My Naughty Uncle

My Naughty Uncle
Hari Pernikahan 2


__ADS_3

Dengan langkah malas, Evan memasuki pesta pernikahan Ze dan pamannya. Lelaki itu hadir setelah acara ijab kabul selesai dan kini ia dapat melihat pasangan pengantin itu bersanding di atas pelaminan mewah mereka.


Tiba-tiba mata Evan terbelalak setelah melihat Ze yang terlihat begitu cantik dengan gaun pengantin serta riasan naturalnya. Bukan hanya Evan, Daniel dan Aldi pun sama terkejutnya.


"Apa aku tidak salah lihat, Van? Itu si gadis cupu?" ucap Daniel dengan mulut menganga.


"Ah, aku kira cuma aku yang bertanya-tanya seperti itu dan ternyata pertanyaanku sudah terwakilkan," sela Aldi.


"Heh, apa kamu tidak lihat ekspresiku saat ini?! Sama seperti kalian, aku pun shok melihatnya!" sahut Evan.


"Hmm, Om Jimmy menang telak darimu, Evan. Selain mendapatkan jodoh daun muda, Om Jimmy seolah mendapatkan sebongkah berlian berlumpur dan setelah lumpurnya dibersihkan, sekarang tampaklah kilauannya," celetuk Aldi.


"Apaan, sih!" kesal Evan sembari menarik sebuah kursi yang ada di dekatnya kemudian duduk di sana.


Sementara itu di pelaminan.


Di antara banyaknya tamu yang hadir ke pesta pernikahannya, yang menjadi perhatian Ze saat ini adalah seorang laki-laki yang tengah duduk di salah satu kursi tamu, berbaur dengan tamu lainnya.


Lelaki tampan dengan setelan jas bermerek international berharga mahal, yang tengah bersenda gurau bersama dua sahabatnya, Aldi dan Daniel. Tanpa merasa bersalah sedikit pun ketiga lelaki itu terus tertawa lepas dan bahkan tidak sekali dua mereka terbahak. Entah apa yang mereka bicarakan saat itu, Ze pun tidak tahu.


Tanpa Ze sadari, saat itu Jimmy tengah memperhatikan dirinya. Lelaki itu tahu bahwa saat itu Ze sedang memperhatikan Evan dan kedua sahabatnya. Jimmy mengerutkan alisnya sambil bergumam dalam hati.

__ADS_1


"Apa Ze masih mengharapkan cinta Evan setelah Evan mengkhianatinya?" batin Jimmy.


"Eh-hem!" Jimmy berdehem dan membuat lamunan Ze buyar.


"Hah? Apa?!" pekik Ze sembari menoleh kepada Jimmy dengan wajah heran.


Jimmy tersenyum seraya menggoda gadis itu. Ia mendekatkan wajahnya kemudian berbisik. "Hei, kenapa diam saja? Apa yang sedang kamu pikirkan? Jangan katakan bahwa kamu sedang menghayalkan malam pertama kita, ya!" celetuk Jimmy.


"Astaga, Om?!" pekik Ze dengan mata membulat sempurna menatap Jimmy. "Ih, enggak lah," elak Ze.


"Haha, siapa yang tahu," lanjut Jimmy.


Ze mencebikkan bibirnya kemudian kembali memperhatikan sebuah meja yang sedang ditempati oleh para lelaki-lelaki tampan tersebut.


Wajahnya terlihat tidak asing untuk Ze. Ia merasa familiar, tetapi ia lupa siapa nama wanita itu dan di mana ia pernah bertemu dengannya. Hingga akhirnya Ze pun mengingatnya.


"Indria?" pekik Ze.


"Kamu mengenalnya?" Tiba-tiba Jimmy menyela ucapannya.


Ze refleks menoleh ke arah Jimmy. "Hah? Siapa, Om?"

__ADS_1


"Indria. Barusan kamu menyebutkan namanya, 'kan?" balas Jimmy.


"Oh, itu." Ze tersenyum kecut. "Wanita itu namanya Indria, Om," lanjut Ze sembari menunjuk ke arah wanita yang kini sedang bersapa manja bersama Evan dan kawan-kawannya.


Mereka terlihat sangat dekat, bahkan Evan tidak segan mencium pipi kanan dan kiri kemudian memeluk tubuhnya. Kini ketiga lelaki tersebut tampak sedang asik memuji penampilannya hingga membuat wanita yang bernama Indria tersenyum tersipu malu dengan wajah merah merona.


"Indria adalah Kakak kelasku ketika di SMA. Dulu dia sempat dikabarkan berpacaran dengan Tuan Evan karena mereka sama-sama siswa terpopuler di sekolah," sambung Ze yang masih memperhatikan kebersamaan mereka di meja tersebut.


"Oh, jadi kalian pernah satu sekolah." Jimmy turut memperhatikan keempat manusia tersebut.


"Ya. Ehm ... apa Indria dan Tuan Evan masih berhubungan?" tanya Ze tiba-tiba, dengan tatapan yang masih fokus pada pasangan itu.


"Ya, setahuku hubungan Evan dengan wanita itu memang sangat dekat. Tapi aku tidak tahu apakah mereka memang berpacaran atau hanya sekedar sahabat karena aku tidak pernah bertanya," sahut Jimmy.


"Mereka memang cocok. Satu cantik dan satunya lagi tampan."


Jimmy melirik Ze sambil tersenyum tipis. "Sabar, ya!"


"Hah? Kok sabar, Om?" tanya Ze bingung.


Jimmy tidak menjawab, ia terus tersenyum kemudian mengalihkan pandangannya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2