My Naughty Uncle

My Naughty Uncle
Ish, Bau!


__ADS_3

"Mereka sudah mendapatkan buah mangga muda yang kamu inginkan, Sayang. Sebenarnya, kasihan juga lihat mereka, bersusah payah hanya demi mendapatkan kata maaf darimu," ucap Jimmy sambil terkekeh pelan kepada Ze yang sedang asik mengulek sambal kacang pedas yang akan menjadi teman ketika nanti menikmati buah mangga muda tersebut.


"Hmm, kalau ingat kelakuan mereka dulu, aku rasa itu masih belum sepadan, Mas. Coba bayangkan bagaimana kita digerebek oleh polisi seolah kita pasangan mesum. Itu semua gara-gara keisengan mereka belaka. Belum lagi mereka mempermainkan perasaanku seolah aku tidak memiliki perasaan. Hhhh," kesal Ze.


Jimmy tersenyum tipis kemudian memeluk Ze dari belakang. "Ya, sudah. Yang lalu biarlah berlalu. Tapi, kalau dipikir-pikir seharusnya kita berterima kasih kepada mereka. Seandainya mereka tidak iseng melakukan itu, mungkin saat ini kita tidak akan menikah hingga saat ini. Benar, 'kan?"


Ze terdiam sejenak kemudian tersenyum. "Benar juga, ya. Eh, tapi Mas jangan mengucapkan terima kasih kepada mereka. Takutnya mereka malah jadi besar kepala nantinya," jawab Ze.


Selang beberapa saat akhirnya Evan dan kedua sahabatnya tiba di kediaman Mommy Martha dengan wajah kusut. Tubuh Evan dan Aldi bahkan masih terlihat bentol-bentol akibat gigitan semut rangrang yang menyerang mereka ketika memetik buah mangga tersebut.


Baru saja mereka ingin memasuki kediaman mewah tersebut, Ze sudah berlari kecil menyambut kedatangan Evan dan kawan-kawan. Sebenarnya bukan menyambut orangnya, melainkan sesuatu yang dibawa oleh ketiga lelaki itu.


"Mana buah mangganya?" tanya Ze sembari mengulurkan tangannya kepada ketiga lelaki itu.


Evan dan kedua sahabatnya, kompak menghembuskan napas berat mereka. "Ya ampun, Nona ... biarkan kami masuk dulu kek, kasih air minum buat membasahi kerongkongan kami yang terasa kering kerontang ini," keluh Evan dengan wajah memelas menatap Ze yang sedang berdiri di hadapannya.


"Oh, ok. Baiklah," sahut Ze sembari menyingkir dari depan pintu dan membiarkan ketiga lelaki itu masuk ke dalam rumah kemudian beristirahat di sofa yang ada di ruang utama.


"Ya Tuhan! Sepertinya aku butuh Mak Urut ini," keluh Aldi sambil memijat pelan kedua pundaknya secara bergantian.


"Ih, kamu benar, Di. Tulang belulangku terasa remuk semua," balas Evan.


Hanya Daniel yang tampak baik-baik saja, tetapi tidak dengan kondisi dompetnya. Karena ia tidak bisa ikut memanjat, jadi sebagai gantinya Daniel lah yang harus mengeluarkan kocek untuk membayar sebuah mangga muda tersebut dengan harga yang benar-benar tidak masuk di akal.

__ADS_1


Ze dan Jimmy ikut bergabung dan duduk bersama ketiga pemuda konyol tersebut sambil memperhatikan penampilan mereka. Lelaki tampan dan keren itu terlihat kucel dengan tubuh penuh bentol-bentol.


"Oh iya, hampir saja aku lupa." Evan menyerahkan buah mangga muda yang terbungkus kantong kresek berwarna hitam, berhasil mereka temukan tersebut kepada Ze.


Ze menyambutnya dengan wajah semringah. Ia tersenyum lebar sambil membuka bungkusan tersebut. "Terima kasih, ya."


"Aku yakin, dia pasti akan tergelak jika tahu berapa harga satu buah mangga muda itu. Benar 'kan?" bisik Aldi kepada Evan sambil menggaruk-garuk badannya yang penuh bentol-bentol merah.


Evan hanya tersenyum tipis sambil terus memperhatikan Ze yang tampak bahagia mendapatkan mangga muda tersebut. Namun, sepertinya kebahagiaan itu hanya bertahan hingga beberapa menit saja.


Setelah menciumi mangga tersebut, ekspresi wajah Ze mendadak berubah. "Ih, kenapa mangganya bau ketek begini?" pekik Ze sambil memasang wajah masam menatap ketiga lelaki itu. Ze bahkan sampai ingin muntah setelah mencium mangga tersebut.


Deg!


"Bau ketek, bagaimana?" Jimmy meraih mangga muda yang sedang dipegang oleh Ze kemudian menciumnya. "Tidak, kok!" sambung Jimmy.


"Ish, bau. Coba cium baik-baik, baunya seperti bau ketek! Aku tidak mau," jawab Ze sambil menekuk wajahnya.


Karena penasaran dengan apa yang diucapkan oleh Ze, Evan pun meraih mangga tersebut kemudian menciumnya sama seperti yang dilakukan oleh Jimmy sebelumnya.


"Bagaimana? Jangan-jangan itu bau ketekmu, Van. Tadi 'kan waktu kamu memetik buah itu, kamu menyimpannya di dalam kemejamu," celetuk Aldi kepada Evan sambil memasang wajah cemas.


"Ish, sialan kamu! Coba deh kalian cium sendiri, baunya ya seperti bau mangga muda," jawab Evan dengan setengah berbisik.

__ADS_1


Aldi dan Daniel pun tidak mau ketinggalan. Mereka juga menciumi aroma mangga tersebut.


"Wah, benar-benar ini bumil," gerutu Aldi pelan setelah tahu bahwa yang sebenarnya bermasalah saat ini adalah indera penciuman bumil tersebut.


"Lalu, bagaimana nasib buah ini? Apa kamu ingin mereka mencari ganti untuk buah ini?" tanya Jimmy kepada Ze yang masih menekuk wajahnya dengan sempurna.


"Jangan-jangan!!!" Ketiga pemuda itu menggeleng-gelengkan kepala mereka serempak. Ini bukan lagi sebuah keberuntungan melainkan musibah bagi mereka bertiga.


Ze memperhatikan wajah pucat ketiga pemuda konyol tersebut memudian menghembuskan napas berat. "Ya, sudah. Lupakan saja. Tapi, sebagai gantinya, kalian saja yang makan mangga itu. Lagi pula sayang 'kan, aku sudah buat sambel kacangnya," ucap Ze.


Ze meminta salah satu pelayan untuk mengambil sambal kacang yang sudah ia buat dengan susah payah kemudian meletakkannya di atas meja, di hadapan ketiga lelaki itu.


Setelah mangga muda itu dibersihkan dan dipotong-potong kecil, Ze pun mempersilakan mereka mencicipi mangga muda plus sambal kacang ekstra pedas buatannya.


"Makanlah, dan jangan lupa baca doa agar kalian tidak mencret setelah ini," tutur Ze.


Glek!


Mata ketiga lelaki itu membulat sempurna dan mau tidak mau, mereka pun harus mau. Lagi pula Om Jimmy masih memperhatikan mereka layaknya seorang tawanan.


"Sepertinya kita harus mampir ke apotik setelah balik dari sini, Di," bisik Daniel.


"Kamu benar," jawab Aldi sambil menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


***


__ADS_2