My Naughty Uncle

My Naughty Uncle
Ze Sadar


__ADS_3

Jimmy membawa Ze yang masih berpura-pura pingsan ke ruang pribadinya kemudian merebahkan istri kecilnya itu ke atas sofa yang ada di ruangan tersebut. Tidak berselang lama, salah satu sahabat Jimmy yang tadi melayani Ze tiba di ruangan itu dan menghampiri Jimmy.


"Sepertinya kamu sedang dalam masalah besar, Jimmy!" ucapnya sambil menepuk pundak Jimmy yang sedang berjongkok di depan sofa.


Jimmy mendongak kemudian menatap sahabatnya itu. "Apa maksudmu?" tanya Jimmy dengan alis yang saling bertaut. Ia bangkit dari posisinya dan kini berdiri tepat di hadapan lelaki itu.


"Aku benar-benar tidak tahu kalau dia adalah istrimu, Jimmy. Pantas saja aku merasa ada yang aneh pada gadis ini. Di saat aku membantunya menaiki treadmill, tatapan Ze terus tertuju padamu dan ia juga sempat mempertanyakan tentangmu dan wanita itu," tutur lelaki tersebut.


"Wanita itu? Siapa wanita itu?" tanya Jimmy heran.


"Wanita yang tadi bersamamu! Pelanggan nomor wahidmu," ucapnya lagi.


Jimmy membulatkan matanya dengan sempurna. "Astaga, jadi dia memperhatikanku bersama wanita itu? Ya Tuhan, mati aku!" gumam Jimmy sambil menepuk jidatnya.


Lelaki itu tertawa pelan. "Hah, mana jiwa premanmu dulu, Jimmy?! Di balik jiwa mengerikanmu, ternyata kamu takut dengan wanita bertubuh mungil ini."


"Sialan kamu! Nanti kalau kamu sudah menikah, kamu pun pasti akan merasakan apa yang aku rasakan saat ini!" kesal Jimmy. "Sudah, sekarang ambilkan aku minyak kayu putih atau minyak angin di kotak P3K," titahnya.

__ADS_1


"Baik, Boss! Ingat ya, siap-siap kedinginan malam ini. Brrr brrr ...." ejek lelaki itu sambil berjalan keluar dari ruangan tersebut.


"Dasar anak buah tidak tahu diri! Aku potong gajimu, baru tahu rasa," kesal Jimmy.


Setelah lelaki itu pergi, Jimmy kembali memperhatikan Ze yang masih terbaring lemah. Ia mengelus puncak kepala Ze sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.


"Ze, apa kamu bisa mendengarku? Antara aku dan wanita itu tidak memiliki hubungan apapun. Hubungan kami hanya sebatas personal trainer dan membernya, tidak lebih."


Ze yang hanya berpura-pura pingsan, tentu saja bisa mendengar dengan jelas apa yang diucapkan oleh lelaki itu. Ia kesal dan tanpa sengaja mulutnya tiba-tiba mengumpat kesal kepada lelaki itu.


"Hah, bohong! Dasar lelaki genit," umpatnya.


"Asyem! Bukannya aku tadi berpura-pura pingsan? Kenapa malah menjawab omongan lelaki ini! Ya, sudahlah. Sudah ketahuan juga," gerutu Ze dalam hati.


"Ya, aku sudah sadar. Tapi, saat ini aku sangat kesal, Tuan Jimmy!" jawab Ze sembari bangkit dari posisinya kemudian duduk dengan wajah menekuk.


"Kesal kenapa?" tanya Jimmy pelan. Ia meraih tangan Ze kemudian mengelusnya dengan lembut.

__ADS_1


"Lepaskan tanganku dan jauhkan tanganmu ini dariku! Bukannya tadi tanganmu yang genit ini sudah menyentuh punggung wanita itu?" kesal Ze sambil menepis tangan Jimmy.


Jimmy tertawa pelan. "Kamu cemburu, ya? Maafkan aku, Ze. Tapi, aku berani bersumpah di antara kami tidak ada hubungan apapun. Dia hanya memberku, sama seperti yang lainnya. Bukankah kamu tahu bahwa aku juga bekerja sebagai personal trainer yang membantu para member di sini," tutur Jimmy mencoba meyakinkan Ze yang masih menekuk wajahnya.


Kebetulan di saat itu, lelaki yang tadi diperintahkan oleh Jimmy untuk mengambil minyak kayu putih tiba di ruangan tersebut. "Wah, Nyonya Wiliam sudah sadar, ya!" celetuknya sambil tersenyum. "Berarti minyak kayu putihnya batal, dong?" lanjutnya.


"Sini! Berikan minyak kayu putih itu padaku karena saat ini aku sangat membutuhkannya. Kalau perlu balsem yang hot jeletot itu sekalian," sahut Ze sambil mengulurkan tangannya.


Mata Jimmy terbelalak. Mendengar kata 'balsem hot jeletot', tiba-tiba saja pikiran lelaki itu traveling ke mana-mana. Bahkan anaconda-nya pun ikut menciut ketika mendengar nama benda itu disebutkan.


"Ta- tapi untuk apa, Sayang?" tanya Jimmy cemas.


Ze menoleh ke arah Jimmy dengan wajah malas. "Buat menemaniku malam ini," sahut Ze.


Lelaki itu sadar bahwa ruangan itu sedang panas-panasnya. Ia segera pamit sambil tertawa pelan. Ia tahu bahwa saat itu nasib Jimmy benar-benar sedang dipertaruhkan.


"Kurang aj*r, dia malah menertawakan aku lagi," umpat Jimmy pelan sambil memperhatikan sahabatnya itu.

__ADS_1


...***...


__ADS_2