My Naughty Uncle

My Naughty Uncle
Mual


__ADS_3

Keesokan paginya.


Ze mendadak bangun dari tidurnya ketika Jimmy tiba-tiba melerai pelukan mereka kemudian berlari ke kamar mandi dengan tergopoh-gopoh.


Ze menatap punggung Jimmy yang terus menjauh dengan penuh tanda tanya. Ada apa gerangan yang terjadi pada suaminya. Seperti itu lah kira-kira yang ada di benak Ze saat ini. Perlahan Ze menyibak selimutnya dan berjalan menghampiri kamar mandi, di mana Jimmy berada.


"Loh ... kamu kenapa, Mas?" tanya Ze heran melihat Jimmy yang sedang membungkuk di depan westafel sambil mencuci seluruh wajahnya.


Perlahan Ze menghampiri Jimmy kemudian berdiri di samping lelaki bertubuh besar itu sambil mengelus punggungnya. "Kamu baik-baik saja, 'kan?" tanya Ze.


"Aku mual. Sepertinya aku masuk angin lagi," jawabnya dengan wajah memucat.


"Masa sih? Apa sebaiknya kita panggil Dokter itu lagi untuk memeriksamu," ucap Ze.


Jimmy menatap Ze dengan raut wajah kesal. Setiap kali ia mendengar kata 'Dokter' bayangan jarum suntik itu pasti berkeliaran di benaknya dan hal itu membuatnya benar-benar merasa ngeri. Bahkan bulu-bulu halus di seluruh tubuh Jimmy pun ikut berdiri.


"Jangan buat aku mati ketakutan dengan terus memanggil Dokter, Sayang. Apa kamu ingin cepat-cepat menjadi janda, ha?" kesalnya sambil menahan mual.


Ze terkekeh. "Astaga, Mas Jimmy! Sampai segitunya kah ketakutanmu terhadap Dokter?"


"Kamu tidak tahu apa yang terjadi padaku ketika masih kecil. Ketika Dokter ingin menyuntikku, aku berontak dan apa kamu tahu apa yang terjadi selanjutnya?" ucap Jimmy.


"Apa?" tanya Ze.


"Jarum itu patah dan tertinggal di pantatku! Aku menangis hampir sehari semalam, kamu tahu itu!" kesalnya lagi. "Sejak saat itu aku trauma dengan yang namanya jarum suntik," lanjut Jimmy.


Ze tergelak. "Siapa suruh berontak, seharusnya 'kan kamu diam dan rileks saja," jawab Ze tanpa memperhatikan bagaimana Jimmy menekuk wajahnya.

__ADS_1


"Sudah aku bilang, aku takut! Bagaimana sih," gerutu Jimmy.


"Iya-iya, maafkan aku," sahut Ze.


Rasa mual itu kembali menyerang Jimmy. Lelaki itu tidak memuntahkan apa-apa, hanya air liur yang terus keluar tanpa bisa ia ditahan. Bahkan sampai tubuh Jimmy lemas dan tersandar di dinding kamar mandi sambil memejamkan mata.


"Kondisimu benar-benar mengkhawatirkan, Mas!" ucap Ze yang mulai ketakutan dan cemas.


"Sudah, kamu diam-diam saja di sini dan jangan kasih tahu Mommy," jawab Jimmy dengan sisa-sisa tenaganya yang ada.


Ze diam dan terus memperhatikan wajah Jimmy yang terlihat sangat menyedihkan. Di dalam pikirannya saat itu sedang terjadi perdebatan hebat antara hati dan keinginannya. Jika hati Ze terus memerintahkan dirinya untuk menceritakan kondisi Jimmy kepada Mommy. Lain halnya dengan keinginan Ze yang ingin patuh pada perintah Sang Suami.


Hingga akhirnya ia memutuskan untuk mengikuti kata hatinya. Ze bangkit kemudian perlahan berjalan keluar dari ruangan tersebut. Jimmy membuka matanya dan menatap Ze yang sudah pergi menjauh.


"Ze sayang? Kamu mau kemana?" tanya Jimmy dengan sangat lirih. Bahkan Ze pun tidak mendengar panggilan lelaki itu.


Sementara itu.


Ze bergegas keluar dari kamarnya dan dengan langkah cepat ia berjalan ke arah kamar mewah milk Mommy Martha. Namun, baru beberapa meter dari kamarnya, Ze malah bertemu dengan Mei yang juga sedang berjalan ke arahnya.


"Ah, kebetulan sekali, Mbak Mei!" ucap Ze dengan wajah semringah menyambut kedatangan Mei. Ze segera meraih tangan Mei dan membawanya wanita itu memasuki kamarnya.


"Ada apa, Nona Ze?" tanya Mei heran.


"Coba kamu lihat kondisi Mas Jimmy. Aku rasa kondisinya semakin memburuk, Mei. Aku takut," jawab Ze dengan wajah panik.


"Maksud Nona?" Mei semakin bingung.

__ADS_1


"Dia muntah-muntah di kamar mandi dan sekarang kondisinya sangat lemah, Mbak Mei!" Ze mengajak Mei ke kamar mandi mereka, di mana Jimmy masih bersandar di dinding ruangan itu dengan kondisi lemah dan tidak berdaya.


Setibanya di ruangan itu, Mei memperhatikan kondisi Jimmy dan apa yang dikatakan oleh Ze itu memang benar adanya. Lelaki itu terlihat sangat lemah. Jimmy pun kembali membuka matanya dan ia mendengus kesal ketika tahu siapa yang sedang berdiri di hadapannya.


"Dasar, Ze!" gumamnya.


"Maafkan aku, Mas! Aku harus melakukannya, aku takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan padamu," sahut Ze dengan wajah memelas menatap Jimmy.


"Mari, Mbak Mei! Tolong periksa Mas Jimmy," ucap Ze sembari meraih tangan Mei dan menuntunnya mendekati Jimmy.


Namun, di luar dugaan Ze, Mei malah berbalik dan menarik tangan wanita itu. "Tidak salah lagi, sebaiknya Nona ikuti saya," ucap Mei sambil tersenyum lebar.


"Ish! Kemana, Mbak Mei? Yang seharusnya Mbak periksa itu Mas Jimmy, bukan aku. Aku mah baik-baik saja, Mbak," kesal Ze.


Mei tidak mempedulikan ekspresi Ze saat itu. Bahkan Jimmy pun tampak bingung melihat gelagat aneh Mei. Mei mengajak Ze masuk ke dalam toilet dan menutup pintunya rapat. Kebetulan toilet di ruangan itu memiliki ruangan tersendiri.


"Mei, mau kamu apakah istriku, ha?! Jangan macam-macam kamu, Mei!" ancam Jimmy sambil menahan mual yang masih terus menyerangnya.


"Anda tidak usah khawatir, Tuan Jimmy. Istri Anda baik-baik saja dan tunggu berita baiknya," jawab Mei dengan setengah berteriak.


"Apaan sih, Mbak Mei?!" Ze masih bertanya-tanya akan tindakan aneh Mei saat itu hingga akhirnya Mei mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong bajunya.


"Tolong coba alat ini, Nona," ucap Mei sembari menyodorkan alat tes kehamilan yang ia ambil dari dalam sakunya kepada Ze.


Ze membulatkan matanya ketika sadar benda apa yang diberikan oleh Mei kepadanya. "Test pack?!" tanya Ze heran.


"Ya, test pack! Dan semoga saja ini benar," jawab Mei.

__ADS_1


...***...


__ADS_2