My Naughty Uncle

My Naughty Uncle
Masa Lalu Jimmy


__ADS_3

"Dulu aku menemukan seorang anak remaja yang putus asa luntang lantung di jalanan tak tahu arah. Aku menolongnya kemudian membawanya ke tempat ini. Ternyata dia anak yang baik, sopan dan sangat penurut. Aku melatih anak itu bersama anak buahku yang lain, hingga akhirnya ia berhasil menjadi yang terbaik dari yang terbaik. Aku memutuskan menjadikan Jimmy sebagai tangan kananku. Ternyata keputusanku tidak salah, dia memang benar-benar bisa diandalkan. Selama ia bekerja bersama kami, ia tidak pernah melakukan kesalahan sedikitpun," tutur Jimmy sambil tersenyum dengan bangga.


Pandangan Tuan Harold menerawang menatap langit-langit ruangan. Ia seolah kembali ke masa kejayaannya bersama Jimmy. Namun, seperkian detik berikutnya, ekspresi wajahnya berubah. Ia menjadi sendu dan tampak sedih.


"Namun, sayang itu hanya sementara. Setelah Daddy-nya meninggal, Jimmy memilih kembali ke keluarganya dan melupakan aku," tuturnya dengan mata berkaca-kaca.


"Maafkan aku, Tuan Harold. Tapi aku masih belum menegerti sebenarnya apa yang terjadi pada Mas Jimmy sebelumnya hingga ia bisa putus asa?" tanya Ze.


"Dia bercerita padaku bahwa Daddy-nya selalu membanding-bandingkan dirinya dengan kakak lelakinya. Jika kakak lelaki Jimmy pandai dan begitu membanggakan, berbeda dari Jimmy yang hanya remaja biasa. Tidak ada yang membanggakan darinya. Jimmy bosan karena setiap kali mendapatkan perlakuan berbeda dari Daddy-nya hingga akhirnya ia memutuskan untuk pergi dari rumah," jelas Tuan Harold.


"Mas Jimmy yang malang," gumam Ze dengan wajah sedih. "Jika Mas Jimmy merasa bahagia saat bersamamu, lantas apa yang membuat Mas Jimmy memilih kembali ke keluarganya?"


"Itulah yang masih menjadi pertanyaan buatku. Tapi aku yakin, Mommy-nya lah yang tidak mengizinkan ia kembali kepadaku," jawab Tuan Harold.


Ze menganggukkan kepalanya pelan. "Sekarang aku mengerti, tapi ... ada satu pertanyaan yang masih menghantui pikiranku saat ini. Sebenarnya apa pekerjaan kalian? Jangan bilang kalau kalian adalah sekelompok penjahat berhati mulia, ya!" ucap Ze tanpa disaring terlebih dahulu.


Tuan Harold tergelak mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Ze. "Bisakah kata 'penjahat' itu diperhalus sedikit, Nona? Rasanya kupingku terasa gatal ketika mendengarnya," jawab lelaki itu.

__ADS_1


"Apa?! Ja-jadi itu benar ka-kalian adalah komplotan penjahat?!" pekik Ze dengan terbata-bata dan matanya pun terlihat membulat saat itu. "Apa kalian pernah membunuh, merampok, dan--"


Belum lagi selesai Ze bicara, Tuan Harold segera menyela ucapan wanita itu sambil menyeringai. "Tergantung situasi dan kondisi, Nona."


Mulut Ze menganga dan matanya masih membesar. Ia benar-benar tidak tahu harus berkata apa lagi setelah tahu siapa yang sedang duduk di hadapannya.


"A-anda sangat menakutkan, Tuan," lanjut Ze.


Lelaki itu kembali tergelak. "Tenang saja, Nona. Khusus untuk Anda, kami akan menjadi orang yang baik," jawabnya.


"Ini makanan Anda, Nona. Silakan dinikmati," ucapnya dengan wajah dingin.


Ze melirik makanan itu. Ia masih takut untuk mencicipinya. Ia takut kalau-kalau makanan itu beracun atau dagingnya berasal dari daging yang aneh-aneh. Secara mereka adalah komplotan para penjahat sadis dan mengerikan.


"Makanlah, Nona. Makanan ini aman," ucap Tuan Harold setelah melihat ekspresi Ze saat itu.


"Bisakah Anda mencobanya terlebih dahulu?" sahut Ze.

__ADS_1


"Tentu saja, tidak masalah," jawab Lelaki itu.


Tuan Harold meraih sendok dan mencicipi makanan dan minuman yang ada di atas meja sambil tersenyum. "Lihat, aman 'kan?"


Walaupun ekspresi Tuan Harold tampak meyakinkan, tetapi Ze masih ragu. "Daging apa ini?" tanya Ze sambil menunjuk daging masak rendang yang begitu menggugah selera.


"Daging sapi pilihan, Nona," jawab lelaki yang mengantarkan makanan tersebut, masih dengan ekspresi datarnya.


"Di mana kalian mendapatkan daging sapi pilihan? Secara tempat ini jauh dari pemukiman warga," tanya Ze penuh selidik.


Lelaki itu tampak kesal setelah mendengar pertanyaan Ze yang masih tidak mempercayainya. Tuan Harold melirik lelaki itu sambil mengangguk pelan. Seolah meminta lelaki itu untuk bersabar dan melayani Ze dengan baik. Tidak ada pilihan lain bagi lelaki itu selain menuruti keinginan sang Big Boss. Ia pun memcoba menahan rasa kesalnya dan mulai menyunggingkan senyuman terpaksanya.


"Kami memiliki ternak sapi tak jauh dari tempat ini. Apa Anda ingin melihatnya, Nona?" Lelaki itu berjalan mendekati jendela kemudian menujuk sesuatu di luar sana. "Lihatlah, di sana ada beberapa ekor sapi yang sedang merumput. Apa Anda kira penjahat seperti kami tidak butuh makan makanan yang bergizi, Nona? Malah sebaliknya, kami butuh tenaga besar untuk menghabisi musuh-musuh kami," celetuknya dengan kesal.


Ze tersenyum kecut kemudian berjalan mendekati jendela tersebut. Benar saja, ada beberapa sapi yang sedang merumput bersama anak-anaknya. "Baiklah, sekarang aku percaya padamu," jawab Ze.


...***...

__ADS_1


__ADS_2