My Naughty Uncle

My Naughty Uncle
Salah Paham


__ADS_3

Setelah makanan yang dibawa oleh Bu Lidya selesai dihangatkan, makanan sederhana itu pun segera dibawa ke kamar Ze dan Jimmy. Ze adalah orang pertama yang mencicipi masakan tersebut. Tahu sambal balado kesukaannya, yang ia santap bersama sepiring nasi hangat dengan sangat lahap.


Begitu pula Jimmy, walaupun tidak selahap Ze, lelaki itu akhirnya berhasil menghabiskan sepiring nasi hangat bersama lauk pauk sederhana yang tersedia di hadapan matanya.


Bu Lidya terlihat sangat senang melihat anak serta menantunya begitu lahap menikmati masakan sederhana ala dirinya. Sementara itu di ruang utama. Mommy Martha masih duduk di sana bersama Mei. Ia mengajak perawatnya itu untuk membicarakan sesuatu yang sangat serius.


"Aku tidak bisa membayangkan jika apa yang dikatakan oleh Bu Lidya benar-benar terjadi. Aku rasa, akulah orang yang paling berbahagia di rumah ini, Mei," tutur Mommy Martha dengan mata membulat menatap Mei yang sedang duduk di sampingnya.


"Ya, saya harap itu benar, Nyonya. Tapi ... kalau dilihat dari kondisi Nona Ze, seperti tidak ada tanda-tanda kehamilan padanya. Dia tidak terlihat lelah ataupun mengalami morning sickness seperti orang-orang pada umumnya. Namun, hal itu tidak bisa dijadikan patokan juga, sih. Masih banyak kok yang bumil yang tidak mengalami tanda-tanda kehamilan sama seperti Nona Ze," tutur Mei.


"Benar, 'kan?! Moga saja itu benar. Oh ya, Mei. Jangan lupa besok pagi-pagi sekali kamu temui Ze dan segera periksa dia," titah Mommy Martha yang sudah tidak sabar ingin tahu kebenarannya.


Sementara Mommy Martha dan Mei tengah asik berbincang, pak sopir yang tadi menjemput Bu Lidya tengah pusing mencari apotik yang masih buka dan beruntung ia berhasil menemukannya. Lelaki itu ditugaskan membeli alat test kehamilan untuk Ze gunakan besok pagi. Walaupun malu, mau tidak mau lelaki paruh baya itu pun terpaksa melakukannya.


Di saat masih asik berbincang, tiba-tiba mata Mommy Martha tertuju pada cucunya yang baru saja kembali, setelah seharian bekerja di kantornya. Wajah Evan terlihat sangat kusut, bahkan lebih kusut dari yang ia lihat saat tadi pagi.


"Van, kamu baru pulang?" tanya Mommy Martha.


Evan menoleh ke arah Mommy Martha kemudian tersenyum kecut. "Ya, Oma. Tadi Evan sempat mampir ke rumah teman," jawabnya singkat.

__ADS_1


"Temanmu yang mana?" tanya Mommy Martha dengan alis yang saling bertaut. "Sini, duduk dulu sama Oma," lanjut Mommy Martha sembari menepuk ruang kosong di sebelahnya.


Evan pun datang mendekat, sedangkan Mei segera menjauh setelah Evan duduk di sana. "Tidak apa, Mei. Duduklah, jangan sungkan begitu," ucap Evan yang merasa tidak enak ketika Mei bangkit dari posisi duduknya.


"Tidak apa, Tuan. Biar saya di sini saja," jawabnya sembari duduk tak jauh dari Evan dan Mommy Martha.


"Aku barusan dari rumah Aldi, Oma," ucap Evan sembari menyandarkan punggungnya di sandaran sofa dan sekarang tatapannya tertuju pada langit-langit ruangan tersebut.


"Oh, ya? Lalu bagaimana kondisinya sekarang? Bukankah katamu dulu dia sempat depresi setelah ditinggal pergi oleh calon istrinya," sahut Mommy Martha sambil mengelus lembut pundak Evan.


"Ya, tapi sekarang kondisinya sudah mulai membaik, Oma. Dia sudah bisa diajak bicara, ya ... walaupun kadang-kadang masih tidak nyambung."


Evan terdiam sejenak dengan tatapan yang masih tertuju pada Mommy Martha. Sebenarnya maksud kedatangan Evan ke kediaman Aldi tadi sore adalah untuk mengajak serta lelaki itu meminta maaf kepada Ze dan Om Jimmy. Beruntung Aldi setuju dan bersedia ikut Daniel untuk meminta maaf kepada pasangan itu.


"Kamu kenapa? Kok segitunya lihatin Oma?" tanya Mommy Martha.


"Ehm, sebaiknya aku ke kamar dulu, Oma. Aku ingin beristirahat karena tubuhku sudah sangat lelah," sahut Evan.


"Baiklah. Selamat malam, Evan. Selamat beristirahat," ucap Mommy Martha sembari mencium kedua pipi Evan sebelum lelaki itu pergi.

__ADS_1


Evan melangkahkan kakinya menaiki anak tangga sambil melambaikan tangan kepada Mommy Martha.


"Sekarang Tuan Evan terlihat lebih pendiam ya, Nyonya. Atau hanya perasaanku saja?" ucap Mei kepada Mommy ketika Evan sudah menghilang dari tatapan mereka.


"Sebenarnya aku pun merasakan hal yang sama, Mei. Tapi aku tidak ingin bertanya lebih jauh lagi padanya. Aku pernah ingin membicarakan masalah itu kepada Evan, tetapi dia bilang nanti saja. Ia belum siap menceritakan semuanya kepadaku," sahut Mommy Martha.


Sementara itu, Evan berdiri di dekat pintu kamar Jimmy dan Ze. Evan yang belum tahu bagaimana kondisi Jimmy, berencana ingin menemui lelaki itu dan menyampaikan keinginan kedua sahabatnya Aldi dan Daniel. Ia menghampiri pintu dan bersiap mengetuknya.


"Akh! Akh! Akh!" terdengar suara aneh dari dalam ruangan, yang membuat Evan mengurungkan niatnya. Seluruh tubuh Evan merinding dan ia segera menjauh dari kamar tersebut.


"Sebaiknya aku kembali ke kamar," ucap Evan dan dengan langkah cepat ia kembali menuju kamarnya.


Sebenarnya apa yang terjadi di kamar Ze dan Jimmy tidak seperti yang dipikirkan oleh Evan. Saat itu Ze tengah kepedasan akibat memakan tahu sambal balado buatan Bu Lidya. Hingga ia mengeluarkan suara seperti mwndesahh dengan cepat.


Jimmy segera menyerahkan air minum kepada Ze kemudian mengelus punggung istri kecilnya itu dengan lembut.


"Aduh, makannya perlahan donk, Ze sayang!" ucap Jimmy.


...***...

__ADS_1


__ADS_2