
Daniel, Evan dan Aldi masih di perjalanan mencari pohon mangga yang sedang berbuah. Namun, naasnya saat itu bukanlah musim buah mangga. Sudah banyak kebun mangga yang mereka datangi, tetapi mereka tetap tidak menemui pohon mangga yang sedang berbuah.
"Ya, Tuhan! Aku lelah," keluh Daniel sambil menyandarkan kepalanya ke sandaran jok.
"Heh, bukan hanya kamu yang lelah! Aku juga lelah," jawab Evan kesal sambil terus memperhatikan sepanjang jalan yang ia lewati. Mencari pohon mangga yang berbuah di saat seperti ini, bagai mencari sebuah harta karun yang sudah lama terpendam di dalam perut bumi.
"Evan, lihat itu!" seru Daniel sambil menepuk-nepuk jok, di mana Evan sedang duduk di depan kemudinya. Lelaki itu menunjuk sebuah pohon mangga yang tumbuh subur di depan rumah seorang warga.
"Mana?" tanya Evan sembari memperhatikan tempat yang ditunjuk oleh Daniel. Setelah memperhatikan pohon mangga tersebut, ia pun tersenyum lebar.
"Wah, ternyata matamu jeli juga, Daniel! Aku kira matamu itu hanya berfungsi ketika melihat cewek cantik saja," sambung Evan.
"Ah, sialan kamu!" gerutu Daniel sambil menepuk pundak Evan dengan kesal.
"Ya, di saat kepepet seperti ini matanya memang dapat di andalkan, Evan," sela Aldi sambil terkekeh.
"Hush, jangan ikut-ikutan!" kesal Daniel.
Evan menepikan mobilnya ke tempat yang aman kemudian mereka bertiga menghampiri pohon mangga milik salah satu warga di tempat itu. Sebuah pohon mangga yang tumbuh dengan subur. Pohonnya tinggi besar dengan dipenuhi daun-daun yang berukuran besar pula.
Di antara rimbunnya daun mangga tersebut, tampak satu buah mangga muda yang berukuran sangat besar menggantung di salah satu rantingnya. Namun, sayang letaknya sangat jauh, hampir berada di puncak pohon yang besar itu.
__ADS_1
"Heh, mereka yang akan punya bayi, kenapa sekarang kita yang repot?" gerutu Aldi sambil menggaruk kepalanya menatap pohon mangga tersebut.
"Lah, dari pada nasibmu semakin apes? Apa kamu mau nasibmu semakin apes karena Ze tidak bersedia memaafkan kesalahanmu?" seru Daniel.
"Lagi pula kita masih beruntung karena Ze tidak meminta kita naik pohon kelapa. Coba bayangkan jika wanita itu meminta kita menaiki pohon kelapa, pas jatuh kita koit! Misal selamat pun, pasti kita berakhir di Rumah Sakit," lanjut Daniel sambil mendengus kesal.
"Ish, kalian ini berdebat saja kerjaannya. Sekarang pikirkan, siapa yang akan menaiki pohon ini? Ini satu-satunya buah mangga yang kita temukan dan ingat pesan wanita itu dipetik, bukan dicolok!" sela Evan sambil menggelengkan kepalanya menatap pohon tersebut.
Daniel dan Aldi tertawa pelan. Namun, dilihat dari raut wajah mereka saat itu, mereka bukannya sedang tertawa bahagia, tetapi tengah menangis di dalam hati.
"Kamu benar, siapa yang akan menaiki pohon ini? Apa salah satu dari kalian punya pengalaman menaiki pohon sebelumnya?" tanya Daniel sambil memperhatikan wajah Aldi dan Evan secara bergantian.
"Aku adalah cucu kesayangan Oma, mana pernah aku naik-naik pohon. Jangankan menaiki pohon, naik ke atas meja saja aku dilarang. 'Evan sayang, jangan naik ke atas meja, nanti kamu jatuh!'," ucap Evan sambil menirukan bagaimana gaya Mommy Martha ketika menegurnya.
"Bagaimana denganmu?" tanya Evan kepada Aldi yang hanya diam sambil tersenyum kecut menatap mereka berdua.
"Aku tidak pernah naik pohon setinggi ini sebelumnya, Van. Aku takut jatuh," jawab Aldi.
"Lah, apa kamu kira aku tidak takut jatuh, begitu?" kesal Evan. "Beruntunglah kamu, Daniel! Kakimu menyelamatkan dirimu dari tugas berat ini," lanjut Evan sambil memicingkan matanya menatap Daniel.
Ya, kondisi kaki Daniel yang masih belum sembuh menyelamatkan lelaki itu dari tugas mereka hari ini. Jangankan untuk memanjat pohon mangga berukuran besar tersebut, untuk berjalan pun ia masih menggunakan alat bantu.
__ADS_1
"Sudahlah, kalian suit saja. Dari pada kalian ribut-ribut, 'kan?" sahut Daniel mencoba memberi saran.
"Asyeem!" kesal Evan.
Baru saja Evan dan Aldi ingin melakukan suit untuk menentukan siapa yang akan menaiki pohon mangga tersebut, tiba-tiba sang empunya pohon menghampiri mereka.
"Maaf, ada apa ya?" tanya lelaki paruh baya tersebut sambil memperhatikan ketiga pemuda yang sedang berdiri di bawah pohon mangga kesayangannya.
"Ehm begini, Pak. Bolehkah kami membeli buah mangga muda milik Bapak itu?" ucap Evan sambil menujuk ke atas pohon, di mana terdapat sebuah mangga muda yang menggantung di atas sana.
Lelaki paruh baya tersebut menggelengkan kepalanya. "Maaf, tidak bisa. Itu milik Anak Bapak. Anak Bapak saat ini sedang hamil muda dan ia ingin mangga itu dibiarkan di sana hingga matang," jawab lelaki itu.
Sontak saja tubuh ketiga pemuda itu lunglai. Buah itu adalah satu-satunya harapan mereka dan tidak mungkin mereka harus berkeliaran lagi tanpa arah mencari buah langka tersebut. Langka karena memang belum musimnya untuk berbuah.
"Ayolah, Pak! Kasihanilah kami," lirih Evan dengan wajah memelas menatap lelaki paruh baya tersebut.
"Benar, Pak! Kami melakukan ini demi seorang bumil yang sedang ngidam buah mangga muda yang langsung di petik dari pohonnya," timpal Aldi.
"Kami akan bayar berapapun asalkan Bapak bersedia memberikan kami buah itu, ya?" bujuk Daniel.
Lelaki paruh baya tersebut tampak berpikir keras. Di satu sisi, ia mendapatkan tawaran yang menggiurkan dari ketiga pemuda itu. Namun di sisi lain, anak perempuannya pun menginginkan buah mangga tersebut.
__ADS_1
...***...