My Naughty Uncle

My Naughty Uncle
Hujan


__ADS_3

Bu Lidya yang sedang asik membersihkan teras, tiba-tiba dikejutkan dengan masuknya sebuah mobil berwarna hitam di halaman depan rumahnya yang tidak begitu luas tersebut.


Bu Lidya menyunggingkan seulas senyuman hangat setelah tahu siapa pemilik mobil tersebut. Ya, Bu Lidya tahu bahwa mobil berwarna hitam pekat tersebut adalah miliknya Jimmy, sang menantu kesayangan.


Bu Lidya menghentikan aktivitasnya kemudian menunggu sosok yang akan keluar dari dalam mobil tersebut. Tidak butuh waktu lama, Ze dan Jimmy pun keluar dari dalam mobil seraya melemparkan senyumannya kepada Bu Lidya.


"Ibu!" teriak Ze dengan mata berkaca-kaca.


"Ze?!" Bu Lidya menautkan kedua alisnya heran. Ia menajamkan penglihatannya ke arah Ze untuk memastikan bahwa gadis itu memang benar-benar putri kesayangannya, si Zea Natasha.


"Dia itu Ze atau bukan ya? Cantik bener," gumam Bu Lidya sambil mengucek matanya. Setelah beberapa saat, akhirnya ia pun tersadar bahwa gadis itu menang benar-benar Ze, putri semata wayangnya.


"Wah, anak Ibu akhirnya datang juga! Ya, ampun, Ze ... baru satu hari kita tidak bertemu Ibu sudah seperti orang linglung," ucap Bu Lidya dengan tubuh gemetar menyambut kedatangan anak perempuannya tersebut.


"Iya, Bu! Ze juga kangen Ibu," pekik Ze sambil berlari kecil menuju Bu Lidya.


Setelah saling berhadapan, Ze segera memeluk tubuh Bu Lidya dengan mata berkaca-kaca. Tidak berbeda dengan reaksi Bu Lidya, wanita itu bahkan tidak mampu menahan air matanya untuk tidak menetes walaupun hanya beberapa bulir saja. Sedangkan Jimmy hanya bisa tersenyum memperhatikan kebersamaan Ibu dan anak tersebut.


"Ah ya, Bu! Ze punya oleh-oleh buat Ibu, coba lihat lah," ucap Ze seraya melerai pelukannya bersama Bu Lidya. Kini Ze menunjuk ke arah Jimmy, di mana Jimmy sedang menenteng berbagai macam oleh-oleh untuk Sang Ibu Mertua.

__ADS_1


"Lihatlah, Bu! Di dalamnya ada beberapa macam kue dan tidak lupa jengkol sama pete kesukaan Ibu!" ucap Ze dengan penuh semangat.


"Wah, kamu ini tau aja kesukaan Ibu," sahut Bu Lidya, tangannya dengan sigap menyambut oleh-oleh dari Ze dan Jimmy tersebut. "Terima kasih banyak ya, oleh-olehnya," lanjutnya.


"Ya, Bu. Sama-sama," sahut Jimmy.


"Ayo! Sebaiknya kita masuk, CCTV paling canggih sudah pada aktif," celetuk Ze dengan setengah berbisik ketika melihat para tetangga sudah pada ramai melirik ke arah mereka.


"Iya, kamu bener. Sebaiknya kita masuk," sambung Bu Lidya.


Bu Lidya pun segera menuntun mereka masuk ke dalam rumah sederhananya.


"Ze diapain 'sih, kok cantik bener?" tanya Bu Lidya kepada Jimmy yang berjalan tak jauh darinya.


Ze melihat ke arah luar jendela yang ada di sampingnya, cuaca saat itu tiba-tiba saja menjadi mendung. Gumpalan awan hitam mulai mendominasi langit sepertinya hujan akan segera turun.


Benar saja, setelah beberapa menit kemudian terdengar suara rintik-rintik hujan yang mulai membasahi genteng rumah Bu Lidya. Tidak berselang lama, hujan pun semakin deras dengan suara petir yang menggelegar serta kilat yang terus menyambar ke permukaan bumi.


"Bagaimana ini, Om? Kita tidak bisa pulang dong," ucap Ze kepada Jimmy yang sejak tadi hanya diam, tetapi matanya terus tertuju pada gadis yang sedang duduk di hadapannya.

__ADS_1


"Jika hujannya tidak berhenti juga, sebaiknya kita menginap di sini saja," sahut Jimmy.


Ze tersenyum lebar setelah mendengar jawaban dari suaminya itu. "Beneran, Om? Eh, Mas aja, deh."


Jimmy memutarkan bola matanya ketika Ze mengubah panggilannya. "Ya, kita akan menginap di sini. Kamu senang, 'kan?"


"Ya, aku sangat senang. Terima kasih banyak ya, Mas."


Benar saja, bukannya berhenti hujannya malah semakin menjadi dan bahkan hingga menjelang malam. Kini ketiga orang tersebut sedang berada di meja makan. Mereka tengah asik menikmati nasi hangat dengan lauk pauk sederhana ala Bu Lidya di tengah dinginnya cuaca saat itu.


"Makan yang banyak ya, Jimmy. Jangan sungkan-sungkan karena kamu sudah menjadi bagian dari kami," ucap Bu Lidya kepada Jimmy.


Jimmy mengangguk pelan sembari tersenyum hangat. "Ya, Bu. Tentu saja," jawab Jimmy.


"Hmm, makan saja sepuasnya. Mas tidak akan menemukan masakan seperti ini di meja makan, rumah besar," celetuk Ze.


Jika Ze dan Jimmy sedang menikmati waktu kebersamaan mereka di kediaman sederhana milik Bu Lidya, di rumah megah milik Mommy Martha, Mommy Martha tengah kecewa karena rencana B yang sudah ia susun dengan matang harus tertunda.


"Ah, menyebalkan! Rencana kita harus tertunda lagi," kesal Mommy Martha kepada Mei yang sedang duduk tak jauh darinya.

__ADS_1


"Sabar, Nyonya. Masih ada besok malam," sahut Mei sambil mengulum senyum.


...***...


__ADS_2