My Naughty Uncle

My Naughty Uncle
Evan Jatuh Pingsan 2


__ADS_3

"Cucu saya kenapa, Dok? Dia baik-baik saja, 'kan?" tanya Mommy Martha kepada Dokter yang baru saja selesai memeriksa kondisi Evan saat itu.


"Sudahlah, Oma. Aku baik-baik saja," lirih Evan yang kini sudah sadar dari pingsannya. Wajahnya terlihat memucat dan semakin kusut saja.


"Ish, kalau kamu baik-baik saja, kenapa kamu pingsan? Kamu bahkan tidak pernah pingsan sebelumnya," sahut Mommy Martha, masih dengan wajah cemas.


"Tuan Evan hanya kelelahan dan saya sarankan untuk beristirahat selama satu atau dua hari. Sepertinya beberapa hari ini Tuan Evan terlalu banyak pikiran, 'kan?" kata Dokter kepada Evan yang masih tergolek lemah di atas sofa, di ruang utama.


Evan terdiam sejenak sembari memperhatikan orang-orang di sekelilingnya. Hingga tatapannya terhenti pada pasangan Ze dan Jimmy yang juga masih berada di ruangan itu.


"Ya, belakangan ini saya memang punya banyak masalah, Dok. Dan saya sering melupakan waktu istirahat saya," tutur Evan.


"Masalah apa sih, Van? Coba ceritakan semuanya kepada Oma, siapa tahu Oma bisa membantu," tanya Mommy Martha kepada Evan sembari mengelus puncak kepalanya.


"Bukan apa-apa, Oma. Oma tidak usah khawatir, ini hanya soal pekerjaanku yang semakin menumpuk di kantor," jawabnya sambil memperhatikan ekspresi pasangan yang masih duduk di ruangan itu.


"Ze, sebaiknya kita kembali ke kamar," ajak Jimmy.


Ze pun menganggukkan kepalanya dengan perlahan. Setelah meminta izin kepada Mommy Martha, Ze dan Jimmy pun kembali ke kamar mereka.

__ADS_1


"Kamu beristirahat lah. Setelah mambantu Evan, aku akan segera berangkat ke gym," ucap Jimmy sambil melenggang menghampiri daun pintu.


"Ehm, baiklah. Tapi, aku ingin merapikan pakaianku terlebih dahulu, baru kemudian beristirahat. Ngomong-ngomong soal pakaian, aku ingin berterima kasih banyak kepadamu atas semuanya," sahut Ze tersenyum manis menatap Jimmy.


Jimmy membalas senyuman Ze dan mengacak puncak kepala gadis itu dengan lembut. "Sama-sama," jawabnya yang kemudian segara pergi meninggalkan Ze di kamar itu sendirian.


Jimmy kembali ke ruang utama di mana Dokter yang sedang memeriksa kondisi Evan sudah bersiap untuk pulang. Dokter tersebut menyerahkan sebuah resep obat ke tangan Mei dan kemudian ia pun segera pamit.


"Kamu ingin aku bantu ke kamar?" tanya Jimmy kepada Evan.


Evan menggelengkan kepalanya. Ia menolak bantuan Jimmy, tetapi Mommy Martha bersikeras meminta Jimmy membantu Evan untuk kembali ke kamarnya.


"Sebaiknya kamu istirahat saja, Evan. Dan satu hal lagi ...." Jimmy yang tadinya ingin pergi ruangan itu, kembali berbalik dan menatap Evan sambil tersenyum sinis.


"Ini pelajaran untukmu, Evan. Sejelek-jeleknya seseorang, ia tetap memiliki yang namanya perasaan. Jadi, tidak sepantasnya kamu mempermainkan perasaan seseorang hanya untuk kesenanganmu sendiri. Dan aku harap setelah ini kamu sadar akan kesalahan besar yang sudah kamu dan teman-temanmu lakukan," tutur Jimmy.


Evan bungkam. Mulutnya mendadak kaku dan tidak bisa digerakkan. Setelah Jimmy pergi dari ruangan itu, ia pun mulai memikirkan apa yang sudah dikatakan oleh pamannya tersebut.


"Apa yang dikatakan oleh Om Jimmy memang ada benarnya. Aku, Daniel dan Aldi memang keterlaluan. Demi kesenangan kami, kami sering melupakan bagaimana perasaan wanita-wanita yang sudah menjadi target taruhan kami," gumam Evan sambil menatap nyalang di langit-langit kamarnya.

__ADS_1


Sementara itu.


"Jimmy, bagaimana Evan?" tanya Mommy Martha ketika melihat Jimmy yang melangkah dengan cepat melewati ruang utama.


"Dia sudah beristirahat di kamarnya," jawab Jimmy.


"Syukurlah kalau begitu. Oh ya, malam ini kamu akan makan malam di sini, 'kan?" tanya Mommy lagi.


"Ya, Mom. Tentu saja, memangnya aku akan makan malam di mana lagi selain di sini?" sahut Jimmy dengan alis mengkerut menatap Sang Mommy.


"Ya, Mommy hanya memastikan saja. Biar nanti para pelayan Mommy suruh buatin makanan kesukaanmu," tutur Mommy Martha.


"Ya, terserah Mommy saja. Aku berangkat dulu ya, Mom."


"Ya, hati-hati di jalan ya, Jimmy!" sahut Mommy.


"Mei, kita toss dulu! Pokoknya malam ini kita tidak boleh gagal!" bisik Mommy Martha kepada Mei yang datang mendekat.


Mei ikut tersenyum licik sambil memperhatikan Jimmy yang sudah melaju bersama mobilnya menuju tempat gym.

__ADS_1


...***...


__ADS_2