My Naughty Uncle

My Naughty Uncle
Ada Syaratnya


__ADS_3

Jimmy meminta salah seorang pelayan untuk memanggil Ze yang masih berada di kamar mereka. Tidak berselang lama, Ze pun tiba di ruangan tersebut. Ze sempat kaget ketika melihat trio konyol yang menjengkelkan itu ternyata juga berkumpul di sana.


Daniel dan Aldi membulatkan matanya ketika melihat penampilan Ze yang sudah jauh berubah. Dan mereka baru percaya bahwa apa yang dikatakan oleh Evan adalah benar. Itik buruk rupa yang selalu mereka remehkan itu akhirnya berubah menjadi angsa yang sangat cantik.


"Tidak salah kalau Evan tergila-gila pada Ze kalau ternyata Ze sudah menjelma menjadi gadis yang sangat cantik," bisik Aldi kepada Daniel.


"Hush, diamlah! Ini bukan saatnya untuk memuji kecantikan gadis itu. Apa kamu sudah lupa tujuan kita ke sini? Nasib apes kita bergantung padanya," kesal Daniel.


"Ada apa, Mas? Kenapa Mas memanggilku?" tanya Ze sambil menautkan kedua alisnya. Ia duduk di samping Jimmy kemudian menatap satu persatu wajah ketiga lelaki di hadapannya.


"Nah, Ze sudah ada di sini. Sekarang katakanlah keinginan kalian," lanjut Jimmy.


"Ada apa sih, Mas?" tanya Ze yang semakin kebingungan.


"Ehm, Ze ... sebenarnya kami bertiga berkumpul di sini untuk meminta maaf atas kesalahan yang pernah kami lakukan kepadamu. Maafkan kami karena sudah menjebakmu dan juga sudah menjadikan dirimu sebagai taruhan," tutur Evan dengan suara bergetar.


"Ya, Ze. Kami tahu bahwa kesalahan kami memang tidak pantas untuk dimaafkan. Apa yang sudah kami lakukan terhadapmu memang sangat keterlaluan," sambung Daniel.

__ADS_1


"Tapi kami sudah mendapatkan karma atas apa yang sudah kami lakukan, Ze. Lihatlah Daniel, ia kecelakaan dan sampai saat ini kakinya masih belum bisa digunakan dengan baik. Lihatlah aku, aku bahkan sampai depresi gara-gara ditinggalkan oleh calon istriku di saat hari pernikahan tinggal menghitung hari. Dan Evan ...."


Aldi terdiam sambil menatap Evan yang kini juga sedang menatapnya dengan wajah memucat. Lelaki itu menggelengkan kepalanya dengan cepat dan berharap Aldi tidak akan mengatakan hal memalukan itu di hadapan Ze dan Jimmy.


"Evan kenapa?" Jimmy melirik ke arah Evan sambil tersenyum tipis.


"Bukan apa-apa, Om," jawab Evan sambil tersenyum kecut membalas tatapan Jimmy saat itu.


"Tidak perlu kamu ceritakan pun aku sudah tahu. Benar 'kan, Evan?" ucap Jimmy sembari merengkuh pundak Ze.


Evan menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan lagi-lagi ia tersenyum getir menatap pasangan itu. "Sebenarnya apa maksud Om Jimmy? Apa selama ini Om Jimmy sudah sadar bahwa aku mencintai Ze? Ya Tuhan, benar-benar sangat memalukan," batin Evan.


Wajah ketiga lelaki itu semakin memucat. Mereka takut Ze tidak bersedia memaafkan kesalahan mereka. Sementara Ze masih memperhatikan wajah ketiga lelaki itu tanpa berkedip sedikit pun. Entah kenapa saat itu ia melihat kepala Evan, Daniel dan Aldi tampak seperti sebuah mangga besar yang begitu menggugah selera.


"Aku bersedia memaafkan kalian tapi ada syaratnya!" ucap Ze dengan tegas.


Mata ketiga lelaki itu berbinar. Ya, walaupun masih ada syarat yang harus mereka sanggupi jika ingin mendapatkan maaf dari Ze. Sementara Jimmy tampak bingung. Ia menautkan kedua alisnya sambil menatap istri kecilnya itu.

__ADS_1


"Apa syaratnya, Ze?" tanya Daniel dengan penuh semangat.


"Aku mau memaafkan semua kesalahan kalian asalkan kalian bersedia memberikan aku mangga muda," jawabnya sambil membayangkan mangga muda yang begitu menggoda dengan sambal kacang pedas sebagai temannya.


Lelaki itu tersenyum lebar setelah mendengar syarat yang diajukan oleh Ze. Hanya sebuah mangga muda yang akan mereka berikan sebagai syarat permohonan maaf kepada Ze.


"Baiklah, kami setuju!" jawab Aldi dan Daniel dengan penuh semangat.


Hanya mangga muda, apa susahnya. Tinggal pergi ke supermarket atau beli di pedagang buah pinggir jalan, sudah selesai urusannya. Begitulah kira-kira yang ada di pikiran ketiga lelaki itu. Namun, mereka salah. Apa yang ada di pikiran mereka tidak sama seperti yang ada di pikiran Ze saat ini.


"Aku ingin mangga muda yang dipetik langsung dari pohon dan bukan yang dibeli dari supermarket atau toko buah," lanjut Ze.


"Astaga, jangan bilang bahwa kami yang harus memetiknya sendiri," ucap Daniel tiba-tiba. Entah kenapa ia curiga bahwa Ze akan mengatakan hal itu.


Dan benar saja, Ze menyeringai menatap ketiga lelaki itu sambil mengelus perutnya yang masih rata. "Ya, bayiku bilang bahwa ia ingin kalian yang memetik buah itu."


"Oh my god!" Tubuh ketiga lelaki itu lemas seketika. Bagaimana bisa mereka memetik langsung buah mangga tersebut dari pohonnya. Mereka anak mami, tidak pernah yang namanya naik-naik pohon.

__ADS_1


...***...


__ADS_2