
Di perjalanan menuju kediaman Bu Lidya.
Ketika berada di dalam mobil, Tuan Harold tampak gelisah. Bukan karena ingin bertemu dengan sang pujaan hati, melainkan karena korset yang dipasangkan oleh Nick terasa begitu menjeratnya. Ia bahkan kesusahan menarik napas.
Ternyata Nick menyadari akan hal itu. Beberapa kali Nick melirik ekspresi Tuan Harold dari kaca spionnya. Pria itu terlihat serba salah di tempat duduknya. "Anda kenapa, Tuan Harold? Apa korset itu membuat Anda tidak nyaman?" tanya Nick.
"Sebenarnya, ya, Nick. Tapi kalau aku lepaskan korset ini, pasti perutku yang buncit ini akan kembali menggelembung," jawab Tuan Harold sembari mengelus perutnya.
Nick tertawa pelan. "Apa Anda yakin tidak ingin melepaskannya?" tanya Nick memastikan.
"Ya, demi Lidya," sahut Tuan Harold mantap.
"Oh ya, Tuan Harold. Apa Anda sudah tahu bahwa Jimmy sekarang membuka usaha gym? Anda bisa ikut latihan bersamanya untuk mengembalikan perut six pack Anda, Tuan," tutur Nick.
"Ya, aku tahu dan sepertinya aku memang membutuhkan itu. Mungkin nanti aku akan ke sana dan meminta bantuan Jimmy agar perutku kembali seperti semula," sahut Tuan Harold.
Tidak berselang lama, mereka pun tiba di kediaman Bu Lidya yang memang kebetulan ada Ze dan Jimmy di sana. Jimmy yang sedang asik membersihkan mobilnya di halaman rumah Bu Lidya, terperanjat ketika menyaksikan mobil mewah milik Tuan Harold masuk ke pekarangan rumah yang tidak terlalu luas tersebut.
Perlahan ia menghampiri mobil tersebut kemudian menyambut Tuan Harold yang baru keluar dari mobilnya sambil tersenyum hangat.
"Wah, Tuan Harold! Pasti Mommy yang bilang bahwa aku ada di sini, 'kan? Ada perlu apa ini? Pasti sangat penting, hingga Tuan rela menemuiku di sini," tutur Jimmy dengan wajah semringah.
Nick terkekeh pelan setelah mendengar ucapan Jimmy yang terdengar begitu percaya diri bahwa Tuan Harold datang ke tempat itu untuk menemui dirinya. Sementara Tuan Harold tampak heran. Ia menautkan kedua alisnya sambil menjawab ucapan Jimmy.
__ADS_1
"Siapa bilang aku kemari untuk mengunjungimu? Haha, pede sekali kamu."
Nick tergelak sedangkan Jimmy terlihat bingung. "Lah, kalau bukan untuk menemuiku, lalu Anda ingin menemui siapa?"
Baik Tuan Harold maupun Nick tidak ada yang berkeinginan menjawab pertanyaan Jimmy barusan. Mereka malah tersenyum sambil melangkah menuju teras rumah Bu Lidya. Jimmy yang sempat bingung, akhirnya sadar dan mengerti. Ia membulatkan matanya sambil menepuk pundak Nick pelan.
"Jangan bilang bahwa Tuan Harold ingin menemui Ibu mertuaku?!"
Nick kembali terkekeh pelan. "Kalau ya, memang kenapa?"
"Astaga, Nick! Kenapa kamu tidak pernah bercerita bahwa Tuan Harold ...." Jimmy memekik sembari memukul lengan sahabatnya itu.
"Heh, aku pun baru tahu sekarang! Coba kamu lihat penampilannya. Terlihat keren, bukan!" seru Nick.
"Hmm, setelan jasnya saja bukan kaleng-kaleng," ucap Jimmy dengan setengah berbisik kepada Nick.
"Ya, kamu benar. Aku ngiri, aku bahkan tidak sanggup membeli pakaian seperti itu," sahut Nick sambil memasang wajah sedih.
"Malang sekali nasibmu, Nick." Jimmy menepuk pundak sahabatnya itu sekali lagi.
Sementara itu di dapur, di mana Ze dan Bu Lidya masih memasak di ruangan itu. Ze kaget setelah mendengar ada suara mobil lain yang masuk ke pekarangan rumahnya. Ia mengintip dari jendela dan memperhatikan mobil mewah yang kini terparkir tepat di samping mobil milik Jimmy.
"Hah, bukannya itu mobil milik Tuan Harold? Astaga, baru juga kami membahas tentang lelaki itu. Eh, sekarang dia sudah berada di sini," gumam Ze dengan mata membulat.
__ADS_1
Bu Lidya memperhatikan Ze yang sedang asik bergumam sendiri sambil melongok di jendela. Ia penasaran dan akhirnya menghampiri anak perempuannya itu. "Ada apa sih, Ze? Apa yang sedang kamu perhatikan? Jimmy?" tanya Bu Lidya bingung.
"Bukan, Bu. Tapi pemilik mobil mewah itu," sahut Ze sembari menunjuk ke arah mobil mewah yang terparkir di samping mobil Jimmy.
"Hah, mobil siapa itu? Cakep bener mobilnya," sahut Bu Lidya.
Tepat di saat itu Jimmy masuk ke dalam ruangan itu sambil tersenyum-senyum hingga membuat Ze dan Bu Lidya kebingungan. Ia menghampiri kedua wanita itu kemudian berucap.
"Bu, di luar ada tamu. Dia ingin bertemu sama Ibu," ucap Jimmy kepada Ibu mertuanya tersebut.
Bu Lidya menautkan kedua alisnya heran. "Tamu? Siapa?"
Jimmy tidak menjawab. Lelaki itu masih tersenyum dan tangannya menunjuk ke arah luar, di mana Tuan Harold sudah duduk di sana sambil menunggu sang pujaan hati menemui dirinya.
"Siapa sih?" Bu Lidya berjalan menuju ruang depan sambil memasang wajah heran. Sedangkan Ze memastikan bahwa kompornya sudah mati semua kemudian bersiap menyusul Ibunya tersebut.
"Tuan Harold 'kan, Sayang?" tanya Ze kepada Jimmy yang kini sedang menggandeng tangannya.
"Ya. Selamat ya, sebentar lagi kamu akan memiliki seorang Ayah sambung. Bagaimana? Apa kamu bahagia?" tanya Jimmy balik.
Ze tersenyum lebar. "Jika Ibu bahagia, aku pun ikut bahagia, Mas. Lagi pula aku sangat setuju jika Ibu memiliki pasangan di usianya saat ini. Setidaknya aku merasa tenang ketika aku tidak berada di sampingnya. Yang pastinya, ada seseorang yang akan menjaganya, benar 'kan?" sahut Ze.
"Ya, kamu benar."
__ADS_1
...***...