
Pesta masih berlangsung dan bahkan terlihat semakin meriah. Jimmy yang sama sekali tidak menyadari bahwa minuman yang diberikan kepadanya sudah bercampur obat tidur, terus meminum minuman tersebut hingga habis.
Setelah beberapa saat obat itu pun mulai beraksi dan mata lelaki itu pun mulai terasa berat. Bahkan sangat berat hingga Jimmy tidak sanggup menahan rasa kantuknya.
"Ya, Tuhan! Kenapa mataku ngantuk sekali," gumam Jimmy. Bahkan sudah beberapa kali lelaki itu menguap. "Astaga, apa yang sebenarnya terjadi padaku?!" pekiknya.
Karena sudah tidak sanggup menahan rasa kantuknya, Jimmy pun memutuskan untuk pergi meninggalkan pesta tersebut. Ia keluar dari ballroom dan berniat menuju lobby hotel, tetapi tiba-tiba saja ia teringat akan Cardlock yang diberikan oleh Evan kepadanya.
"Aku tidak mungkin mengemudi dengan kondisiku yang seperti ini. Bisa-bisa aku membahayakan nyawaku sekaligus nyawa orang lain. Apa sebaiknya aku tidur di sini saja?" gumamnya seraya meraih Cardlock yang diberikan oleh Evan.
Setelah menimbang-nimbang, akhirnya Jimmy pun memutuskan untuk menuju suiteroom tersebut dan beristirahat di sana. Setibanya di kamar tersebut, Jimmy melepaskan seluruh pakaiannya dan hanya meninggalkan celana boxer yang melekat erat, menutupi sesuatu yang terlihat menonjol di bawah sana.
Ia kemudian melemparkan seluruh pakaiannya ke sembarang arah, di lantai kamar tersebut. Jimmy memang tidak terbiasa tidur dengan menggunakan pakaian dan ia sudah terbiasa tidur dengan hanya menggunakan celana boxer saja.
Jimmy menjatuhkan tubuhnya yang lelah ke atas tempat tidur kemudian menutupinya dengan selimut dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Jimmy yang sudah merasakan kantuk yang amat sangat langsung tertidur tanpa mengunci pintu kamarnya. Tanpa ia sadari, orang kepercayaan Evan terus mengintainya sambil menyeringai. Lelaki itu kembali ke pesta dan menemui Evan setelah ia memastikan bahwa Jimmy benar-benar sudah tertidur pulas.
__ADS_1
"Bagaimana? Apa Om Jimmy sudah tidur?" tanya Evan.
"Ya, Tuan. Semuanya sudah beres!" jawab lelaki itu.
"Baiklah, sekarang saatnya membereskan masalahku bersama gadis ini!" ucap Evan seraya menghampiri meja Ze.
Ze merasa sangat bosan di tempat itu karena tidak ada teman yang bisa diajak bicara. Namun, tiba-tiba saja rasa bosannya sirna tatkala ia menatap Evan yang kini datang mendekat ke arah mejanya. Ia tersenyum hangat saat Evan membalas tatapannya.
"Ze, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu. Ini soal hubungan kita," ucap Evan dengan wajah serius.
Ze tampak kebingungan setelah mendengar ucapan lelaki itu. Evan duduk tepat di hadapan Ze kemudian menatap gadis itu dengan seksama.
"Ya, kamu benar. Kini saatnya kamu beraksi, Daniel. Selamatkan gadis itu dari rasa kecewanya," sahut Aldi.
"Tapi, aku butuh bantuanmu, Di. Pastikan Evan meminum obat ini, bagaimanapun caranya. Dia pasti akan kepanasan dan ...." Daniel menyeringai licik membayangkan Evan kepanasan dan melampiaskannya kepada gadis itu.
"Lalu bagaimana dengan gadis itu?" tanya Aldi menatap Daniel dengan wajah serius.
__ADS_1
"Soal gadis itu bagianku, kamu tenang saja!" lanjut Daniel.
Kembali ke meja Ze.
"Ada apa, Van?" tanya Ze dengan wajah bingung menatap Evan. Entah mengapa Ze merasakan firasat yang tidak baik dari ucapan Evan barusan.
"Aku ingin hubungan kita berakhir saat ini juga," sahut Evan dengan wajah datar membalas tatapan Ze.
Ze terkejut bukan main. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa Evan akan memutuskan hubungan mereka tanpa sebab yang jelas. Ze menggelengkan kepalanya dengan wajah kusut. "Ta-tapi kenapa, Evan? Aku punya salah apa? Jika aku ada salah, tolong beritahu aku," lirih Ze.
"Kamu tidak memiliki kesalahan apapun kepadaku, Ze. Tapi ... maafkan aku, aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita karena semua ini hanyalah sebuah permainan, Ze. Hanyalah sebuah permainan," sahut Evan tanpa merasa bersalah sedikitpun kepada gadis itu.
"Permainan?!" pekik Ze. "Permainan apa maksudmu?"
Evan menghembuskan napas berat. "Sejujurnya aku dan kedua sahabatku menjadikanmu sebagai bahan taruhan. Siapa yang berhasil memenangkan taruhan itu maka ia akan mendapatkan ini!" Evan memperlihatkan kunci mobil milik Daniel di hadapan Ze.
"Kamu benar-benar kejam, Evan!" sahut Ze dengan wajah memerah menatap lelaki itu.
__ADS_1
...***...