
Mommy Martha meminta Mei untuk memanggil Dokter yang sudah menjadi langganan keluarga besar mereka. Setelah mendapatkan tugas itu, Mei pun bergegas menghubungi Dokter tersebut dan memintanya untuk segera datang guna memeriksa kondisi Jimmy yang sedang sakit.
"Bagaimana, Mei? Apa Dokternya bersedia ke sini?" tanya Mommy dengan wajah cemas.
"Ya, Nyonya. Dokternya sedang di perjalanan menuju ke sini." Mei terkekeh pelan, mengingat Dokter itu pernah mengalami trauma kepada Jimmy. "Beruntung Dokternya tidak jera ya, Nyonya. Ya, walaupun ia sempat ragu, tetapi akhirnya ia menyetujuinya," tutur Mei.
"Ya. Kamu benar, Mei. itulah yang membuat aku cemas. Aku takut Dokter itu jera atas kejadian tidak menyenangkan waktu itu," sahut Mommy Martha sambil mengingat-ingat kejadian memalukan yang dilakukan Jimmy kepada Dokter tersebut.
Tidak berselang lama, Dokter yang dipanggil oleh Mei pun tiba di kediaman mereka. Mei yang memang menunggu kedatangan Dokter tersebut, segera menyambutnya kemudian menuntun lelaki itu menemui Mommy Martha yang sedang menunggu di ruang utama.
"Mari, Dok."
"Ya, terima kasih." Walaupun terlihat ragu, Dokter tersebut masih ingat akan tugasnya. Ia terus mengikuti langkah Mei yang berjalan di depannya hingga akhirnya mereka tiba di ruang utama.
Mommy Martha melemparkan senyuman hangatnya untuk Sang Dokter kemudian mempersilakannya untuk duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut bersama dirinya.
"Saya ucapkan terima kasih banyak karena Dokter bersedia datang ke sini. Saya sangat senang karena ternyata Dokter tidak jera memeriksa kondisi Jimmy," ucap Mommy Martha.
Dokter itu tersenyum kecut. Terlihat jelas di senyuman itu bahwa sebenarnya ia pun takut. Ada sedikit rasa trauma atas kejadian yang dulu menimpanya ketika memeriksa kondisi lelaki yang bernama Jimmy William tersebut.
"Maaf, kalau boleh tahu sebenarnya apa yang sedang terjadi pada Tuan Jimmy, Nyonya Martha?" tanya Dokter tersebut.
__ADS_1
"Entahlah, Dok. Sepertinya dia kurang sehat. Wajahnya memucat dan nafsuu makannya pun tampak bermasalah," tutur Mommy. "Oh ya, sebaiknya kita segera ke kamarnya," ajak Mommy.
"Ehm, baiklah." Dokter pun setuju dan mengikuti langkah Mommy Martha dari belakang.
Sebelumnya, Mommy Martha sempat meminta Mei mengajak seluruh penjaga keamanan yang bekerja di rumah megah itu untuk berjaga-jaga di depan kamar Jimmy. Mommy takut terjadi lagi kejadian memalukan itu. Sementara Mei ke halaman depan untuk menemui para penjaga keamanan, Mommy Martha dan Dokter tersebut meneruskan langkah mereka menuju kamar Jimmy.
Akhirnya mereka tiba di depan kamar milik Jimmy dan Ze. Mommy Martha mengetuk pintu kamar tersebut dengan pelan sambil memanggil nama Ze. Sementara Dokter menatap daun pintu ruangan itu sambil menelan salivanya dengan susah payah.
"Ze, bolehkah Mommy masuk?" tanya Mommy Martha.
Saat itu Ze sedang asik memijit kepala Jimmy yang katanya masih terasa berat. Ia dan Jimmy saling tatap sejenak kemudian Ze pun menjawab pertanyaan Mommy dengan setengah berteriak.
"Oh, baiklah kalau begitu. Mommy masuk, ya!"
Mommy Martha membuka pintu ruangan tersebut dengan perlahan. Ia memperhatikan Ze dan Jimmy yang sedang berada di atas tempat tidur mereka. Jimmy berbaring dengan posisi tengkurap dan kepalanya ia letakkan di pangkuan Ze yang duduk bersandar di sandaran tempat tidur.
Ze tempak terkejut setelah tahu bahwa saat itu Mommy tidak datang sendiri. Melainkan bersama seorang Dokter yang sedang berdiri di belakang Ibu mertuanya tersebut.
"Ehm, Dokter," sapa Ze sambil tersenyum menyambut kedatangan Dokter itu. Jimmy yang sedang asik menikmati pijatan Ze di atas kepalanya, tiba-tiba bangkit dan segera menoleh ke arah Mommy dan Dokter tersebut.
"Apa, Dokter?!" pekik Jimmy dengan wajah cemas.
__ADS_1
Dokter kembali menyunggingkan sebuah senyuman terpaksanya kemudian mengangguk pelan. "Selamat siang, Tuan Jimmy," sapa Dokter tersebut.
"Astaga, Mommy! Bukankah sudah aku katakan bahwa aku baik-baik saja. Kenapa Mommy malah memanggil Dokter segala!" pekik Jimmy. "Maafkan saya, Dok. Jika saya lancang," lanjut Jimmy sambil menangkupkan kedua tangannya ke hadapan Dokter.
Dokter hanya bisa tersenyum kecut menatap Jimmy. Sedangkan Mommy malah menekuk wajahnya kesal. "Kamu itu sedang sakit, Jimmy! Kamu butuh Dokter dan biarkan Dokter ini memeriksamu," kesal Mommy Martha.
"Maaf, Dok. Sebenarnya aku tidak sakit. Aku hanya butuh istirahat saja, percayalah!" ucap Jimmy dengan wajah memelas menatap Dokter tersebut.
"Tidak sakit apanya?!" pekik Mommy yang semakin kesal. "Dia itu tadi sempat pingsan di tempat kerjanya, Dok! Dia nya aja yang tidak mau mengaku."
"Hah?! Serius, Mas Jimmy pingsan?!" Ze pun tidak kalah panik setelah mendengar suaminya yang bertubuh besar itu jatuh pingsan di tempat kerja.
"Tidak, Sayang! Mommy bohong," elak Jimmy sambil tersenyum getir menatap Ze.
"Mommy tidak bohong, Ze. Ayo, bantu Mommy membujuk suamimu ini biar mau dipetik oleh Dokter," sela Mommy Martha.
Ze pun menganggukkan kepalanya dengan cepat kemudian memeluk tangan besar Jimmy dengan erat. Jimmy kembali menatap Ze dengan tatapan bingung. "Kenapa kamu memeluk tanganku?"
"Biar Mas Jimmy tidak bisa kemana-mana dan biarkan Dokter itu memeriksa keadaanmu, Mas."
...***...
__ADS_1