
Aldi tergelak setelah melihat siapa target mereka. Gadis biasa dengan penampilan yang tidak begitu menarik. Aldi tergelak bukan karena gadis itu terlihat jelek, tetapi ia yakin Evan tidak akan setuju dengan taruhan kali ini.
Evan adalah lelaki kaya dan tampan, gadis manapun pasti akan bertekuk lutut padanya. Gadis yang pernah dekat dengan Evan pun bukanlah gadis sembarangan. Semuanya cantik dan berkelas, jadi rasanya sangat tidak mungkin Evan bisa menerima taruhan itu.
"Apa kamu sudah gila? Gadis itu target kita kali ini?" pekik Evan dengan raut wajah kesal setelah tahu siapa yang akan menjadi bahan taruhan mereka.
Daniel menganggukkan kepalanya sambil tersenyum puas. "Bagaimana? Aku sangat yakin akan sangat mudah bagimu mencuri hati gadis itu. Tapi, jika kamu tidak ingin melanjutkan taruhan ini, maka hari ini kamu akan pulang dengan jalan kaki."
Daniel ingin meraih kedua kunci mobil yang teronggok di atas meja. Namun, baru saja ia meraihnya, Evan sudah memukul tangan Daniel sembari menyeringai licik.
"Oke, aku terima! Tapi ... hanya selama satu bulan, bukan?" Evan ingin memastikan hal itu kepada Daniel.
"Ya, hanya satu bulan. Tapi, jika kamu menyukainya, mau kamu lanjut pun aku tidak peduli," sahut Daniel sambil tergelak.
"Gila! Gadis itu bukanlah seleraku!" balas Evan dengan raut wajah kesal.
"Ya, siapa tahu seleramu berubah. Benar 'kan, Di?" Daniel dan Aldi kembali tergelak, menertawakan Evan yang kini memasang wajah masam menatap kedua sahabatnya itu secara bergantian.
"Kalian tunggu dan lihatlah si tampan ini beraksi!"
Evan berjalan menghampiri Ze yang masih sibuk dengan pekerjaannya. Sedangkan Aldi dan Daniel memperhatikan apa yang dilakukan oleh Evan dari kejauhan.
__ADS_1
"Ucapkan selamat tinggal untuk mobil kesayanganmu, Bro! Mana mobilnya baru beli lagi," celetuk Aldi sambil memperhatikan Evan yang masih berjalan menghampiri gadis taruhan mereka.
"Hei, belum tentu. Apa kamu yakin Evan sanggup menjalin hubungan bersama gadis itu selama satu bulan penuh? Entahlah, tapi menurutku, itu sangat tidak mungkin," sahut Daniel dengan penuh keyakinan.
Aldi terdiam sambil berpikir. Apa yang dikatakan oleh Daniel memang ada benarnya. Rasanya tidak mungkin Evan sanggup berpura-pura menjadi kekasih gadis itu selama sebulan penuh. Selain terlihat culun, penampilan gadis itu pun tidak ada menarik-menariknya sama sekali.
"Kamu benar juga, Daniel. Baiklah kalau begitu, aku akan dukung siapapun yang menjadi pemenangnya," jawab Aldi.
"Hhh, dasar!" gerutu Daniel.
Akhirnya Evan berdiri tepat di depan Ze. Ia tersenyum sembari mengulurkan tangannya kepada gadis itu.
"Ehm, Nona ... bolehkah kita berkenalan?"
Ze membulatkan matanya dengan sempurna. Bagaimana tidak, ia begitu mengenali sosok lelaki tampan yang sedang berdiri di hadapannya sekarang ini. Evan Hardy Wiliam, yang merupakan kakak kelas Ze ketika masih di SMA. Lelaki paling tampan dan keren di sekolahnya bahkan Ze pun tergila-gila pada lelaki itu.
"Evan?!" pekik Ze sembari tersenyum lebar menatap lelaki itu.
Evan mengerutkan alisnya heran. Ternyata gadis kucel itu mengenali dirinya. Namun, Evan tidak terlalu terkejut, pasalnya hal itu sudah sering terjadi. Hampir semua gadis yang ia temui pasti mengenali dirinya.
Saat itu Evan benar-benar tidak mengenali sosok Ze sebagai adik kelasnya. Wajar saja rasanya jika Evan tidak mengenali gadis itu. Sebab Ze sendiri adalah siswi yang lebih suka menyendiri saat masih bersekolah.
__ADS_1
Ze sadar bahwa dirinya berbeda dari siswa lainnya di sekolah tersebut. Ia bisa bersekolah di sekolah elit tersebut hanya dengan mengandalkan dana bantuan serta beasiswa yang ia dapatkan saat itu.
"Kamu mengenaliku?" Evan tersenyum dengan sangat manis hingga membuat hati gadis itu seakan meleleh dibuatnya.
"Ya, tentu saja. Kamu adalah Kakak kelasku ketika di SMA," sahut Ze dengan sangat antusias.
"Benarkah? Astaga, maafkan aku. Aku benar-benar lupa. Ehm, ngomong-ngomong siapa namamu?" tanya Evan dengan tangan yang masih terulur di hadapan Ze.
"Zea Natasha. Panggil saja, Ze." Ze menyambut uluran tangan Evan sembari membalas senyuman lelaki itu. Senyuman Ze saat itu terlihat begitu manis, bahkan Evan pun mengakuinya.
Tidak cukup hanya dengan berkenalan saja, Evan bahkan sampai meminta nomor ponsel Ze dan Ze pun dengan senang hati memberikannya kepada lelaki itu.
"Terima kasih, Ze. Nanti aku calling kamu, boleh ya?" tanya Evan dengan senyuman menggodanya.
Ze menganggukkan kepalanya dengan cepat. "Ya, tentu saja boleh."
Sementara Ze dan Evan masih berbincang-bincang di tempat itu. Aldi dan Daniel masih memperhatikan kedua orang itu dengan seksama.
"Kamu lihat itu, Daniel. Jangankan gadis culun seperti dia, gadis secantik bidadari pun pasti akan luluh setelah melihat wajah tampan lelaki itu," celetuk Aldi sambil terkekeh pelan.
Daniel menekuk wajahnya. Sekarang kepercayaan dirinya seakan runtuh dan itu artinya ia harus siap kehilangan mobil sport miliknya.
__ADS_1
***