My Naughty Uncle

My Naughty Uncle
Bertemu Mommy Martha 2


__ADS_3

Tubuh Ze gemetar tatkala ia melihat Jimmy dan Nyonya Martha menuruni anak tangga. Maklumlah, ini pertama kalinya Ze bertemu dengan calon mertua. Ia bahkan tidak tahu bagaimana sifat wanita itu ya, 'kan.


"Aduh, aku gugup! Bahkan lebih gugup dari saat aku bertemu dengan Om Jimmy atau pun Tuan Evan. Ish, bagaimana jika wanita itu tidak menyukaiku kemudian menghina dan mengusirku? Ah, semoga tidak!" gumam Ze sembari menghembuskan napas panjang agar ia bisa sedikit lebih tenang.


Sama halnya Ze, Nyonya Martha pun memperhatikan Ze dari kejauhan. "Itu dia calon istrimu, Jimmy? Mommy tidak salah lihat, 'kan?" tanya Nyonya Martha dengan wajah heran menatap Jimmy yang sedang berjalan sambil memegang erat tangannya.


"Ya, itu dia calon isteriku. Memngnya kenapa, Mom? Pasti dia terlihat aneh 'kan di mata Mommy. Hmm, sudah ku duga," sahut Jimmy.


Ze segera bangkit dari posisi duduknya kemudian menyambut kedatangan Nyonya Martha sambil tersenyum hangat. Tidak lupa, Ze mengulurkan tangan kepada wanita itu dan segera disambut olehnya.


"Kenalkan, saya Ze, Mom," ucap Ze mencoba memberikan diri memperkenalkan dirinya kepada wanita itu.


"Mommy Martha, kamu bisa panggil Mommy. Mari, silahkan duduk kembali, Ze," sahut Mommy dan membalas senyuman hangat Ze.


Ze pun kembali ke posisinya semula, begitu pula Nyonya Martha. Ia duduk dengan posisi tepat berhadapan dengan gadis itu. Sedangkan Jimmy memilih duduk di samping Mommy-nya.

__ADS_1


Mommy Martha memperhatikan penampilan Ze dari puncak kepala hingga ujung kaki kemudian mendekatkan kepalanya ke arah Jimmy. "Sshtt! Jimmy apa kamu tidak salah pilih calon istri?" bisik Nyonya Martha di samping telinga Jimmy setelah puas menatap penampilan gadis itu.


Jimmy menautkan kedua alisnya ketika membalas tatapan Nyonya Martha. "Tuh 'kan! Bukan kah aku sudah bilang sama Mommy, bahwa gadis ini memang tidak ada spesial-spesialnya jadi Mommy tidak usah bingung seperti itu," jawab Jimmy dengan setengah berbisik pula.


"Sialan, mereka malah asik berbisik-bisik! Huft, mereka pasti membicarakan penampilanku. Ah ... selamat ya, Ze! Sebantar lagi kamu akan ditendang dari tempat ini," ucap Ze dalam hati.


Mommy Martha menepuk paha Jimmy sambil menekuk wajahnya. "Hush! Jangan bicara seperti itu, tidak baik! Mommy cuma heran, nih gadis terlalu muda untukmu, Jimmy! Dia mah cocoknya buat Evan," gerutu Mommy Martha.


Jimmy mendengus kesal sambil memutarkan bola matanya. "Astaga, kirain!" gumam Jimmy.


"Usia Ze baru genap 19 tahun, Mom," jawab Ze dengan malu-malu.


"Ish, tuh bener 'kan?!" pekik Mommy Martha sambil menatap Jimmy dengan mata membulat. "Dia masih sangat muda, sedangkan kamu--"


"Ya, ya! Aku sudah tua. Sekarang Mommy puas!" sela Jimmy dengan setengah kesal.

__ADS_1


Mommy terkekeh pelan kemudian kembali menatap Ze yang masih memperhatikan dirinya.


"Oh ya, Ze. Jadi ... kamu serius bersedia menikah dengan anak bujangnya Mommy ini? Tapi, kamu sudah tahu 'kan bagaimana Jimmy yang sebenarnya?" tanya Mommy dengan wajah serius.


Walaupun Mommy terlihat serius, tetapi tetap saja Ze ingin tertawa setelah mendengar ucapan wanita itu. Apa lagi saat Mommy Martha menyebut Jimmy dengan sebutan 'Anak Bujang'. Ya, Jimmy memang bujang, tapi 'Bujang Lapuk'.


"Ya ... seperti itulah, Mom." Ze tidak tahu harus menjawab apa. Pernikahannya dengan lelaki itu atas dasar keterpaksaan. Mau tidak mau, tahu tidak tahu, ya harus diterima saja. Mungkin itu lah takdirnya.


"Ah, Mommy senang mendengarnya. Akhirnya ada juga yang bersedia menjadi calon istri anakku ini." Mommy tersenyum sambil membelai lembut pundak Jimmy yang masih duduk di sampingnya.


"Kasihan anak bujang Mommy ini. Sebenarnya dia tampan dan tidak kekurangan apapun. Benar 'kan? Namun, sayangnya dia sulit jodoh, Ze. Beberapa kali dekat dengan wanita selalu ditingal kawin," tutur Mommy.


Ze tidak bisa menahan tawanya. Ia menundukkan kepalanya dengan pundak yang terlihat turun naik. Sedangkan Jimmy merasa malu dan rasa malunya sampai ke ubun-ubun.


"Ya ampun, Mommy! Kenapa Mommy bilang seperti itu?!" pekik Jimmy.

__ADS_1


...***...


__ADS_2