sadar?" tanya Nick yang ternyata mengkhawatirkan keadaan sahabatnya itu.


"Tenang saja, Tuan. Obat itu dosisnya ringan, tidak akan lama lagi Tuan Jimmy pasti akan sadar," jawab Perawat tersebut.


Dengan bergotong-royong, para lelaki bertubuh besar itu mengangkat tubuh Jimmy yang sudah tidak berdaya kemudian meletakkannya ke atas tempat tidur pasien.


Setelah bayi mungil itu selesai dibersikan, Bu Lidya dan Mommy Martha berebut ingin menggendongnya. Namun, Bu Lidya mengalah dan membiarkan Mommy Martha menggendong cucu laki-lakinya itu dengan wajah semringah.


Sementara itu Dokter masih melakukan tugasnya, membersihkan dan menjahit kembali jalan lahir bayi tersebut agar kembali seperti sedia kala.


Walaupun sudah diberikan obat bius, tetapi Ze masih bisa merasakan ketika jarum ditancapkan dan benang yang ditarik oleh Dokter tersebut di jalan lahirnya. Ya, pastinya tanpa merasakan rasa sakit.


"Huh, akhirnya!" ucap Bu Lidya yang kini menemani Ze dengan duduk di samping tempat tidurnya.


"Ya, Bu. Ze pun lega. Akhirnya persalinan penuh drama ini selesai juga."


"Maafkan menantuku ya, Dok," ucap Bu Lidya kepada Dokter tersebut.


Dokter itu tersenyum simpul sambil terus melakukan tugasnya. "Tidak masalah, Bu."


"Huh, Ibu tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Jimmy jika ia melihatmu seperti ini. Aku yakin dia pasti pingsan," celetuk Bu Lidya.


"Aku kapok, Bu. Nanti, jika aku diberikan kesempatan untuk hamil lagi dan melahirkan, sepertinya aku tidak akan memberitahunya. Atau aku akan memberikan Mas Jimmy obat penenang sebelum pergi ke Rumah Sakit," kesal Ze karena ia benar-benar merasa malu kepada Dokter dan para Perawat yang membantu persalinannya.

__ADS_1


Dokter dan Bu Lidya terkekeh mendengar penuturan Ze saat itu.


...***...


__ADS_2