
"Benarkah? Tapi yang kulihat dari ekspresimu ketika menatap Evan, sepertinya kamu menyukainya," goda Jimmy.
Kedua pipi Ze tampak memerah dan ia benar-benar malu saat Jimmy mengatakan hal itu kepadanya. "Astaga! Ternyata Om ini memperhatikan ekspresiku ketika menatap Evan! Ya, Tuhan ... memalukan sekali," batin Ze dalam hati.
Jimmy terkekeh pelan melihat pipi Ze yang tiba-tiba saja memerah dan ia tahu bahwa gadis itu tengah menahan rasa malu. "Tidak apa, Ze. Akui saja dan jika kamu memang benar menyukai Evan, aku bisa bantu kamu mendapatkan cintanya," tutur lelaki itu.
"Apa?!" pekik Ze setengah tidak percaya mendengar penuturan lelaki itu. "Tidak, Om. Aku serius, aku tidak mungkin menyukai Tuan Evan karena aku sadar siapa aku dan siapa dirinya," lanjut Ze sambil tersenyum kecut.
Jimmy mengangkat bahunya sambil tersenyum tipis kemudian kembali fokus pada mobilnya. "Ya, sudah kalau begitu," gumam Jimmy.
Tidak berselang lama mereka pun tiba di depan sebuah toko perhiasan yang sudah termasyur di kota tersebut. Setelah keluar dari mobilnya, Jimmy menghampiri Ze yang tengah terpelongo memperhatikan tempat itu.
"Mari, Ze!" ajak Jimmy sembari menuntun gadis itu memasuki toko tersebut.
Ini pertama kalinya Ze memasuki toko perhiasan semegah itu. Ya, di Mall tempatnya bekerja memang ada toko perhiasan, tetapi masih kalah megah dari tempat ini.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" Salah seorang karyawan di toko tersebut menghampiri mereka sambil tersenyum hangat.
"Kami akan segera menikah dan kami membutuhkan cincin pernikahan untuk kami berdua," jawab Jimmy.
__ADS_1
Karyawan itu sempat terdiam sembari memperhatikan Jimmy dan Ze secara bergantian. Ia tidak menyangka bahwa mereka ada pasangan yang akan segera menikah. Karyawan itu kira Ze adalah ponakan dari lelaki dewasa tersebut.
"Baiklah kalau begitu. Kemarilah, Tuan dan Nona." Karyawan itu menuntun Ze dan Jimmy ke sebuah ruangan kemudian mempersilakan mereka untuk duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut.
"Sementara rekan saya sedang mengambilkan beberapa contoh cincin pernikahan yang cocok untuk Tuan dan Nona, sebaiknya Tuan dan Nona duduk dulu di sini sembari menikmati minuman dingin dari kami."
Salah seorang karyawan lainnya membawakan dua buah minuman dingin untuk Ze dan Jimmy kemudian menyerahkannya kepada pasangan itu. Ze dan Jimmy pun menikmati minuman itu dengan lahapnya.
Tidak berselang lama, beberapa karyawan toko perhiasan tersebut datang berbondong-bondong menghampiri Ze dan Jimmy dengan membawa berbagai macam contoh cincin pernikahan untuk mereka berdua.
Mereka meletakkan berbagai contoh cincin perhiasan tersebut ke atas meja yang ada di depan Ze dan Jimmy. "Nah, Ze ... pilihlah mana yang kamu suka," ucap Jimmy kepada Ze.
Ze meraih cincin tersebut kemudian memperlihatkannya kepada Jimmy. Jimmy pun mengangguk pelan dan menyetujui pilihan gadis itu. "Ambillah," sahut lelaki itu.
"Lalu bagaimana denganmu, Om?" tanya Ze dengan wajah bingung menatap Jimmy karena lelaki itu belum juga memilih cincin untuk dirinya sendiri.
"Kamu saja yang pilih, Ze. Yang penting simple dan tidak akan mengganggu aktifitasku," jawab Jimmy.
Ze pun tersenyum. "Baiklah kalau begitu," ucap Ze sembari memilih cincin pernikahan yang sesuai dengan permintaan Jimmy.
__ADS_1
Di antara banyaknya pilihan, pilihan Ze jatuh pada sebuah cincin polos yang menurutnya cocok untuk Jimmy. "Bagaimana kalau ini, Om? Apa kamu menyukainya?" tanya Ze seraya memperlihatkan cincin itu kepada Jimmy.
Tersungging sebuah senyuman tipis di wajah Jimmy. "Coba kamu pasangkan ke jariku, apakah cincin itu pas untukku," ucap Jimmy seraya mengulurkan tangan kekarnya ke hadapan Ze.
Dengan cepat, Ze memasangkan cincin tersebut dan ternyata ukurannya benar-benar pas. "Bagaimana, Om? Om suka?" tanya Ze.
Jimmy memperhatikan cincin yang kini melingkar di jari manisnya. "Ya, aku suka."
Akhirnya pasangan itu mendapatkan cincin pernikahan yang pas untuk mereka. Setelah membayar harga cincin tersebut, Ze dan Jimmy pun keluar dari toko tersebut. Kini Jimmy melajukan mobilnya menuju sebuah rumah makan karena saat itu perutnya sudah mulai keroncongan.
"Kamu mau makan apa, Ze?" tanya Jimmy setelah mereka duduk disalah satu meja kosong yang ada di rumah makan tersebut.
"Terserah Om saja," sahut Ze.
"Oh ya, Ze! Sebaiknya mulai sekarang kamu makan yang banyak," celetuk Jimmy yang sedang fokus menatap daftar menu yang ada di tangannya.
Ze mengerutkan alisnya heran. "Memangnya kenapa, Om?" tanya Ze.
"Ya, biar tubuhmu sedikit lebih berisi. Aku takutnya pas di hari pernikahan kita, gaun pengantinmu kedodoran, 'kan tidak lucu," jawab Jimmy tanpa mempedulikan ekspresi Ze kesal Ze saat itu.
__ADS_1
...***...