
"Jimmy?!" panggil Sang Mommy.
Wanita yang biasa disapa Nyonya Martha tersebut sedang duduk bersantai di ruang utama bersama seorang perawat yang selama ini bertugas merawatnya. Ya, karena usianya yang sudah tidak lagi muda, Nyonya Martha membutuhkan seorang perawat untuk menjaga dan merawatnya.
Nyonya Martha menautkan kedua alisnya ketika melihat Jimmy yang sedang melangkahkan kakinya dengan sangat cepat menaiki tangga dan aura wajah lelaki itu pun terlihat sedang tidak baik.
Namun, bukannya menjawab panggilan Sang Mommy. Jimmy malah meneruskan langkah cepatnya menaiki satu-persatu anak tangga menuju lantai dua, di mana kamarnya dan kamar Evan berada di lantai tersebut.
"Jimmy, kamu kenapa, Nak?" panggil Nyonya Martha untuk kedua kalinya. Namun, kali ini wajahnya terlihat cemas ketika menatap Jimmy yang terus berjalan menjauhinya.
"Jimmy kenapa, ya?" tanya Bu Martha kepada perawatnya.
Perawat tersebut menggelengkan kepalanya pelan. "Entahlah, Nyonya," jawab perawat tersebut.
Perasaan Nyonya Martha benar-benar tidak nyaman saat itu. Ia merasakan sebuah firasat buruk dan yakin akan terjadi sesuatu yang tidak mengenakkan di atas sana. Nyonya Martha bangkit dari posisi duduknya dan berniat mengikuti Jimmy.
"Sepertinya aku harus menyusul Jimmy," gumam Nyonya Martha sembari melangkahkan kakinya menuju anak tangga dan diikuti oleh perawat dari belakang.
__ADS_1
Kini Jimmy berdiri tepat di depan pintu kamar milik Evan dan tanpa permisi, Jimmy membuka pintu tersebut dengan keras kemudian masuk ke dalam ruangan itu.
Evan yang sedang asik bersandar di sandaran tempat tidurnya, terperanjat dan membulatkan matanya ketika melihat Jimmy yang tiba-tiba saja masuk ke dalam kamarnya tanpa permisi.
Evan sangat ketakutan ketika Jimmy mendekat ke arahnya dengan wajah beringas. "O-om Jimmy?!"
"Dasar laki-laki kurang ajar!"
Jimmy menarik tubuh Evan yang masih berada di atas tempat tidur kemudian menyeretnya menjauh dari tempat tidur dan dengan secepat kilat, sebuah bogeman mentah melayang tepat ke wajah lelaki itu.
Bugkhhh!
Namun, baru saja Jimmy berniat untuk meluncurkan serangannya. Tiba-tiba Nyonya Martha masuk sambil berlari kecil menghampiri kedua lelaki itu. Ia berteriak histeris sambil menitikan air mata.
"Hentikan, Jimmy! Sudah, jangan lakukan itu! Mommy mohon," ucap Nyonya Martha sambil terisak. Ia menghampiri Evan kemudian memeluknya sambil memohon kepada Jimmy untuk tidak menyakiti cucu semata wayangnya lagi.
"Jangan lakukan itu lagi, Jimmy!"
__ADS_1
Jimmy membuang napas kasar dan menghentikan aksinya. "Hari ini kamu selamat, Evan! Tetapi kamu harus ingat, aku tidak akan pernah memaafkanmu jika kamu berani melakukan hal menjijikkan itu lagi! Benar-benar tidak lucu!" kesal Jimmy dengan wajah memerah menatap Evan yang sekarang berada di dalam pelukan Nyonya Martha.
"Memangnya apa yang terjadi, Jimmy, hingga kamu tega menyakiti keponakanmu sendiri?" tanya Nyonya Martha.
"Tanyakan saja pada cucu kesayangan, Mommy." Setelah mengucapkan hal itu, Jimmy pun melenggang pergi dan kembali ke kamarnya.
Kini tinggal Evan dan Nyonya Martha di ruangan itu. Nyonya Martha yang masih panik meminta perawat memberikan pertolongan kepada Evan yang hidungnya masih mengeluarkan darah dan dengan sigap, perawat tersebut membantu segera Evan.
Setelah Evan kembali beristirahat di atas tempat tidurnya, Nyonya Martha duduk di samping tubuh Evan sembari mengelus puncak kepalanya. "Sebenarnya apa yang terjadi, Evan? Bagaimana bisa Om-mu sampai semarah itu padamu? Hmmm," tanya Nyonya Martha.
Evan menggelengkan kepalanya pelan. "Bukan apa-apa, Oma. Mungkin Om hanya salah paham saja," sahut Evan yang tidak berani berkata jujur kepada Nyonya Martha. Padahal ia tahu benar apa yang menyebabkan Jimmy begitu marah kepadanya.
"Salah paham? Salah paham kenapa?" pekik Nyonya Martha dengan wajah bingung.
Evan tersenyum kemudian meraih tangan wanita tersebut dan menciumnya. "Tidak usah dipikirkan, Oma. Nanti tekanan darah Oma naik lagi. Lagi pula ini hanya sebuah kesalahan pahaman dan Evan yakin paling-paling besok pagi Om Jimmy akan minta maaf sama Evan," tutur Evan mencoba menenangkan wanita tersebut.
"Kamu yakin?"
__ADS_1
"Ya, Oma. Evan yakin, sangat yakin!" jawab Evan mantap.
...***...