
"Ze?" Jimmy menyibak selimut yang menutupi tubuh Ze. Ze sempat menahannya, tetapi kekuatan Ze tidak sebanding dengan kekuatan lelaki itu. Jimmy tersenyum hangat setelah selimut yang menutupi tubuh Ze terbuka.
"Ayo, makanlah. Biar aku suapin," ucapnya lagi.
Mau tidak mau, Ze pun bangkit kemudian duduk sambil bersandar di sandaran tempat tidur dan menyantap makanan yang disodorkan oleh Jimmy kepadanya.
"Nasi gorengnya enak, 'kan?" tanya Jimmy kepada Ze karena saat itu ekspresi Ze tampak datar.
Ze menganggukkan kepalanya. "Ya, nasi gorengnya enak, kok. Coba aja Mas cicipin," sahut Ze.
Jimmy pun mencicipi nasi goreng tersebut dan apa yang dikatakan oleh Ze memang benar, nasi goreng itu enak. Setelah perbincangan singkat tersebut, suasana di ruangan itu pun kembali hangat. Ze tidak lagi tampak canggung seperti sebelumnya.
Sambil menyuapi Ze, Jimmy menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada mereka tadi malam. Ia juga menceritakan siapa yang menjadi dalang atas kejadian itu. Ze begitu terkejut setelah mengetahui hal itu dan ia benar-benar tidak menyangka bahwa Mommy dan Mei adalah tersangka utamanya.
"Kenapa Mommy melakukan itu?" tanya Ze sambil mengunyah makanannya.
"Benar, kamu ingin tahu?" tanya Jimmy sambil tersenyum.
"Ya, memangnya kenapa?" Ze balik bertanya.
__ADS_1
"Karena Mommy ingin kita secepatnya punya anak. Mommy ingin punya cucu lagi, Ze. Katanya Evan sudah terlalu tua dan tidak bisa ditimang-timang lagi," tutur Jimmy sambil terkekeh pelan.
"Ternyata apa yang diinginkan oleh Ibu sama seperti keinginan Mommy. Ibu pun sama, Ibu bilang bahwa dia sudah tidak sabar ingin menimang cucu pertamanya," jawab Ze sambil tersenyum simpul.
Beberapa saat kemudian, nasi goreng itu pun ludes disantap oleh Ze dan obat yang tadi sudah di sediakan oleh pelayan di atas nampan, sudah diminum oleh gadis itu.
"Sekarang beristirahatlah lagi, aku ingin mandi karena tubuhku sudah terasa lengket," ucap Jimmy sembari membantu Ze berbaring di atas tempat tidur kemudian menyelimutinya.
Tepat setelah Jimmy masuk ke dalam kamar mandi untuk melakukan ritual mandinya, Mommy Martha dan Mei masuk ke dalam kamar tersebut dengan wajah sendu. Kedua wanita itu duduk di samping tempat tidur Ze dan berniat meminta maaf kepadanya.
"Ze, maafkan Mommy, ya. Mommy yakin Jimmy pasti sudah menceritakan semuanya kepadamu," tutur Mommy Martha dengan raut wajah bersalah menatap Ze.
"Ya, Mommy janji, Sayang! Mommy tidak akan melakukannya lagi."
Dua hari kemudian.
Kondisi Ze sudah mulai membaik karena Jimmy selalu siaga dan tidak pernah lupa mengingatkan Ze jadwal minum obatnya.
Seperti saat ini, Ze sudah bisa berjalan-jalan di sekeliling rumah megah milik Mommy Martha. Setelah selesai berkeliling, tiba-tiba Ze merasa kehausan dan ingin mengambil minuman di dapur.
__ADS_1
Entah kenapa di saat Ze mengelilingi rumah megah tersebut, tak satu pun pelayan yang ia temui. Ze berjalan menuju dapur dan beberapa meter dari ruangan itu ia mendengar suara benda terjatuh.
"Ah, itu pasti pelayan yang sedang memasak," pikir Ze.
Ze mempercepat langkahnya karena kerongkongannya sudah terasa sangat kering. Ia sudah tidak sabar ingin meminum sesuatu yang bisa meredakan rasa hausnya, walaupun hanya segelas air putih.
Namun, ketika ia memasuki ruangan itu, bukan pelayan yang ia temui, melainkan Evan. Saat itu Evan terlihat sedang sibuk membuat kopi untuk dirinya sendiri. Ze dan Evan sempat saling tatap untuk sejenak dan setelah itu, mereka pun sama-sama membuang pandangan mereka ke arah lain.
Ze meraih sebotol minuman dingin yang ada di dalam lemari pendingin berukuran jumbo di ruangan tersebut kemudian duduk di kursi yang ada di ruangan itu dan meminum minuman tersebut.
Sementara itu Evan masih terlihat bingung, ia memperhatikan dua buah toples berisi gula dan garam dengan alis yang saling bertaut. Ketika Ze ingin beranjak dari ruangan tersebut, tiba-tiba Evan berbicara padanya. "Yang mana isinya gula? Aku bingung," ucap Evan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Cicipi saja, kamu akan tahu yang mana gula dan yang mana garam," jawab Ze singkat dan jelas.
Evan menganggukkan kepalanya pelan dan ia benar-benar merasa sangat bodoh saat itu. "Benar juga, ya. Kenapa tidak aku cicipi saja," gumamnya.
Ze ingin meneruskan langkahnya. Namun, lagi-lagi Evan memanggilnya. "Ehm, Ze! Bolehkah kita bicara sebentar?" tanya Evan dengan wajah yang masih terlihat pucat. Mungkin saat itu kondisi kesehatan Evan masih belum pulih.
"Apa?" Ze berbalik kemudian menatap lelaki itu.
__ADS_1
...***...