
Sepeninggal kedua sahabatnya, Evan yang masih bersembunyi di balik pintu kamar, akhirnya keluar dari persembunyiannya tersebut. Ia menghampiri tempat tidur dan memperhatikan Ze yang masih menggeliatkan badannya.
"Maafkan aku, Ze, Om! Aku terpaksa melakukan ini semua."
Evan mendekati tubuh Ze yang sudah tidak berdaya kemudian melepaskan pakaian yang sedang dikenakan oleh gadis itu satu-persatu. Hingga akhirnya tubuh Ze pun terlihat polos. Tak sehelai benang pun menempel di tubuh ratanya.
Setelah selesai melepaskan seluruh pakaian Ze, Evan menutupi tubuh gadis itu dengan selimut yang sama dengan selimut yang digunakan oleh Om-nya tersebut.
"Aku yakin tidak akan terjadi apa-apa pada kalian malam ini. Karena saat ini kondisi kalian sama-sama sedang tidak sadarkan diri," gumam Evan lagi.
Dengan sengaja Evan menyebar pakaian Ze ke sekeliling tempat tidur agar terkesan kedua orang yang sedang terlelap itu benar-benar melakukan hal yang tidak senonoh di kamar tersebut.
Setelah selesai melakukan tugasnya, Evan pun segera keluar dari kamar tersebut dan meninggalkan Ze bersama Jimmy di ruangan itu.
Di kediaman Ze.
__ADS_1
Bu Lidya kembali berjaga di depan teras rumahnya dengan memegang senjata andalannya, sapu ijuk. Ze paling takut jika melihat Ibunya menenteng benda pusaka tersebut.
"Benar-benar ni anak! Lagi-lagi dia membohongiku! Awas ya kamu, Ze. Ini sudah kali kedua kamu membohongi Ibu!" gerutu Bu Lidya.
Cukup lama Bu Lidya berdiri di situ sambil terus memperhatikan jalan. Setiap kali ada orang yang berjalan di kejauhan, ia selalu berharap itu adalah Ze. Anak perempuan semata wayangnya.
"Ya Tuhan, Ze! Kamu di mana?" gumam Bu Lidya yang mulai cemas.
Bu Lidya yang tadinya terlihat kesal, sekarang malah berubah menjadi kekhawatiran yang amat sangat. Bu Lidya meraih ponsel jadulnya kemudian mencoba menghubungi nomor ponsel Ze. Namun, hingga puluhan kali ia mencoba menghubungi nomor Ze, tetap tidak ada jawaban dari anak gadisnya tersebut.
"Kamu kenapa, Ze? Kenapa panggilan Ibu tidak diterima? Apakah ada sesuatu yang terjadi padamu saat ini?" gumam Bu Lidya dengan wajah cemas.
Tak terasa pagi pun menyapa, Bu Lidya terbangun dari tidurnya. "Astaga, aku ketiduran! Apakah sekarang Ze sudah pulang? Lalu di mana dia?" gumam Bu Lidya seraya mencari keberadaan Ze dan berharap anak perempuannya itu sudah pulang. Namun, anak gadisnya itu tetap tidak terlihat batang hidungnya.
Bu Lidya sangat sedih. Ini pertama kalinya Ze pamit hingga semalam penuh. Seandainya ia tahu di mana alamat hotel itu, mungkin Bu Lidya sudah menyusul anak gadisnya ke tempat itu. "Semoga kamu baik-baik saja, Nak."
__ADS_1
Untuk menghibur hatinya yang sedang tidak menentu, Bu Lidya memilih melakukan pekerjaan rumah seperti biasa. Tidak lupa ia juga mengecek kamar Ze. Membersihkan kamar tersebut, memgambil cucian kotor yang menumpuk kemudian menjemur kasur milik Ze.
Setelah selesai melakukan tugasnya, Bu Lidya kembali mengistirahatkan tubuhnya di kursi ruang depan sambil berharap Ze akan menghubunginya.
Sementara itu,
Daniel dan Aldi yang sudah berencana menggerebek Ze dan Evan di kamar VIP tersebut, sengaja menyewa seorang Polisi untuk menggerebek mereka berdua. Pada awalnya Polisi tersebut menolak, tetapi setelah mendengar penjelasan lebih lanjut dari Daniel, lelaki itu pun setuju.
Dengan langkah cepat, Daniel, Aldi, Pak Polisi dan salah seorang petugas hotel berjalan menuju kamar VIP tersebut. Mereka tidak ingin pasangan itu keburu pergi dan rencana mereka menggerebek pasangan itu gagal.
Setibanya di kamar tersebut, Pak Polisi segera membuka pintu kamar yang memang tidak terkunci dan membuat padangan itu terperanjat.
"Nah, itu mereka! Benar 'kan!" celetuk Aldi.
Dan terjadilah penggerebekan tersebut.
__ADS_1
❤❤❤ Flash Back Off ❤❤❤
Wahaha, ini pertama kalinya Author bikin cerita flash back sampai 20 bab banyaknya 😆😆😆 Maafkan Author ya .... 🙏🙏🙏