My Naughty Uncle

My Naughty Uncle
Sah!


__ADS_3

Dua minggu kemudian.


Tidak butuh waktu lama untuk pasangan Bu Lidya dan Tuan Harold pun, mereka pun segera melangsungkan pernikahan. Dengan alasan usia mereka yang tidak muda lagi, pasangan itu memutuskan melangsungkan pernikahan mereka secara sederhana dan tertutup.


Di kediaman Mommy Martha.


"Astaga, Van! Kenapa kamu belum bersiap-siap juga? Bukankah kita akan pergi ke acara pernikahan Tuan Harold dan Ibundanya Ze, Bu Lidya," ucap Mommy Martha dengan kesal menatap Evan yang masih terlihat malas-malasan di sofa empuknya sambil bermain ponsel.


"Kan sudah Evan bilang, Oma. Evan gak mau ikut," sahut Evan dengan wajah malas menatap Mommy Martha.


"Heh, ini bukan pilihan tapi ini wajib! Kamu harus tetap ikut," titah Mommy Martha.


"Tapi Evan malu, Oma. Apa kata dunia? Secara, Tuan Harold yang usianya sudah 50an saja bisa menemukan jodohnya, lah aku? Sampai sekarang aku masih jomblo akut," sahut Evan sambil memasang wajah sedih.


"Heh, kamu itu kena karma! Coba dulu kamu tidak suka mempermainkan perempuan, kamu pasti sudah menemukan jodohmu," celetuk Jimmy yang baru saja tiba di ruangan itu bersama Ze yang terlihat sangat cantik dengan dress berwarna senada dengan kemeja yang dikenakan oleh Jimmy saat itu.


"Mas, sudahlah." Ze mencubit pelan perut six pack itu agar Jimmy menghentikan ocehannya. Ze merasa kasihan dengan Evan yang akhirnya terkena karma dengan menjoblo hingga saat ini.


"Memangnya kenapa? Lagi pula aku benar kok," protes Jimmy kepada Ze yang sedang menggandeng tangannya.


"Ah, Om!" sahut Evan sambil menekuk wajahnya.


"Seharusnya kamu itu semangat! Contohlah Tuan Harold, bahkan sampai di usianya yang sudah tidak muda lagi. Ia tetap semangat memperjuangkan cintanya," sambung Jimmy.


"Om Jimmy-mu benar, Van. Masa kamu kalah sama Tuan Harold yang sudah berumur," sambung Mommy Martha.

__ADS_1


"Ah, baiklah-baiklah! Tunggu sebentar, aku ganti pakaian dulu," sahut Evan dengan malas. Walaupun ia enggan ikut ke pesta pernikahan Tuan Harold, tetapi karena desakan Mommy Martha akhirnya mau tidak mau, Evan pun harus ikut bersama Mommy Martha pergi ke pesta pernikahan tersebut.


Sepeninggal Evan.


"Mom, aku dan Ze duluan, ya!" ucap Jimmy yang sudah tidak sabar ingin melihat acara pernikahan lelaki yang pernah menjadi Big Boss-nya itu.


"Kenapa tidak menunggu Evan dulu, biar kita perginya barengan?" sahut Mommy Martha.


"Ah, kemalamaan, Mom. Kami duluan saja," kata Jimmy.


"Baiklah kalau begitu. Hati-hati di jalan ya, Jimmy. Jangan ngebut, ingat cucu Mommy yang sebentar lagi akan lahir," sahut Mommy lagi.


"Ya, tentu saja, Mom."


Sementara itu di perjalanan menuju sebuah hotel, di mana acara pernikahan Tuan Harold dan Bu Lidya dilaksanakan. Acara pernikahan yang dilaksanakan secara tertutup dan hanya orang-orang tertentu saja yang mendapatkan undangan dari lelaki itu.


"Akhirnya Ibu tidak akan kesepian lagi, Ze. Apa kamu senang?" ucap Jimmy sambil mencolek dagu Ze yang duduk tenang di kursinya.


"Ya, tentu saja, Mas. Aku sangat senang karena akhirnya Ibu tidak sendiri lagi. Akhirnya ia memiliki seseorang yang bisa menemaninya di hari tuanya," jawab Ze.


"Bagaimana pendapatmu jika suatu saat nanti mereka memiliki seorang bayi? Secara 'kan Bu Lidya masih muda, masih 40'an, masih bisalah satu anak lagi," celetuk Jimmy sambil menggoda istri kecilnya itu.


Ze tampak menekuk wajahnya sembari membalas tatapan lelaki itu. "Kamu ini ada-ada saja, Mas. Tapi jika itu benar, itu artinya aku akan punya adik lagi. Tak apa sih, itu artinya Ibu akan punya kesibukan baru lagi," jawab Ze.


Tidak berselang lama, Ze dan Jimmy pun tiba di hotel tersebut. Setelah memarkirkan mobilnya, Jimmy bergegas menuntun Ze ke ballroom di mana acara pernikahan Bu Lidya dan Tuan Harold di laksanakan.

__ADS_1


Setibanya di ruangan itu, Ze dan Jimmy segera duduk di sebuah meja yang memang di sediakan spesial untuk mereka. Yang letaknya di depan, tidak jauh dari pelaminan megah, di mana Tuan Harold dan Bu Lidya bersanding menjadi Raja dan Ratu sehari.


Walaupun usia mereka sudah tidak muda lagi, tetapi penampilan mereka saat itu tidak kalah dari pengantin muda. Bu Lidya bahkan terlihat sangat cantik dengan kebaya modern berwarna silver, senada dengan setelan jas yang kini dikenakan oleh Tuan Harold.


"Uuhh, Ibu terlihat sangat cantik," gumam Ze yang tidak hentinya menatap Bu Lidya yang sedang duduk di pelaminan bersama Tuan Harold.


"Tapi kamu pun tidak kalah cantik, Sayang," goda Jimmy yang berbisik di samping telinga Ze.


"Hhh, gombal!"


"Kira-kira kapan mereka memulai acara pernikahannya? Aku sudah tidak sabar ingin melihat Tuan Harold mengesahkan Ibu menjadi Istrinya," ucap Jimmy sambil memperhatikan sekeliling ruangan itu, mencari keberadaan Pak Penghulu yang masih belum terlihat batang hidungnya.


"Ya, kamu benar, Mas. Aku juga sudah tidak sabar ingin melihat mereka sah menjadi suami istri," jawab Ze.


Tidak berselang lama Pak Penghulu pun tiba bertepatan dengan tibanya? Mommy Martha, Evan dan Mei yang juga tidak mau ketinggalan di acara pernikahan pasangan Bu Lidya dan Tuan Harold.


Akhirnya acara yang ditunggu-tunggu pun tiba. Tuan Harold harus berhadapan dengan seorang lelaki yang jauh lebih tua darinya, yang akan mengesahkan dirinya menjadi suami dari Bu Lidya.


Setelan melewati serangkaian acara, akhirnya ...


"Bagaimana para saksi? Sah?!"


"SAH!!!" sahut para saksi.


...***...

__ADS_1


__ADS_2