My Naughty Uncle

My Naughty Uncle
Diterima


__ADS_3

"Tuan Harold pingsan? Tidak mungkin," pekik Jimmy sambil berlari ke luar ruangan itu. Sedangkan Ze dan Bu Lidya mengikuti dari belakang dengan wajah tak kalah cemas.


Setibanya di tempat itu ternyata benar, pria itu tergeletak di pekarangan rumah Bu Lidya dengan posisi terlentang tak jauh dari mobil mewahnya.


Nick berusaha mengangkat tubuh pria itu, tetapi tidak bisa karena terlalu berat. Hingga wajahnya terlihat meringis pun, tubuh Tuan Harold tetap tak bergerak sedikit pun.


"Ya ampun!" pekik Jimmy lagi sambil menggelengkan kepalanya. Ia heran bagaimana bisa pria paruh baya itu bisa jatuh pingsan. "Ini benar-benar memalukan. Bagaimana jika salah satu rivalnya tahu bahwa lelaki ini akhirnya jatuh pingsan hanya gara-gara lamarannya ditolak? Beuh! Mereka pasti akan tertawa lantang, menertawakan dirinya," gerutu Jimmy.


"Heh! Jangan menggerutu saja! Aku butuh bantuan di sini!" kesal Nick karena Jimmy hanya melihat dirinya sambil bertolak pinggang.


"Oh, aku kira kamu bisa mengangkatnya sendirian," celetuk Jimmy sambil tertawa pelan.


"Muka-mu! Bagaimana caranya aku bisa mengangkat tubuh dengan bobot yang jelas-jelas jauh lebih besar dariku?!" kesal Nick.


Jimmy pun segera menghampiri tubuh pria malang itu kemudian mengambil posisi untuk mengangkatnya. "Siap, Nick? Dalam hitungan ke tiga! Siap?!"


"Baik," sahut Nick.


"Satu ... dua ... ti-- ga!" seru keduanya.


Dengan mengerahkan seluruh kekuatan mereka, akhirnya tubuh Tuan Harold pun terangkat. Jimmy dan Nick membawa tubuh yang tak berdaya tersebut kembali ke dalam rumah Bu Lidya.


Para tetangga julid sudah mulai mengintip dari balik rumah mereka. Mereka penasaran dengan apa yang terjadi di perkarangan rumah Bu Lidya tersebut. Apa lagi mereka sempat melihat pria dewasa yang jatuh pingsan di sana.


"Siapa pria yang pingsan itu?" Begitulah kira-kira yang ada di dalam pikiran mereka saat ini.

__ADS_1


Sementara itu, Ze dan Bu Lidya bergegas menyiapkan tempat untuk meletakkan tubuh Tuan Harold. Sofa panjang yang tadi mereka duduki, kini beralib fungsi menjadi tempat untuk Tuan Harold beristirahat.


Ze meletakkan sebuah bantal empuk untuk menyangga kepala Tuan Harold nantinya. Akhirnya Jimmy dan Nick tiba di ruangan itu kemudian meletakkan tubuh Tuan Harold ke tempat yang sudah disediakan oleh Bu Lidya dan Ze.


Setelah itu Nick bergegas melepaskan satu persatu pakaian yang melekat di tubuh Tuan Harold. Jas, rompi, kemudian kemejanya. Jimmy, Ze dan Bu Lidya heran melihat aksi Nick tersebut. Bukan hanya pakaiannya, Nick pun mulai membuka pengait serta resleting celana Tuan Harold, tetapi tidak sampai melepaskannya.


"Apa yang kamu lakukan, Nick?!" tanya Jimmy heran.


"Aku yakin ini pasti gara-gara korset yang aku berikan itu!" sahut Nick dengan wajah panik.


"Korset?!" pekik ketiga orang itu.


"Ya, demi menunjang penampilannya hari ini karena ingin bertemu Bu Lidya, Tuan Harold rela mengenakan korset untuk menutupi perut buncitnya."


Nick membuka baju dalaman tipis yang masih melekat di tubuh Tuan Harold hingga batas dada. Dan kini terlihatlah korset sialan yang masih melekat erat di perut buncit pria itu.


Nick melemparkan benda itu ke samping sofa bersama kemeja, jas serta rompi milik Tuan Harold yang juga teronggok di sana. Sedangkan ketiga orang yang sejak tadi yang menjadi penonton, tampak menggelengkan kepala mereka karena tidak percaya dengan apa yang mereka lihat sekarang ini.


"Astaga, Tuan Harold! Aku benar-benar tidak menyangka bahwa ternyata ia rela melakukan hal ini hanya demi pertemuannya bersama Ibu," gumam Jimmy.


Kini tatapan Ze, Jimmy dan Nick tertuju kepada Bu Lidya yang juga masih terlihat panik dan tampak serba salah.


"Kenapa kalian melihatku seperti itu?!" tanya Bu Lidya tampak heran.


Ketiga orang itu tetap menatapnya lekat tanpa berkata sepatah kata pun, bahkan sekedar menjawab pertanyaan dari wanita itu.

__ADS_1


"I-ini 'kan bukan salahku. Harold pingsan karena korset itu mengikat tubuhnya terlalu kencang dan membuat dirinya kesulitan untuk bernapas," sambung Bu Lidya, mencoba membela diri.


"Bu! Ibu juga bersalah di sini. Aku yakin Tuan Harold pingsan tidak hanya gara-gara korset tersebut, tetapi juga karena penolakan Ibu," ucap Ze sambil menatap lekat Bu Lidya.


Bu Lidya menekuk wajahnya dengan sempurna. "Tapi--" Bu Lidya menghentikan ucapannya sebab tatapan ketiga orang itu terlihat semakin menyudutkannya.


Bu Lidya menghembuskan napas panjang dan akhirnya berucap. "Baiklah, aku salah. Salah-salah-salah!" ucapnya lagi.


"Sekarang apa yang harus aku lakukan sekarang? Apakah aku harus menerima lamarannya?!" pekik Bu Lidya sambil menautkan kedua alisnya.


Ketiga orang itu pun menganggukkan kepala dengan penuh semangat, terlebih Ze. Ia ingin sekali agar Ibunya itu memiliki seseorang untuk menemaninya di hari tua. Seseorang yang dapat membahagiakan serta menjaganya, seperti sosok Tuan Harold.


Lagi-lagi Bu Lidya menghembuskan napas panjangnya. "Baiklah, aku akan menerima lamarannya," lirih Bu Lidya.


"Benarkah itu?!" Tiba-tiba pria paruh baya itu sadar dari pingsannya. Ia menatap Bu Lidya sambil tersenyum hangat walaupun wajahnya masih terlihat pucat.


"Tuan Harold?!" pekik mereka berempat.


"Harold? Jangan-jangan kamu hanya berpura-pura, ya?!" tanya Bu Lidya sambil menautkan kedua alisnya.


"Tidak, Lidya. Aku serius, aku benar-benar pingsan. Selain karena korset itu, aku juga sangat kecewa mendengar jawaban darimu. Sekarang aku bertanya lagi padamu, maukah kamu menjadi istriku? Mungkin ini pertanyaan terakhirku, Lidya. Jika kamu masih tidak bisa menerimaku, maka aku akan mundur dan berjanji tidak akan pernah menanyakannya lagi padamu," tutur Tuan Harold.


Bu Lidya terdiam sejenak. Sedangkan ketiga orang itu seakan terus mendorongnya untuk berkata 'ya' dan menerima lamaran Tuan Harold tersebut.


Huft!

__ADS_1


"Baiklah, aku menerimanya," jawab Bu Lidya.


...***...


__ADS_2