
Sepeninggal Ze, Evan memilih bergabung di meja kedua temannya, Aldi dan Daniel. Ketiga orang itu mulai berbincang sambil tertawa renyah di ruangan tersebut tanpa memikirkan bagaimana kondisi Ze saat ini.
"Bagaimana aktingku menurut kalian? Bagus 'kan?" tanya Evan dengan bangga.
"Keren, lah!" sahut Aldi seraya mengacungkan kedua jempolnya ke hadapan Evan.
"Nah, Daniel. Bersiaplah untuk berpisah dengan mobil kesayanganmu itu," ejek Evan kepada Daniel yang kini menekuk wajahnya.
"Ini baru permulaan, Van. Masih ada waktu satu bulan lagi, sebelum kamu benar-benar memenangkan taruhan kita," sahut Daniel.
"Kecil, itu bukan masalah bagiku," sahut Evan dengan keyakinan penuh.
Daniel meraih ponselnya kemudian memperlihatkan video hasil rekamannya kepada Evan. "Lihatlah, Evan. Kamu dan gadis itu memang tampak serasi. Jangan-jangan kalian memang jodoh lagi," goda Daniel sambil tertawa renyah.
"Ah, sialan kamu!" kesal Evan seraya meraih ponsel milik Daniel kemudian memperhatikan video tersebut dengan seksama. "Ya, Tuhan! Aku benar-benar seperti orang bodoh, ya!" gumam Evan sambil menggelengkan kepalanya.
Daniel dan Aldi tertawa lepas setelah mendengar ucapan Evan barusan. "Kamu dengar itu, Di. Evan akhirnya mengaku bahwa dirinya bodoh," ucap Daniel kepada Aldi yang masih terbahak.
__ADS_1
"Tertawalah sepuas kalian hari ini! Karena satu bulan lagi giliranku yang akan tertawa puas menertawakan kalian berdua," sahut Evan, membalas tertawaan yang dilakukan oleh kedua sahabatnya.
Tepat di saat itu ponsel milik Evan tiba-tiba bergetar. Sebuah notifikasi pesan masuk ke nomor pribadinya. Evan segera meraih benda pipih tersebut kemudian membuka pesan itu.
"Sialan! Lalu bagaimana dengan gadis itu?" gumam Evan dengan raut wajah kesal menatap layar ponselnya.
"Ada apa, sih?" tanya Aldi heran. Bukan hanya Aldi, Daniel pun tidak kalah bingung setelah melihat ekspresi sahabatnya itu.
"Ini pesan dari sopir taksi online yang aku pesan untuk Ze. Ternyata sopir itu membatalkan pesananku dengan alasan anaknya sakit dan harus segera dibawa ke Rumah Sakit. Lah, trus gimana nasib Ze di luar sana?" tutur Evan dengan wajah cemas.
"Ah, sudahlah! Tidak usah dihiraukan. Paling-paling dia bakal naik taksi lain, bukankah dia bilang bahwa dia sudah terbiasa menaiki angkutan umum?" sahut Daniel.
Sementara itu di depan halaman restoran mewah tersebut.
Ze masih terdiam di depan restoran sambil memperhatikan jalan. Sudah berkali-kali gadis itu melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya dengan cemas. Waktu sudah menunjukkan pukul 23.00, tetapi taksi online yang dipesan oleh Evan tidak juga kelihatan batang hidungnya.
"Ya, Tuhan! Apa Evan sudah membohongiku, ya?" gumam Ze dengan raut wajah sedih. "Ah, semoga saja tidak," lanjutnya.
__ADS_1
Ze melangkah keluar dan sekarang ia berdiri tepat di pinggir jalan raya yang masih ramai dengan hilir mudik kendaraan bermotor. Namun, sayangnya jalanan saat itu hanya didominasi oleh kendaraan pribadi dan Ze tidak menemukan satupun taksi yang bisa membawanya kembali ke rumahnya.
"Oh, astaga! Bagaimana ini? Apakah aku harus kembali ke dalam kemudian meminta Evan mengantarkan aku kembali?" gumamnya lagi.
Tepat di saat itu ada seorang laki-laki yang entah berasal dari mana, tiba-tiba saja berdiri di samping Ze sambil melototkan mata kepadanya. "Heh, serahkan tasmu!" pinta lelaki itu sembari menarik tas Ze.
Ze kalang kabut ketika tasnya ditarik oleh lelaki itu dengan paksa. Dengan sekuat tenaga, Ze mempertahankan tasnya. Sebenarnya di dalam tas itu hanya berisi liptint, bedak, cermin kecil, sisir, ponsel serta dompet yang isinya pun tidak seberapa. Namun, Ze tetap ingin mempertahankannya karena ponsel tersebut adalah ponsel semata wayangnya.
"Lepaskan tasku, atau aku akan berteriak!" ancam Ze dengan mata membulat dan masih mempertahankan tasnya.
"Ayo, coba saja kalau kamu berani!" Lelaki itu malah mengeluarkan sebuah pisau lipat dan mengacungkannya kepada Ze.
Ze panik, ia ketakutan melihat pisau tersebut mengacung di hadapannya. "Eh, itu pisau beneran atau mainan, Mas?" tanya Ze panik, tetapi tangannya masih erat memegang tas kesayangannya.
"Sialan, ini asli lah! Mau coba? Sini," sahut lelaki itu.
"Eh, jangan-jangan!" Ze menggelengkan kepalanya dengan cepat.
__ADS_1
"Heh! Lepaskan tas gadis itu!" Terdengar suara teriakkan dari belakang dan entah mengapa suara berat dan seksi tersebut terasa tidak asing di telinga Ze.
***