My Naughty Uncle

My Naughty Uncle
Minuman Herbal


__ADS_3

"Aku baru saja dari dapur, mengambil minuman dingin." Ze berjalan menghampiri Jimmy dan kini berdiri di samping lelaki itu.


Tersungging sebuah senyum kebahagiaan di wajah tampan lelaki itu. Ia merengkuh pundak Ze dan mengajaknya berjalan bersama menuju halaman depan, di mana mobilnya sudah menunggu untuk dikemudikan


"Aku mendengar semua yang kalian bicarakan di dapur. Kamu dan Evan," ucap Jimmy.


Ze sontak terkejut. Ia menatap Jimmy yang sedang tersenyum dengan tatapan lurus ke depan. Lelaki itu bahkan tidak ingin melirik Ze sedikit pun. Ada rasa cemas menyelimuti hati Ze saat itu. Ia takut Jimmy salah paham atas pembicaraannya bersama Evan barusan.


"Apa kamu marah padaku?" tanya Ze cemas.


"Kenapa aku harus marah padamu?" Jimmy balik bertanya dan lelaki itu masih enggan menoleh kepada Ze. Ekspresi Jimmy saat itu membuat Ze merasa serba salah.


"Jika kamu tidak marah padaku, kenapa kamu tidak ingin melihat ke arahku?"


Akhirnya Jimmy menoleh kepada Ze sambil terkekeh pelan. Ia mengacak puncak kepala Ze dengan lembut kemudian berucap. "Aku tidak pernah marah padamu, Ze. Malah sebaliknya, aku sangat bahagia setelah mendengar jawabanmu atas pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh Evan."


"Serius?" tanya Ze sambil tersenyum semringah.


"Ya. Terima kasih, Ze," sahut Jimmy.


"Terima kasih untuk apa, Mas?"


"Terima kasih untuk semuanya. Terutama terima kasih karena sudah bersedia menjadi pasanganku. Ya, walaupun aku tahu bahwa kita sama-sama terpaksa dan tidak memiliki pilihan lain selain menerima pernikahan ini," tutur Jimmy sambil terkekeh pelan.


Ze pun ikut terkekeh. "Tapi, Mas Jimmy tidak menyesal 'kan sudah menikahi aku?"


"Kenapa aku harus menyesal? Malah sebaliknya, aku patut bersyukur karena aku mendapatkan seorang gadis perawan. Zaman sekarang, susah mencari yang benar-benar perawan ting-ting, Ze," jawab Jimmy.

__ADS_1


Ze mengerucutkan bibirnya. "Hhh, cuma itu saja yang ada di pikirannya," gerutu Ze.


"Ngomong-ngomong, sarang anacondaku sudah sembuh 'kan? Kira-kira kapan anacondaku bisa menjenguk sarangnya lagi?" ucap Jimmy sambil tersenyum nakal.


"Boleh, tapi menjenguknya satu kali saja, Tuan Anaconda! Aku tidak ingin kena demam lagi akibat bisa-mu yang meluber-luber itu," sahut Ze masih dengan bibir mengkerut.


Jimmy tergelak. "Ok, baiklah! Satu kali saja."


Kini mereka sudah tiba di halaman depan, tepatnya di depan mobil milik Jimmy. Jimmy masuk ke dalam mobil kemudian bersiap melaju menuju tempat kerjanya.


"Hati-hati di jalan ya, Mas." Ze melambaikan tangannya.


"Ya, dan jangan lupa minum obatmu, Ze. Nanti aku chat kamu untuk memastikan bahwa kamu sudah meminum obatmu," sahut Jimmy sembari melajukan mobilnya.


"Ya, tentu saja!" jawab Ze.


Ia menatap sendu kebersamaan Ze dan Om Jimmy yang membuat hatinya diselimuti rasa penyesalan yang mendalam. Setelah Ze masuk ke dalam rumah, Evan pun kembali ke kamarnya.


Ketika ingin menuju kamarnya, Ze berpapasan dengan Mommy Martha dan Mei yang ingin menuju ruang utama. Mommy Martha segera memanggil Ze dan meminta gadis itu untuk mengikutinya.


"Ze! Kemarilah, Sayang. Ada yang ingin Mommy bicarakan padamu," ucap Mommy sembari meraih tangan Ze dan membawanya duduk di sofa mewah yang ada di ruang utama.


Ze pun menurut saja dan mengikuti Mommy yang menuntun kemudian mendudukkannya di sofa tersebut. "Ada apa, Mom?" tanya Ze.


"Mei, tolong ambilkan minuman yang baru saja aku buat tadi," titah Mommy kepada Mei.


"Baik, Nyonya." Mei pun segera beranjak dan pergi meninggalkan ruangan itu.

__ADS_1


Mendengar kata 'minuman' membuat Ze sedikit cemas. Ia agak trauma dengan minuman yang diberikan oleh wanita paruh baya tersebut. Mengingat minuman terakhir yang diberikan oleh Mommy Martha membuat Ze lupa diri.


"Mi-minuman apa, Mom?" tanya Ze lagi dengan wajah cemas.


Mommy Martha tersenyum. "Kamu tidak usah khawatir, minuman yang akan Mommy berikan nanti tidak akan membuatmu demam. Percayalah pada Mommy."


Ze tersenyum kecut dan tidak ingin bertanya lagi. Tepat di saat itu Mei datang dengan membawa sebuah nampan berisi gelas. Mei tersenyum lebar menatap Ze kemudian meletakkan nampan tersebut ke atas meja.


"Nah, ini dia minumannya. Ini untukmu, Nak. Minumlah," ucap Mommy sembari menyerahkan minuman itu kepada Ze.


Ze menyambut minuman tersebut dengan wajah kusut. "Sebenarnya ini minuman apa, Mom?" tanya Ze lagi. Ia ragu meminum minuman itu, ia takut kejadian malam itu terulang lagi.


"Kamu tenang saja, Nak. Minuman ini aman, minuman ini tidak akan membuatmu melakukan hal yang aneh-aneh. Malah sebaliknya, minuman ini sangat baik untuk kesehatan kandunganmu. Minuman ini adalah minuman herbal yang merupakan resep dari nenek moyangnya Mommy. Mommy juga meminumnya dulu," tutur Mommy sambil mengelus pundak Ze dengan lembut.


Setelah mendengar penuturan Mommy, Ze pun percaya dan bersedia meminum minuman resep tradisional turun temurun dari nenek moyang Mommy tersebut.


Namun, baru saja Ze memasukkan minuman tersebut ke dalam mulutnya, tiba-tiba mata Ze terbelalak. Rasanya benar-benar membuat Ze tidak sanggup untuk meneguknya sampai habis.


"Teruskan, Ze! Habiskan!" ucap Mommy, sembari semangat untuk Ze agar menghabiskan minuman itu.


Mau tidak mau, Ze pun meneguknya sampai tetes terakhir sambil menetaskan air mata. "Memangnya khasiatnya untuk apa, Mom?"


"Biar kamu cepet hamil," jawab Mommy Martha singkat dan jelas.


"Dulu, sebelum Jimmy lahir. Mommy juga minum ini biar kandungan Mommy sehat dan secepatnya dikasih momongan lagi. Dan akhirnya tidak lama setelah itu Jimmy pun lahir," lanjut Mommy sambil tersenyum lebar menatap Ze yang masih memasang wajah masam. Ya, rasa sepet, kelet, asem dari minuman tersebut membuat ekspresi wajah Ze seketika menjadi masam.


...***...

__ADS_1


Maafin Author ya, hari ini Author lagi kenak badmood untuk mengetik. Mengetik dua bab ini saja butuh waktu seharian. 🙏🙏🙏


__ADS_2