
"Duduklah di sini sebentar, Nona. Kami akan memasakkan sesuatu untuk Anda," ucap lelaki sangar itu sembari menunjuk sebuah sofa yang ada di ruangan itu sambil tersenyum hangat.
Walaupun lelaki sangar tersebut mencoba melemparkan senyuman terbaiknya untuk Ze. Namun, bagi Ze senyuman lelaki sangar tersebut tetaplah terlihat menakutkan.
"Tidak usah repot-repot, Tuan. Aku makan di rumah saja, setelah pulang dari sini," jawab Ze dengan mantap sembari menjatuhkan dirinya di sofa tersebut.
Lelaki itu tergelak mendengar jawaban dari Ze. "Benarkah? Memangnya kapan Anda akan pulang, Nona?"
"Aku yakin sebentar lagi aku akan pulang. Mas Jimmy pasti akan menjemputku beberapa saat lagi," sahut Ze lagi dengan keyakinan penuh.
Tawa lelaki itu berubah menjadi sebuah senyuman. "Ya, semoga saja, Nona. Karena memang itu yang sangat diharapkan oleh kami," ucap lelaki itu sembari melangkah pergi.
Sepeninggal lelaki itu Ze memperhatikan sekeliling ruangan. Siapa tahu ia bisa melarikan diri dari tempat itu. Namun, sepertinya sia-sia saja, tempat itu sudah di jaga dengan sangat ketat. Bahkan di depan ruangan itu tampak dua orang lelaki sangar sedang berjaga.
Ze kembali ke sofa dan duduk di sana sambil memikirkan bagaimana keluar dari tempat itu. Tidak berselang lama, tampak seorang pria paruh baya sedang berjalan menuju ruangan itu. Seluruh lelaki sangar yang ada di sana tampak menghormati pria tersebut.
"Selamat datang, Tuan. Wanita itu ada di dalam," ucap salah seorang laki-laki yang berjaga di depan ruangan di mana Ze berada.
__ADS_1
"Ya, aku ingin menemuinya," jawab pria paruh baya bersetelan jas mahal berwarna hitam tersebut.
"Silakan, Tuan."
Lelaki sangar yang berjaga, segera membukakan pintu untuk pria tersebut dan membiarkannya masuk.
Ze segera bangkit dari sofa tersebut dan menjaga jarak dari pria paruh baya yang datang menghampirinya. Pria paruh baya itu tampak menawan walaupun usianya sudah tidak muda lagi. Menurut Ze pria itu adalah pria tertampan yang ada di Villa tersebut.
"Hallo, Nona ...?"
"Siapa Anda? Jangan macam-macam padaku, Tuan!" ucap Ze sambil terus memundurkan langkahnya dengan tubuh bergetar.
"Ehm ... jadi Anda yang bernama Tuan Harold? Ok, baiklah! Sekarang jelaskan padaku, kenapa kalian menculikku dan membawaku ke tempat ini?!" tanya Ze dengan raut wajah kesal.
"Baiklah, akan ku jelaskan. Tapi ... duduklah di sini agar kita bisa bicara dengan tenang," bujuk pria yang bernama Tuan Harold tersebut.
Walaupun masih ada sedikit rasa takut di hati Ze saat itu. Namun, anehnya Ze menurut saja kemudian duduk kembali di sofa tersebut. Ia duduk tepat di hadapan pria paruh baya tersebut sambil memperhatikannya dengan seksama.
__ADS_1
"Sekarang katakan padaku, apa alasan Anda menculikku dan membawaku ke tempat mengerikan ini," ucap Ze sekali lagi.
Tuan Harold membalas tatapan Ze dan pria paruh baya tersebut terlihat mengerutkan kedua alisnya setelah memperhatikan wajah Ze dengan jarak dekat.
"Entah kenapa wajahmu mengingatkan aku dengan seseorang," ucapnya tiba-tiba.
"Jangan mencoba mengalihkan pembicaraan, Tuan Harold," jawab Ze masih menatap lelaki itu dengan tatapan seriusnya.
Tuan Harold tersenyum tipis. "Ehm, maafkan aku, Nona. Maaf juga karena kami sudah membuatmu merasa tidak nyaman. Tapi, seperti yang dikatakan oleh anak buahku, kami tidak memiliki niat buruk terhadapmu sedikitpun. Aku hanya ingin memancing Jimmy agar ia bersedia datang ke sini. Aku sudah melakukan berbagai cara agar ia datang menemuiku. Namun, sepertinya Jimmy benar-benar sudah melupakanku. Jujur, aku sangat merindukannya, Nona. Selama ini Jimmy sudah ku anggap seperti anakku sendiri," tutur Tuan Harold.
Pria itu menghentikan ceritanya. Terlihat jelas raut kesedihan di wajah Tuan Harold saat itu. Ia menghembuskan napas berat dan mengusap wajahnya dengan kedua tangan.
"Aku masih bingung, Tuan Harold. Bisakah Anda menceritakan bagaimana hubungan kalian yang sebenarnya? Sebenarnya siapa Anda dan siapa Jimmy?" tanya Ze dengan alis yang saling bertaut.
Tuan Harold mengangkat kedua alisnya. "Benarkah? Serius, kamu ingin tahu bagaimana hubungan kami serta siapa aku dan juga Jimmy sebenarnya?"
Ze menganggukkan kepalanya pelan. "Ya, Tuan Harold. Ceritakanlah," jawab Ze dengan penuh keyakinan.
__ADS_1
...***...
#Maaf, late UP 😢 hari ini Author sibuk dengan kegiatan dunia nyata jadi gak sempat mengetik 🙏🙏🙏