
Di tempat lain.
Tuan Harold sedang berdiri di depan lemari pakaian sambil sesekali menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Terlihat jelas bahwa pria itu tengah kebingungan saat memilih pakaian apa yang akan ia kenakan hari ini.
"Apa yang harus aku kenakan untuk menemui Lidya hari ini? Tidak mungkin 'kan aku menggunakan pakaian biasa yang sudah sering aku gunakan itu?" gumam Tuan Harold.
Tiba-tiba Tuan Harold teringat akan setelan jas mahal yang ia beli beberapa tahun yang lalu. Setelan jas bermerek itu begitu ia sayangi dan selalu ia simpan dengan baik di dalam lemari pakaiannya.
"Ah, aku bodoh! Aku bahkan sampai lupa bahwa aku masih memiliki setelan jas mahal yang aku beli ketika di luar negeri dulu." Tuan Harold mengobrak-abrik isi lemarinya dan akhirnya ia menemukan setelan jas mahal tersebut.
Lelaki itu tersenyum lebar setelah berhasil menemukan setelan kemeja yang sejak tadi ia cari-cari. Ia menenteng setelan jas tersebut kemudian memperhatikannya dengan seksama.
"Semoga masih muat," gumam Tuan Harold.
Perhatiannya kini beralih ke arah cermin, di mana seluruh tubuhnya terlihat jelas di sana. Tuan Harold mengelus perutnya yang sekarang sudah tidak berbentuk six pack lagi. Bahkan sebaliknya, perut pria itu tampak menonjol ke depan.
"Ah, kita coba saja," ucap Tuan Harold yang mulai membuka plastik bening tebal yang menutupi kemeja mahal tersebut dan melepaskannya dari hanger.
Perlahan Tuan Harold mencoba kemeja mahalnya. Setelah memasukkan tangan kanan dan kiri, kini tiba saatnya ia menutup kancing kemeja tersebut satu-persatu. Namun, tiba-tiba saja pria itu memasang wajah kecewa karena ternyata kemeja tersebut sudah tidak muat untuk tubuhnya.
__ADS_1
"Astaga! Apa ini artinya aku bertambah gendut, ya?" gumam Tuan Harold.
Sialnya lagi, Nick tiba-tiba saja masuk ke dalam kamarnya dengan membawa nampan berisi secangkir kopi hitam tanpa gula, sesuai permintaan pria itu.
"Tuan Harold, ini kopi Anda," ucap Nick sembari memperhatikan Tuan Harold yang terlihat malu-malu karena kemeja yang dikenakan olehnya tidak bisa ditutup sempurna di bagian perut.
"Letakkan saja kopinya di atas nakas, Nick," titahnya.
"Baik, Tuan." Setelah meletakkan nampan tersebut ke atas nakas, Nick kembali memperhatikan penampilan pria paruh baya tersebut dengan seksama sambil tersenyum lebar.
Cuittt! Cuitttt!
"Anda terlihat keren sekali, Tuan. Mau kemana?" tanya Nick penasaran.
Nick memperhatikan bagian perut pria itu kemudian tertawa pelan. "Sepertinya Anda gendutan ya, Tuan?"
Pletak! Sebuah sentilan mendarat di kening Nick. Pria paruh baya itu tampak kesal menatap Nick saat itu. "Tidak usah diperjelas," kesalnya.
"Ah, coba sini saya bantu, Tuan." Nick mencoba membantu Tuan Harold mengenakan kemeja mahal tersebut.
__ADS_1
"Benarkah? Memangnya bisa?" tanya Tuan Harold dengan wajah heran.
"Ya, kita coba saja. Siapa tahu berhasil. Coba Tuan tarik napas kemudian tahan," titah Nick dan anehnya Tuan Harold itu menurut saja.
Tuan Harold menarik napas dalam kemudian menahannya. Perutnya yang tadi terlihat menonjol, kini tampak rata. Di saat seperti itu, Nick segera mengancingkan kemeja Tuan Harold dengan susah payah.
"Ya, selesai!" ucap Nick setelah berhasil mengancingkan semua kancing kemeja yang dikenakan oleh pria paruh baya tersebut. Ia mengacungkan jempolnya sambil tersenyum lebar menatap Tuan Harold.
"Ah, akhirnya ...." Tuan Harold menghembuskan napas panjang dan perutnya yang tadi terlihat datar, kini kembali ke ukuran semula. Kancing kemeja yang tadinya tertutup sempurna, malah terlepas satu persatu membuat Tuan Harold kelabakan.
"Astaga, bagaimana ini!?" pekiknya dengan wajah panik.
Nick kembali memperhatikan pria itu sambil berpikir keras. Hingga akhirnya Nick mendapatkan sebuah ide yang entah itu ide brilian atau malah sebuah ide gila.
"Aku punya ide, Tuan! Apa Tuan ingin mencobanya?" tanya Nick kepada Tuan Harold.
"Jika itu bisa membantuku, maka aku pun bersedia mencobanya," tutur Tuan Harold penuh harap.
"Baiklah kalau begitu. Tuan tunggu dulu di sini, aku akan segera kembali," ucap Nick sembari mendudukkan Tuan Harold ke tepian tempat tidurnya kemudian dengan berlari kecil keluar dari kamar tersebut.
__ADS_1
"Hah, anak itu! Semoga saja idenya benar-benar bisa membantuku kali ini," gumam Tuan Harold.
...***...