
Sementara itu di kediaman Mommy Martha.
Setelah sadar dari pingsannya, Mommy Martha bergegas keluar dari kamarnya dan berjalan dengan terburu-buru menuju halaman depan rumah mewahnya.
"Nyonya! Nyonya mau kemana?" tanya Mei dengan wajah cemas kepada Mommy Martha yang berjalan dengan langkah cepat.
"Aku ingin menyusul Ze. Aku yakin lelaki itulah yang menculik menantuku. Ya Tuhan, semoga saja Ze baik-baik saja," sahut Mommy Martha.
"Tapi, Nyonya ... di sana berbahaya. Apa tidak sebaiknya Nyonya diam saja di sini dan laporkan kepada pihat yang berwajib," bujuk Mei yang masih mengekor di belakang Mommy Martha.
"Itulah sebabnya aku harus ke sana, Mei! Mereka itu berbahaya, aku tidak ingin terjadi sesuatu kepada anak dan menantuku. Lelaki itu harus diingatkan, sudah cukup untuk Jimmy bersenang-senang bersamanya!" kesal Mommy Martha.
Mei tidak bicara apapun lagi. Mulutnya bungkam, tetapi raut wajahnya masih terlihat sedih dan cemas. Baru saja mereka tiba di halaman depan rumah, tiba-tiba saja Bu Lidya datang sambil tersenyum hangat.
"Bu Lidya?!" pekik Mommy Martha dengan mata membulat.
"Maafkan saya karena berkunjung ke sini tanpa menghubungi Anda terlebih dahulu, Bu Martha. Tadi pagi Ze menghubungi saya dan mengatakan kalau dia ingin menjenguk saya. Namun, sampai saat ini Ze masih belum menampakkan batang hidungnya. Saya jadi khawatir, takut Ze kenapa-napa," tutur Bu Lidya dengan wajah sedih.
"Bagaimana ini, Mei? Apakah aku harus berkata jujur kepada Bu Lidya bahwa Ze saat ini diculik oleh lelaki jahat itu?" tanya Mommy Martha dengan setengah berbisik, menatap Mei yang kini berdiri di sampingnya.
Bukan hanya Mommy Martha, Mei pun terlihat bingung saat itu. Mei mengangkat kedua bahunya dan menyerahkan jawabannya kepada Mommy Martha. Bu Lidya memperhatikan gelagat Mommy Martha serta Mei saat itu dan ia memiliki firasat yang tidak baik tentang Ze.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada Ze, Bu Martha? Saya mohon katakan yang sebenarnya," lirih Bu Lidya.
__ADS_1
Mommy Martha memeluk tubuh Bu Lidya dengan mata berkaca-kaca. Ia merasa bersalah kepada wanita itu. Karena masa lalu Jimmy, anak perempuan wanita itu dalam bahaya.
"Ze diculik, Bu Lidya. Ze diculik ketika di perjalanan menuju kediamanmu," lirih Mommy Martha.
Bu Lidya tidak mampu menahan kesedihannya. Wanita itu terisak setelah tahu anak perempuan semata wayangnya telah diculik. "Diculik oleh siapa, Bu Martha? Apakah sudah dilaporkan ke polisi?" pekik Bu Lidya sembari melepaskan pelukannya bersama Mommy Martha.
"Bu Lidya tidak usah cemas, Jimmy pasti berhasil menemukan istrinya karena dia tahu siapa yang sudah menculik Ze," tutur Mommy Martha mencoba menenangkan Bu Lidya. Walaupun sebenarnya ia pun sangat ketakutan saat ini.
"Baiklah, sekarang Anda mau kemana, Bu Martha? Saya ikut!" ucap Bu Lidya mantap.
"Aku ingin menyusul Jimmy ke tempat orang yang menculik Ze, tapi sebaiknya Bu Lidya tidak usah ikut karena tempat itu sangat berbahaya. Biar aku saja yang ke sana sebab aku mengenal lelaki itu. Bu Lidya tunggu saja di sini bersama Mei," bujuk Mommy Martha.
Bu Lidya menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ia bersikeras tetap ingin ikut bersama Mommy Martha. "Aku harus ikut, Bu Martha. Walaupun Anda tidak mengizinkan saya," jawabnya.
"Astaga, Mei! Kita ini bukannya mau ke kondangan! Tempat itu berbahaya, terlebih orang-orang itu! Apa kalian ingin mati konyol," kesal Mommy Martha.
"Pokoknya saya harus ikut!" sahut Mei dengan penuh keyakinan.
"Saya juga!" sambung Bu Lidya sembari menyeka air matanya.
Akhirnya Mommy Martha pun mengalah dan membiarkan kedua wanita itu ikut bersamanya.
Sementara itu di tempat lain.
__ADS_1
Jimmy tiba di sebuah tempat di mana para komplotan itu berkumpul dan ia yakin Ze berada di tempat itu. Sebuah gudang tak terpakai yang biasa ia dan teman-teman komplotannya melakukan latihan dan kadang digunakan untuk melakukan transaksi terlarang.
Setelah memarkirkan mobilnya secara sembarang, Jimmy bergegas keluar dari mobilnya sambil menyelipkan pistolnya di pinggang. Wajah lelaki itu memerah, pertanda ia benar-benar sangat marah.
Jimmy memperhatikan sekeliling tempat itu dan anehnya tempat itu sangat sunyi, seperti tak berpenghuni. "Di mana kalian! Keluarlah, atau ku habisi kalian semua!" teriak Jimmy dengan lantang.
Tak terdengar satu pun jawaban, tetapi Jimmy tidak menyerah begitu saja. Lelaki itu menelusuri lorong demi lorong dan memasuki satu persatu ruangan yang terlihat mencurigakan. Namun, masih tidak kelihatan ada tanda-tanda Ze di sana.
Hingga akhirnya ia bertemu dengan teman lamanya, Nick. Jimmy yang sudah berada di puncak emosinya, segera mengambil pistol dan menodongkannya kepada lelaki itu.
"Katakan di mana kalian menyembunyikan istriku!!!" teriak Jimmy dengan lantang.
Bukannya takut, lelaki itu malah terlihat bahagia. "Akhirnya Jimmy-ku kembali. Selamat datang kembali, Jimmy. Aku dan teman-teman sangat merindukanmu," ucap Nick sambil merentangkan tangannya kepada Jimmy.
"Jangan mendekat! Kali ini aku tidak main-main. Sekarang katakan, di mana istriku!" teriak Jimmy lagi.
Nick tersenyum. "Boss sengaja menculik istrimu, Jimmy. Sebagai pancingan agar kamu datang kepadanya dan ternyata rencananya berhasil. Dan soal istrimu, sebaiknya kamu tenang saja. Boss tidak akan menyakitinya karena ia tahu wanita itu sangat penting bagimu," jawab Nick.
"Aku ingatkan padamu dan juga semuanya. Jangan sampai istriku tergores sedikit pun karena aku tidak akan segan-segan menghabisi kalian semua, termasuk Tuan Harold!" ancam Jimmy.
"Kata-kata yang manis. Inilah yang sangat kami rindukan dari sosokmu, Jimmy!" jawab lelaki itu tanpa takut sedikitpun.
...***...
__ADS_1