My Naughty Uncle

My Naughty Uncle
Akhirnya


__ADS_3

Karena tidak tahu alasan Mei membawa Ze ke dalam toilet, Jimmy pun dengan susah payah mencoba bangkit dengan sisa-sisa kekuatan yang ada. Ia khawatir Mei melakukan sesuatu yang tidak diinginkan kepada istri kecilnya itu.


Jimmy berjalan sambil berpegangan di dinding kamar mandi hingga akhirnya ia tiba di depan pintu toilet. Jimmy menggedor pintu tersebut sambil memanggil nama Ze.


"Ze, kamu baik-baik saja?" tanya Jimmy dengan suara yang terdengar sangat lirih.


"Ya, Mas. Aku baik-baik saja. Tunggulah sebentar lagi, aku akan segera keluar," jawab Ze dari dalam toilet.


"Mbak Mei, kenapa Mbak bisa berpikiran bahwa aku sedang hamil? Aku bahkan tidak merasakan apa-apa dan yang saat ini sedang sakit 'kan Mas Jimmy?" tanya Ze kepada Mei yang sedang menunggu hasil dari test pack itu keluar.


"Iya, saya tahu. Tapi tidak ada salahnya kita coba 'kan? Siapa tahu benar," jawab Mei sambil tersenyum hangat kepada Ze.


Terdengar lagi suara ketukan di pintu yang berasal dari luar. Siapa lagi kalau bukan Jimmy. Lelaki itu sudah tidak sabar ingin tahu apa yang sebenarnya dilakukan oleh Mei kepada istri kecilnya.


"Mei! Jangan macam-macam sama istriku, ya!" ancamnya.


"Anda dengar itu, Nona. Saya sudah diancam oleh suami Anda," ucap Mei sambil terkekeh pelan.


Ze menggelengkan kepalanya, sedangkan Mei masih fokus pada benda kecil yang masih menampakkan satu garis merah. Hingga akhirnya,


"Akhhh!" jerit Mei.


Jeritan wanita itu membuat Ze dan Jimmy yang masih berada di luar ruangan terkejut. Jimmy semakin panik setelah mendengar jeritan wanita itu. "Kamu apakan istriku, Mei?!"


Ceklek!

__ADS_1


Pintu pun terbuka. Bukannya memberitahukan bagaimana hasil dari pemeriksaan tersebut kepada Ze, Mei malah berlari kecil dengan wajah semringah keluar dari ruangan itu. Ze dan Jimmy yang masih bingung dengan sikap aneh Mei, saling bertukar pandang dengan tatapan heran.


"Apa yang sebenarnya terjadi pada Mei?" tanya Jimmy yang masih terlihat lemah dan memucat.


"Entahlah, sepertinya dia sedang ada sedikit gangguan pagi ini," sahut Ze.


Ze menghampiri Jimmy kemudian dengan susah payah ia membantu lelaki itu kembali ke tempat tidur mereka. "Dasar Mbak Mei! Bukannya memeriksa kondisi Mas Jimmy, malah memintaku melakukan tes kehamilan," gerutu Ze yang masih belum mengerti apa maksud Mei yang sebenarnya.


"Apa? Mei memintamu apa?" Jimmy terkejut setelah tahu apa yang dilakukan Mei dan istrinya di dalam toilet barusan.


"Iya, Mas. Aku 'kan minta Mbak Mei memeriksa kondisinya Mas. Eh, dia malah minta aku tes alat kehamilan," gerutu Ze lagi sambil menyelimuti tubuh besar Jimmy yang sudah berbaring di tempat tidur.


"Tes kehamilan?" Jimmy bingung.


Sementara itu.


"Kamu kenapa sih, Mei? Kesambet, ya?"


"Ya, dan sebentar lagi Nyonya yang akan kesambet sama seperti saya!" sahut Mei sambil memperlihatkan benda kecil yang sedang ia pegang kepada Mommy Martha.


"Apa itu?" tanya Mommy Martha sambil memperhatikan benda kecil yang terulur di hadapannya. Setelah mengetahui bahwa benda itu adalah sebuah alat tes kehamilan, Mommy Martha pun segera meraihnya dari tangan Mei.


"Punya Ze?" tanya Mommy Martha dengan mata membulat dan tangan yang bergetar.


"Ya, Nyonya itu punya Nona Ze. Selamat ya, Nyonya! Tidak lama lagi rumah ini akan ramai dengan suara tawa dan tangisan seorang bayi mungil," sahut Mei sembari memeluk tubuh Mommy Martha.

__ADS_1


"Ya Tuhan, Mei! Kamu tidak bohong 'kan?" tanya Mommy Martha dengan mata berkaca-kaca menatap Mei yang masih memeluk tubuhnya.


Mei menganggukkan kepalanya dengan cepat. "Ya, Nyonya. Itu benar, saya tidak bohong," jawab Mei.


Sekarang giliran Mommy Martha yang kegirangan. Ia memeluk tubuh Mei dengan erat kemudian menciumi pipi perawatnya itu berkali-kali. "Ya Tuhan, terima kasih banyak karena sudah mendengarkan dan mengabulkan semua doa-doa saya," gumam Mommy Martha sembari melerai pelukannya bersama Mei.


"Mei, bilangin sama para pelayan! Masak yang banyak, kita bikin acara syukuran di rumah ini untuk menyambut kehamilan Ze," titah Mommy Martha.


"Baik, Nyonya!" sahut Mei dengan penuh semangat.


"Jangan lupa kasih tau Bu Lidya, aku ingin berbagi kebahagiaan bersamanya," ucap Mommy lagi.


Mommy Martha bergegas menuju kamar Ze dan Jimmy sambil membawa test pack tersebut. Ia sudah tidak sabar ingin bertemu Ze dan memeluk menantu kesayangannya itu. Setibanya di depan kamar Ze, Mommy Martha langsung masuk karena kamar tersebut memang tidak dikunci.


"Ze sayang! Selamat, ya," ucap Mommy Martha dengan tangan terbentang, menghampiri Ze yang masih duduk di samping tempat tidurnya bersama Jimmy. Mommy Martha memeluk dan menciumi wajah Ze hingga membuat Ze semakin bingung.


"Ehm, selamat untuk apa, Mommy? Maaf, Ze tidak mengerti," tanya Ze.


"Selamat, karena tidak lama lagi kamu dan Jimmy akan segera menjadi Mommy dan Daddy. Coba lihatlah ini!" pekik Mommy Martha sembari melerai pelukannya bersama Ze. Mommy Martha menyerahkan test pack tersebut ke tangan Ze dan Ze pun memperhatikannya.


"Bukankah ini alat yang tadi diserahkan oleh Mbak Mei kepadaku? Dan hasilnya--'" Ze menutup mulutnya dengan tangan. Matanya membulat sempurna setelah melihat garis dua berwarna merah yang melintang di tengah-tengah benda tersebut.


"Ja-jadi aku?!" pekik Ze.


"Ya, Sayang! Saat ini kamu sedang hamil," jawab Mommy dengan sangat antusias.

__ADS_1


Bukan hanya Ze, Jimmy pun tak kalah bahagianya. Ia merasa bangga bahwa ternyata bisa anaconda-nya masih berfungsi dengan baik.


***


__ADS_2