
"Belikan aku pil setan itu ya, Mei. Kita buat mereka kepanasan!" ucap Mommy Martha.
"Beneran, Nyonya serius soal ini?" tanya Mei mencoba memastikan.
"Ya, iyalah! Kalau aku tidak bertindak seperti ini, aku yakin akan sangat lama menunggu cucuku OTW, Mei. Aku tahu persis, manusia semacam apa si Jimmy yang nakal itu. Ia tidak akan secepatnya memberikan cucu untukku, di tambah lagi si Ze yang polosnya tidak ketulungan," gumam Mommy Martha dengan wajah menekuk.
"Benar juga ya, Nyonya."
"Kan! Makanya aku butuh bantuanmu sekarang untuk mengerjai pasangan itu," sahut Mommy Martha.
"Oke, Nyonya! Mari kita lakukan."
Beberapa jam kemudian.
Setelah selesai menjenguk teman-temannya, Jimmy pun memohon diri kepada sahabat-sahabatnya.
"Ah, Jimmy gak asik! Setelah menikah, dia malah melupakan kita, teman-teman," ucap salah seorang temannya dengan wajah menekuk.
Jimmy tergelak mendengar penuturan sahabat sekaligus Personal Trainer di Gym-nya tersebut. Jimmy merasa lucu karena mungkin selama ini yang teman-temannya pikir, ia dan Ze sama seperti pasangan pada umumnya. Padahal apa yang mereka pikirkan berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan oleh Jimmy saat ini.
"Lihatlah, dia tertawa karena saking bahagianya," timpal yang lain.
Jimmy menepuk pundak sahabatnya itu sambil tersenyum lebar. "Sebenarnya bukan begitu, Bro. Saat ini aku memang sedang sibuk, nanti setelah semua urusanku selesai, aku berjanji akan kembali lagi bergabung bersama kalian," sahut Jimmy.
__ADS_1
Setelah mengucapkan hal itu, Jimmy pun segera pamit dan bergegas masuk ke dalam mobilnya. Seperti janjinya kepada Ze bahwa dia akan menjemput istri kecilnya itu setelah urusannya di gym selesai.
Ketika Jimmy tiba di kediamannya, ternyata Ze sudah menunggu kedatangan lelaki itu.
"Mari, Ze," ajak Jimmy.
Setelah meraih tas selempang kecil kesayangannya, Ze pun bergegas mengikuti Jimmy yang sudah berjalan beberapa langkah di depannya.
"Kalian mau kemana?" tanya Mommy Martha yang baru saja tiba di ruangan itu.
"Aku ingin mengajak Ze membeli barang-barang kebutuhannya, Mom," jawab Jimmy seraya menghentikan langkahnya kemudian menatap Mommy Martha.
"Wah, Mommy senang mendengarnya. Eh, jangan lupa belikan pakaian yang bagus buat mantu kesayangan Mommy ini ya, Jimmy. Dan jangan lupa ajak dia ke klinik kecantikan langganan Mommy, biar Ze di kasih tahu skincare yang apa bagus buat dia. Kamu mau 'kan, Ze?" tanya Mommy kepada Ze sembari mengelus pipi gadis itu.
"Ya, tentu saja, Mom. Dia 'kan sekarang sudah jadi istriku, sudah jadi kewajibanku memperlakukannya seperti Ratu," sela Jimmy seraya merangkul pundak Ze.
"Ya, sudah! Sekarang berangkatlah," sambung Mommy.
"Ya, kami pamit dulu." Setelah berpamitan kepada Mommy, Ze dan Jimmy pun segera meluncur. Hari ini mereka akan menghabiskan waktu mereka berdua saja.
Sementara itu Ze dan Jimmy menghabiskan waktunya bersama, Evan dan Daniel tengah berbincang serius di sebuah Cafe yang letaknya tidak jauh dari perusahaan yang sekarang di pegang oleh Evan.
"Apa kamu sudah mendengar berita tentang Aldi, Evan?" tanya Daniel.
__ADS_1
"Berita apa?" tanya Evan sambil mengerutkan kedua alisnya.
"Tapi kamu diam-diam saja, ya! Jangan kasih tahu siapa pun, kasihan nanti Aldi, takutnya dia semakin depresi."
"Hah?! Depresi kenapa?" tanya Evan yan semakin penasaran.
"Calon istri Aldi kabur bersama lelaki lain. Padahal pernikahan mereka tinggal seminggu lagi 'kan? Undangan sudah disebar dan semuanya sudah beres tinggal menunggu hari H-nya, eh si cewek malah kabur," celetuk Daniel sembari meraih cangkir kopi hitam kesukaannya kemudian menyeruputnya.
"Apa?! Kamu serius, Daniel?! Lalu bagaimana kondisi Aldi sekarang?" pekik Evan dengan wajah serius menatap sahabatnya itu, Daniel.
Daniel yang sedang asik menyeruput kopi hitam tersebut, segera meletakkan kembali cangkir kopinya ke atas meja dan menjawab pertanyaan Evan.
"Ya, aku serius. Mana mungkin aku berani berbohong soal berita sepenting ini," jawab Daniel yang juga tidak kalah seriusnya.
"Sebaiknya aku menjenguknya, kasihan dia!" ucap Evan.
"Aku rasa jangan dulu, Evan!" Daniel mencegah Evan yang ingin menemui Aldi. Ia meraih tangan Evan kemudian meminta sahabatnya itu untuk duduk kembali di kursinya.
"Loh, memangnya kenapa?" tanya Evan sembari duduk kembali di kursinya.
"Sebaiknya jangan, karena saat ini kondisi Aldi sedang kacau. Dia depresi dan mengurung dirinya di kamar. Kemarin malam aku sempat mengunjunginya, tetapi dia malah mengusirku," tutur Daniel.
Wajah Evan terlihat murung. "Kasihan Aldi, semoga dia mendapatkan pengganti yang lebih baik dari wanita sialan itu," ucap Evan dengan sangat kesal.
__ADS_1
...***...