My Naughty Uncle

My Naughty Uncle
Drama Sebuah Gunting


__ADS_3

Sementara Jimmy masih ditahan di ruangan itu, Ze sudah bersiap di atas tempat tidur pasien dengan posisi kaki yang mengangkang. Dokter masih memantau jalan lahir bayi mereka dengan sabar sambil sesekali memberi semangat kepada wanita itu.


Sedangkan di samping kiri dan kanan Ze, ada Bu Lidya dan Mommy Martha yang masih setia memberikan doa serta dukungan untuknya. "Kamu pasti bisa, Nak! Percayalah sama Ibu," ucap Bu Lidya sambil mengelus lembut puncak kepala Ze yang sudah penuh dengan keringat dingin.


"Sekarang, Nona Ze, dorong!" titah Dokter karena perut Ze kembali kontraksi.


Dengan sekuat tenaga, Ze mengejan dan mencoba mendorong bayinya agar cepat keluar.


"Ayo, Nona Ze! Semangat dorong! Kepalanya sudah keliatan," sambung Dokter, agar Ze semakin bersemangat mendorong bayinya.


Sementara itu di ruangan lain.


Jimmy terlihat seperti cacing kepanasan. Ia melangkah bolak-balik tak tentu arah dengan wajah cemas. Ia sangat mengkhawatirkan bagaimana kondisi Ze saat ini.


"Aku harus ke sana! Aku harus menyaksikan bagaimana perjuangan istriku," gumamnya. Namun, masih terdengar jelas di telinga orang-orang di dalam ruangan itu.


"Jangan, Jimmy! Kalau kamu berada di ruangan itu, nanti bayimu akan kembali masuk ke dalam rahim Ze karena merasa malu melihat reaksi Daddy-nya begitu memalukan," tutur Tuan Harold yang mulai panik setelah mendengar ucapan Jimmy barusan.


"Ya, Tuan Harold benar, Jimmy. Kamu hanya akan menyusahkan para Perawat yang ada di ruangan itu nantinya," sambung Nick yang juga ikut panik.


Namun, Jimmy tidak ingin mendengarkan pendapat para pria itu dan tetap kekeh pada pendiriannya. "Ah, tidak mungkin! Aku pasti bisa! Aku pasti bisa menahan emosiku," jawab Jimmy.

__ADS_1


Jimmy membuka pintu ruangan itu kemudian segera keluar. Melihat Jimmy keluar dari ruangan itu, Nick dan teman-temannya panik dan segera menyusul. Mereka tidak ingin Jimmy membuat onar dan mengacaukan kelahiran bayinya sendiri.


"Dasar keras kepala! Apa perlu aku minta perawat menyuntikkan obat penenang agar ia tidak merepotkan semua orang!" gerutu Nick sambil melangkah dengan cepat menyusul lelaki itu.


"Ya, kita lihat bagaimana reaksi lelaki lebay ini. Jika ia hanya membuat semua orang panik, sebaiknya kita minta seorang perawat untuk memberinya obat penenang," jawab Tuan Harold yang mengikuti Nick dari belakang dengan napas tersengal-sengal.


"Sebaiknya Anda menunggu di ruangan itu, Tuan Harold," ucap Nick karena kasihan melihat lelaki paruh baya itu kesusahan mengikuti langkah mereka. Selain karena faktor usia, perutnya yang buncit pun membuatnya cepat lelah.


"Tidak bisa! Aku sudah diberikan tugas oleh istriku untuk menjaga menantu kesayangannya itu," jawab lelaki paruh baya tersebut.


Kembali ke ruangan bersalin.


Naasnya Jimmy yang sudah tiba di ruangan itu mendengar apa yang diucapkan oleh Dokter tersebut. Lelaki itu sangat panik ketika mendengar bahwa sarang anacondanya akan digunting-gunting oleh Dokter tersebut.


"Apa?! Jangan macam-macam kamu, Dok! Bagaimana ceritanya itu-nya istriku harus digunting-gunting? Apa tidak ada cara lain selain itu? Mendengarnya saja, aku sudah merinding!" kesal Jimmy sembari menghampiri Dokter.


Walaupun nyalinya benar-benar diuji ketika memasuki ruangan itu, tetapi setelah mendengar kata gunting tersebut, Jimmy berusaha berani. Padahal saat itu lututnya saja bergetar hebat. Kakinya serasa berada di atas angin dan bulu-bulu halus yang tumbuh di seluruh tubuhnya berdiri semua.


"Jimmy!" pekik Bu Lidya dan Mommy Martha ketika Jimmy masuk dengan wajah panik setelah mendengar penuturan dari Dokter.


"Ah, ini Harold bagaimana!" celetuk Bu Lidya karena suaminya itu tidak berhasil mengamankan menantunya yang aneh itu.

__ADS_1


Sementara itu Dokter dengan sangat tenang mencoba menjelaskan bahwa ia pun terpaksa harus melakukan tindakan itu agar bayi mungil tersebut cepat keluar.


"Sekarang Anda bisa pilih, saya obok-obok jalan lahir bayi Anda atau saya gunting sedikit sisi-sisinya?" tutur Dokter itu sambil mengulurkan tangannya ke jalan lahir bayi untuk menakut-nakuti Jimmy.


"Sudahlah, Mas! Ikuti saja apa kata Dokter!" kesal Ze sambil menahan sakit. Saat ini Ze sudah tidak tahan lagi dan sekarang suaminya malah membuat jalan persalinannya menjadi kacau.


Tubuh Jimmy benar-benar lemas dan ia sudah tidak bisa menahan rasa takutnya lagi. "Baiklah," lirih nya.


Sementara Nick dan teman-temannya hanya bisa berdiri di ambang pintu karena salah satu perawat tidak mengizinkan mereka untuk masuk.


Dokter meraih sebuah gunting medis dan ...


Tek-tek-tek!


"Tidak! Pelan-pelan, Dok!" teriak Jimmy dengan wajah memucat. Sontak Nick menerobos masuk dan menarik sahabatnya itu keluar dari ruangan tersebut.


"Sus, sebaiknya berikan lelaki ini obat penenang kalau kalian ingin proses kelahiran ini berjalan mulus," titah Nick sambil memegangi tubuh besar Jimmy.


"Apa? Coba saja lakukan! Aku pastikan, hari ini adalah hari terakhir kamu bernapas, Nick!" kesal Jimmy sembari mencoba melepaskan pegangan Nick dari tubuhnya.


***

__ADS_1


__ADS_2