
"Harold?" pekik Bu Lidya setelah tahu siapa tamu yang dimaksud oleh Jimmy barusan.
Ia memperhatikan Tuan Harold yang terlihat lebih tampan dari sebelumnya, dengan setelan jas mahalnya tersebut. Walaupun sebenarnya lelaki itu merasa sangat tidak nyaman dengan korset yang ia gunakan, tetapi demi menunjang penampilannya di hadapan sang pujaan hati, ia rela menahan rasa tidak nyamannya tersebut.
Tuan Harold bangkit dari posisi duduknya kemudian mengulurkan tangannya kepada wanita itu, begitu pula Nick. Nick pun menyalami Bu Lidya kemudian kembali duduk setelah Bu Lidya mengizinkan mereka.
Bukan hanya mereka, pasangan Ze dan Jimmy yang baru tiba di ruangan itu segera duduk setelah bersalaman dengan kedua tamunya itu.
"Ada apa ini, Harold? Tumben," tanya Bu Lidya sambil duduk di sofa yang letaknya tepat di hadapan Tuan Harold.
Tuan Harold tersenyum sembari memperhatikan wajah cantik Bu Lidya. Ya, walaupun saat itu Bu Lidya hanya mengenakan daster ala emak-emak, dengan make up ala kadarnya. Namun, tetapi bagi Tuan Harold, wanita itu tetap terlihat begitu manis sama seperti beberapa puluh tahun yang lalu.
"Ehm, maaf jika kedatanganku ke sini mengganggumu, Lidya. Tapi ...." Tuan Harold melirik Nick yang duduk di sampingnya. Tiba-tiba saja ia ragu untuk menyatakan keinginannya kepada Bu Lidya.
Nyali Tuan Harold kembali menciut. Ia takut ditolak untuk kesekian kalinya oleh wanita itu. Namun, sudah kepalang tanggung. Ia sudah berada tepat di hadapan wanita itu dan untuk mundur pun rasanya percuma.
Tuan Harold menghembuskan napas berat kemudian melanjutkan ucapannya. "Sebenarnya maksud kedatanganku ke sini untuk me-melamarmu, Lidya."
Tuan Harold merogoh saku jas bagian dalam jasnya kemudian meraih kotak perhiasan kecil berwarna merah yang sempat ia perlihatkan kepada Nick ketika di Villa. Ia membuka kotak tersebut dan tampaklah sebuah cincin emas dengan berlian di atasnya.
__ADS_1
"Ini spesial untukmu, Lidya," Tuan Harold menyerahkan benda kecil berkilau tersebut ke hadapan Bu Lidya.
Mata Bu Lidya membulat sempurna. Walaupun ia sudah tahu bahwa lelaki itu pernah memiliki perasaan kepadanya. Namun, Bu Lidya tidak menyangka bahwa lelaki itu masih memendam rasa tersebut hingga saat ini.
"Ka-kamu serius, Harold? Tapi ... bukankah kamu sudah tahu bahwa aku adalah mantan Kakak iparmu," lirih Bu Lidya.
"Ya, aku tahu. Tapi aku tidak pernah mempermasalahkan hal itu," jawab Tuan Harold yakin.
Bu Lidya terdiam sejenak tanpa berkeinginan mengambil cincin tersebut. Ia memperhatikan Tuan Harold dengan seksama, kemudian setelah itu pandangan Bu Lidya beralih kepada Ze yang sedang duduk tak jauh darinya.
"Bagaimana ini, Ze?" tanya Bu Lidya dengan wajah bingung.
Ze melemparkan senyuman hangatnya untuk Bu Lidya. "Ze akan selalu mendukung apapun keputusan yang Ibu ambil. Selama itu yang terbaik untuk Ibu," jawab Ze yang masih menggenggam tangan Jimmy.
"Begini ya, Harold. Bolehkah aku meminta waktu beberapa hari untuk memikirkannya? Aku perlu bicara bersama Ze, karena dia anakmu. Ya, walaupun sebenarnya akulah yang memiliki hak penuh atas pilihanku, tetapi tetap saja aku butuh pendapatnya," tutur Bu Lidya.
Tuan Harold menghembuskan napas berat. Lagi-lagi ia harus menelan pil pahit karena untuk kesekian kalinya ia ditolak lagi oleh wanita itu. Ya, Tuan Harold tahu, itu hanya alasan Bu Lidya saja. Ia sudah hapal gaya penolakan wanita itu.
Setelah diberikan waktu untuk berpikir, beberapa hari kemudian wanita itu pasti akan mengatakan tidak untuknya. Tuan Harold tersenyum kecut kemudian menarik kembali cincin cantik itu dan menyimpannya ke dalam saku jas.
__ADS_1
Ze dapat melihat dengan jelas kekecewaan yang tampak di raut wajah Tuan Harold. Begitu pula Jimmy dan Nick, mereka tahu bahwa Tuan Harold tengah kecewa saat itu.
"Bu, kenapa tidak diterima saja!" pekik Ze dengan setengah berbisik kepada Bu Lidya.
"Ibu masih ragu, Ze!" balas Bu Lidya juga dengan setengah berbisik.
"Ah, Ibu!" kesal Ze sambil menekuk wajahnya.
Tiba-tiba Tuan Harold bangkit dari posisi duduknya kemudian tersenyum kecut menatap Bu Lidya. "Ya, sudah kalau begitu. Sepertinya aku harus pulang sekarang, Lidya. Karena aku masih punya banyak pekerjaan," ucap Tuan Harold.
Tuan Harold mengajak serta Nick agar segera mengikutinya dan Nick pun menurut saja. Nick berpamitan kepada Bu Lidya, Jimmy dan Ze kemudian bergegas menyusul Tuan Harold yang sudah dulu berjalan menuju teras luar.
"Ah, Ibu kenapa ditolak sih," tutur Ze yang masih merasa kesal dengan keputusan Ibunya tersebut.
"Ibu tidak menolak, Ze. Ibu hanya minta waktu beberapa hari untuk berpikir," sahut Bu Lidya mencoba membela diri.
Di saat kedua wanita itu tengah berdebat kecil, tiba-tiba dari luar terdengar suara teriakan Nick yang meminta tolong kepada Jimmy dan mereka pun bergegas menyusul ke halaman depan.
"Jimmy! Tolong aku, Tuan Harold pingsan," teriak Nick dari luar.
__ADS_1
"Apa?!" pekik mereka serempak.
...***...