My Naughty Uncle

My Naughty Uncle
Permintaan Maaf Evan


__ADS_3

Perlahan Evan menghampiri Ze yang masih berdiri tak jauh darinya. Ia menyunggingkan sebuah senyuman hangat yang menurut Ze, benar-benar sungguh menyebalkan.


Apa lagi jika ia ingat bagaimana perlakuan Evan di malam itu kepadanya. Lelaki itu juga tersenyum seperti itu sebelum ia menghancurkan perasaannya hingga berkeping-keping.


"Apa yang ingin kamu bicarakan padaku, Evan?" tanya Ze sedikit sinis. Ia memasang wajah malas ketika bersitatap dengan lelaki itu.


"Ehm, ini soal kekhilafanku malam itu. Maafkan aku, Ze. Aku benar-benar khilaf! Aku benar-benar menyesali perbuatanku," sahut Evan dengan wajah memelas. Evan berharap dengan begitu Ze bersedia memaafkan dirinya.


"Khilaf? Sebenarnya kamu tahu tidak 'sih arti khilaf? Khilaf itu adalah suatu kesalahan yang dilakukan secara tidak disengaja. Namun, apa kamu sudah lupa? Kesalahan yang kamu dan teman-temanmu lakukan kepadaku sudah kalian rencanakan dengan sangat matang!" kesal Ze.


Evan terdiam, kata-kata yang diucapkan oleh Ze barusan benar-benar menusuk ke dalam lubuk hatinya yang paling dalam. Evan sangat menyesal, sangat-sangat menyesali perbuatannya terhadap gadis itu.


Ze menghembuskan napas berat. "Jujur, aku sangat kecewa dan marah setelah tahu bahwa ternyata aku hanya dijadikan bahan taruhan oleh kalian. Aku rasa bukan hanya aku, tetapi seluruh wanita di dunia ini pasti akan sangat marah saat dirinya hanya dijadikan bahan taruhan, Evan! Namun, sayangnya aku bukan seorang pendendam. Aku bahkan sudah menerima takdirku saat ini dengan lapang dada," lanjut Ze.


Evan tertunduk malu. Ia sadar apa yang dikatakan oleh Ze itu benar adanya. "Ja-jadi ... apakah kamu bersedia memaafkan semua kesalahanku, Ze?"

__ADS_1


Evan memberanikan diri mengangkat kepalanya kembali dan menatap Ze lekat dengan wajah penuh harap.


Ze terdiam untuk sesaat hingga akhirnya ia pun bersedia menjawab pertanyaan lelaki itu. "Ya, aku memaafkanmu," sahut Ze.


Ze berbalik dan ingin segera kembali ke kamarnya. Namun, lagi-lagi tubuhnya tertahan. Evan meraih tangan Ze dan menahannya agar tetap berada di ruangan itu bersama dirinya.


"Apa yang kamu lakukan? Lepaskan tanganku! Aku tidak ingin Mas Jimmy melihat ini kemudian salah paham kepadaku," ucap Ze dengan wajah kesal.


"Kenapa kamu begitu mengkhawatirkan Om Jimmy? Bukankah pernikahan kalian selama ini hanya karena keterpaksaan? Kamu masih mencintaiku 'kan, Ze?" Evan menatap lekat wajah kesal Ze tanpa melepaskan pegangan tangannya.


Namun, jauh di luar dugaannya, ia harus melihat kebersamaan istri dan keponakannya di ruangan itu. Jimmy mencoba menajamkan pendengarannya, mencoba mendengarkan apa yang sedang dibicarakan oleh kedua orang itu di dalam sana.


Sementara itu, Ze tertawa pelan sambil menggelengkan kepalanya setelah mendengarkan pertanyaan Evan kepadanya.


"Kamu memang benar, Evan. Pernikahan kami memang atas dasar keterpaksaan. Dan ya, tentu saja aku mengkhawatirkan bagaimana perasaan Mas Jimmy karena dia adalah suamiku! Lelaki yang berani bertanggung jawab dan begitu menghargai diriku sebagai seorang perempuan," tegas Ze.

__ADS_1


Ze menarik tangannya dari genggaman Evan dengan kasar hingga terlepas. Evan tidak bisa berbuat apa-apa dan untuk kesekian kalinya hati lelaki itu kembali tersentil oleh perkataan Ze.


"Jadi ... tidak adakah kesempatan kedua untukku?" tanya Evan lagi dengan wajah sendu.


Ze menggelengkan kepalanya dengan cepat dan penuh keyakinan. "Aku memang bukan seorang pendendam dan aku sudah ikhlas memaafkan seluruh kesalahanmu, Evan. Tapi, untuk membuka kembali hatiku, Maaf, aku tidak bisa," jawab Ze.


Ze melanjutkan langkahnya dengan cepat. Ia ingin kembali ke kamarnya dan menemui Jimmy yang mungkin saat sudah menunggunya. Sedangkan Jimmy, ia segera beranjak dari tempat itu setelah melihat Ze pergi meninggalkan Evan.


Evan yang masih penasaran, terus memanggil nama Ze dan berharap wanita itu kembali lagi. Namun, Ze tidak peduli ia terus memacu langkahnya tanpa mempedulikan panggilan dari Evan.


Kini Jimmy berdiri tepat di depan tangga sambil merapikan kemejanya, seolah-olah dia baru saja turun dari kamar mereka. Ze yang baru saja tiba di ruangan itu, tersenyum menatap Jimmy yang sudah terlihat keren sama seperti biasanya.


"Dari mana kamu, Ze? Tadi aku mencarimu tetapi tidak menemukanmu di mana-mana," ucap Jimmy sambil membalas senyuman Ze dan mencoba mengetes kejujuran istri kecilnya itu.


...***...

__ADS_1


__ADS_2