My Naughty Uncle

My Naughty Uncle
Pergi Bersama Om


__ADS_3

Setelah selesai bersiap-siap, Ze pun segera kembali ke ruang depan, di mana lelaki dewasa tersebut sudah menunggunya.


"Nah, itu dia!" ucap Bu Lidya sembari tersenyum lebar menatap Ze yang datang mendekat ke arah mereka.


Jimmy memperhatikan penampilan Ze saat itu, dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ya, masih sama seperti sebelumnya, tak ada yang istimewa dari penampilan gadis itu. Namun, bagi Jimmy gadis itu cukup manis, walaupun tidak sesempurna wanita-wanita yang selama ini sering ia hadapi.


"Sebaiknya kita berangkat, Ze." Jimmy bangkit dari tempat duduknya kemudian meminta izin kepada Bu Lidya untuk mengajak Ze pergi bersamanya. Bu Lidya pun menganggukkan kepalanya dengan cepat dan memberikan izin kepada lelaki itu.


"Kami berangkat dulu, Bu Lidya. Setelah urusan kami selesai, saya berjanji akan secepatnya mengantarkan Ze kembali," ucap Jimmy.


"Ya, tentu saja, Tuan Jimmy," sahut Bu Lidya sambil tersenyum semringah.


"Ze berangkat dulu ya, Bu." Ze meraih tangan Ibunya kemudian mencium punggung tangan wanita paruh baya tersebut. Setelah itu Ze pun kembali melangkahkan kakinya mengikuti Jimmy yang sudah berjalan lebih dulu di depannya.


Setibanya di depan rumah, Jimmy segera membukakan pintu mobilnya untuk Ze dan mempersilakan gadis itu masuk ke dalam.


Setelah masuk ke dalam mobil tersebut, Ze pun segera melambaikan tangannya kepada Bu Lidya yang berdiri di depan rumah sambil tersenyum lebar menatap kebersamaan mereka. "Dah, Bu!" ucap Ze.

__ADS_1


"Dah! Hati-hati di jalan, ya!" ucap Bu Lidya.


Jimmy mengangguk pelan kepada Bu Lidya sebelum ia melajukan mobilnya meninggalkan kediaman wanita itu dan di balas dengan senyuman oleh Bu Lidya.


Bu Lidya masih berdiri di depan rumahnya sambil memperhatikan mobil Jimmy yang semakin menjauh kemudian hilang dari pandangannya.


"Semoga lelaki itu memang jodoh yang terbaik untukmu, Ze," gumam Bu Lidya sembari membalikkan badannya dan ingin kembali memasuki rumah sederhana miliknya.


Namun, baru saja ia melangkahkan kakinya, tiba-tiba saja terdengar bisik-bisik tetangga di sebelah rumahnya yang masih bisa ia dengar dengan begitu jelas.


"Eh, kalian sudah dengar belum? Katanya si Zea, anak Bu Lidya di gerebek polisi di sebuah hotel bersama seorang laki-laki. Jangan-jangan lelaki yang menjemputnya tadi adalah lelaki yang kedapatan bersama Zea di malam itu," ucap salah seorang tetangganya dengan setengah berbisik tetapi masih bisa di dengar oleh Bu Lidya sendiri.


Bu Lidya meradang setelah mendengar percakapan kedua tetangganya tersebut. Ya, walaupun apa yang dikatakan oleh mereka itu benar. Namun, perasaannya sebagai Ibu seakan tercabik-cabik ketika mendengar anak gadisnya dijelek-jelekan.


Ia bergegas menghampiri kedua wanita itu dengan wajah memerah. "Heh, Bu-Ibu! Mending urus dulu lah dapur kalian, udah beres apa belum? Dari pada urusin anak gadis orang! Kalian harus ingat, kalian juga punya anak gadis, jadi jaga omongan kalian sebelum karma datang dan menjadi boomerang untuk kalian nantinya!" kesal Bu Lidya sambil bertolak pinggang.


"E-eh, kami tidak sedang ngomongin Zea kok, Bu Lidya. Benar 'kan, Bu?" ucap wanita itu dengan wajah pucat setelah Bu Lidya menghampirinya.

__ADS_1


Wanita itu menyenggol lengan teman bicaranya seolah minta bantuan. Namun, jangankan membela, ia sendiri ketakutan dan tidak berani bicara lagi. Bu Lidya yang masih kesal, segera pergi dari hadapan kedua wanita itu sambil menggerutu.


"Bener-bener ya, Pak Didin! Sudah diperingati juga! Belum tau rasanya sapu ijuk melayang dia, tu!" kesal Bu Lidya sembari masuk ke dalam rumahnya.


Sementara itu di perjalanan.


"Om," panggil Ze sembari membuka percakapan karena sejak tadi suasana di mobil tersebut begitu hening.


"Ya?" sahut Jimmy tanpa menoleh sedikitpun kepada Ze yang duduk di sampingnya. Lelaki itu tetap fokus pada stir mobilnya sembari memperhatikan jalan raya yang memang sedang padat-padatnya.


"Jadi ... benar ya, kalau Om itu adalah Paman dari Tuan Evan?" tanya Ze.


"Ya, Evan adalah keponakanku, anak tunggal dari mendiang Kakakku. Memangnya kenapa? Apa kamu menyukainya?" tanya Jimmy balik seraya melirik Ze dan memperhatikan ekspresi gadis itu.


"Hah? Tidak kok, Om! Tidak," elak Ze sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat.


***

__ADS_1


"


__ADS_2