My Naughty Uncle

My Naughty Uncle
Hukuman untuk Jimmy


__ADS_3

Dengan susah payah akhir Jimmy berhasil membujuk Ze pulang bersamanya. Padahal sebelumnya Ze bersikeras ingin pulang ke rumah Bu Lidya dan menginap di sana. Beruntung ia berhasil membujuk wanita itu, ya walaupun ekspresi wajah Ze saat itu masih membuat Jimmy harap-harap cemas.


Setibanya di rumah, Ze segera mandi kemudian berbaring di atas tempat tidur dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Jimmy yang sejak tadi diacuhkan oleh wanita itu, memberanikan diri menghampiri tempat tidur kemudian berjongkok di sana sambil mengelus tubuh Ze yang masih berada di dalam selimutnya.


"Ze, jangan acuhkan aku seperti itu. Rasanya benar-benar tidak enak, Ze. Jika kamu marah padaku, hukum saja aku seperti apapun yang kamu mau. Tapi jangan seperti ini," lirih Jimmy.


Ze yang masih kesal, membuka selimutnya. Ia bangkit kemudian bersandar di sandaran tempat tidur sambil menatap Jimmy dengan wajah menekuk. "Seperti apa contohnya?!"


Jimmy tersenyum tipis. Ia senang karena akhirnya Ze merespon ucapannya. Ya, walaupun sebenarnya wanita itu masih terlihat kesal. Namun, hal itu sudah membuat Jimmy cukup senang.


"Misal memberikan aku jatah 3 ronde malam ini?" sahut Jimmy sambil mengedipkan matanya kepada Ze.


Ze mendengus kesal. Ia meraih bantal milik Jimmy kemudian melemparkannya ke arah lelaki itu. "Asyem! Itu mah bukan hukuman, malah enak di kamu dong, Mas!" kesal Ze.


Jimmy terkekeh sembari menyambut bantal yang tadi hampir saja melayang ke wajahnya. Lelaki itu meletakkan kembali bantal tersebut ke samping tubuh Ze kemudian berucap lagi.


"Maafkan aku, aku hanya bercanda. Tapi serius, hukum saja aku sesuka hatimu. Kamu kesal karena tangan ini sudah berani menyentuh wanita itu, 'kan? Jadi, kenapa tidak pukul saja tangan yang nakal ini? Seperti ini contohnya," sambung Jimmy sambil memukul-mukul tangannya sendiri.

__ADS_1


"Ah, tidak lucu!" Ze membuang muka sambil mencebikkan bibirnya.


"Baiklah-baiklah, sekarang kamu ingin menghukumku seperti apa?" tanya Jimmy. Ia menghentikan aksinya kemudian menatap Ze dengan serius.


Ze membuka laci nakas yang berada di samping nakas. Ia meraih sebuah balsem miliknya kemudian menyerahkannya kepada Jimmy. Jimmy segera menyambutnya, tetapi ekspresi wajahnya terlihat heran.


"Untuk apa benda ini?" tanya Jimmy dengan alis yang saling bertaut. Jimmy punya firasat buruk tentang benda itu dan ia berharap apa yang ada di otaknya saat ini tidak sama seperti yang dipikirkan oleh Ze.


Ze kembali meraih bantal milik Jimmy dan menyerahkannya kepada lelaki itu. "Bawa bantal serta balsem itu bersamamu karena kamu sangat membutuhkannya, Tuan Jimmy. Sebagai hukumanmu, malam ini kamu harus meronda di luar dan kedua benda itu akan menjadi temanmu," jawab Ze sambil tersenyum sinis.


"Ampun, Nyonya Wiliam! Jangan seperti itu! Yang salah tanganku kenapa kamu tega menghukum seluruh tubuhku! Kasihani lah aku, kasihani lah anaconda berbisaku yang tidak bersalah ini," lirih Jimmy sambil memasang wajah menyedihkan, berharap Ze iba dan membatalkan hukumannya.


"Jangan begitu, Nyonya Wiliam! Aku mohon, jangan lakukan itu," lanjut Jimmy, masih dengan wajah memelasnya.


Ze menggelengkan kepalanya dan meminta lelaki itu untuk segera keluar dari kamarnya. Dengan wajah menekuk, Jimmy pun bangkit dari posisinya dengan membawa bantal serta balsem itu bersamanya.


Jimmy melangkah gontai dan baru beberapa langkah, ia kembali menoleh kepada Ze. "Sayang," lirihnya, berharap Ze membatalkan hukumannya tersebut.

__ADS_1


"No!" jawab Ze yakin sambil menggelengkan kepalanya.


Jimmy melanjutkan langkahnya lagi, tetapi baru beberapa langkah, Jimmy kembali menoleh kepada Ze. "Ze, ya?"


Lagi-lagi Ze menggelengkan kepalanya. "No!"


Dan untuk ketiga kalinya, Jimmy menoleh ke arah Ze sebelum ia meraih gagang pintu kamar. "Ze?" Namun, untuk ketiga kalinya juga Ze menggelengkan kepalanya.


"Ehm, sebentar! Aku masih bingung, untuk apa kamu menyerahkan benda ini kepadaku?" tanya Jimmy sambil memperlihatkan benda kecil berwarna hijau tersebut ke hadapannya. Beruntung tidak dikasih yang warna merah oleh Ze.


"Itu buat kerokan, Tuan Jimmy! Siapa tahu nanti kamu masuk angin, trus minta kerok saja sama penjaga keamanan di depan dengan balsem itu. Kalau mau digunakan sebagai pelumas juga tidak apa," jawab Ze dengan wajah seriusnya.


"Pelumas apaan?!" pekik Jimmy.


"Pelumas untuk anaconda berbisamu," jawab Ze sambil tertawa pelan.


"Dasar, senang sekali dia! Kalau anaconda-ku merajuk dan tidak mau bangun lagi, baru tahu rasa dia! Emang mau aku kasih terong tiap malam," umpat Jimmy dengan kesal. Ia menarik gagang pintu kemudian segera keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


...***...


__ADS_2