
Sementara itu di tempat Gym.
Jimmy baru saja tiba di tempat itu, segera memarkirkan mobilnya kemudian bergegas masuk ke dalam ruangan tersebut. Salah seorang sahabatnya yang datang terlebih dahulu, segera menyambut kedatangan lelaki itu.
"Selamat pagi, Boss!" sapa lelaki itu.
"Bagaimana? Barangnya jadi datang, 'kan?" tanya Jimmy sembari melangkah masuk menuju ruangan pribadinya.
"Ya, kata mereka barangnya akan diantar sebentar lagi," jawab lelaki itu.
"Ehm, baguslah."
Lelaki itu memperhatikan wajah Jimmy dengan seksama sambil menautkan kedua alisnya. Menurutnya ada yang berbeda dari Jimmy hari ini. Wajah lelaki itu tampak pucat, tidak seperti biasanya.
Jimmy sedikit kesal karena lelaki itu terus memperhatikan dirinya dan membuatnya merasa tidak nyaman. "Heh, kenapa kamu menatapku seperti itu? Memangnya ada yang aneh denganku," kata Jimmy sambil menekuk wajahnya.
Lelaki itu tersenyum kecut sembari menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. "Kamu sedang sakit, ya? Wajahmu terlihat pucat sekali, Jimmy," sahutnya.
"Hah? Benarkah?!" pekik Jimmy.
Jimmy bergegas menghampiri salah satu cermin yang ada di ruangan tersebut. Cermin yang biasa digunakan oleh para pelanggannya. Jimmy memperhatikan bayangannya di cermin dan ia pun tampak terkejut setelah melihat bagaimana wajahnya saat itu.
"Kamu benar. Kenapa wajahku terlihat pucat sekali, ya?" jawab Jimmy, masih fokus memperhatikan bayangannya di cermin.
__ADS_1
"Kamu tidak sedang sakit 'kan, Jim? Kalau kamu sakit, sebaiknya kamu istirahat saja," ucap sahabatnya itu, mencoba memberi saran.
"Aku rasa aku baik-baik saja. Ya, walaupun tubuhku memang agak terasa lemas karena tadi pagi sarapanku hanya sedikit. Entah kenapa aku tidak nafsuu makan pagi ini. Tapi ... kalau hanya gara-gara itu, rasanya tidak mungkin wajahku memucat seperti ini, 'kan?" sambung Jimmy.
"Sebaiknya kamu ke Dokter, Jimmy." Lagi-lagi lelaki itu memberi saran untuk Jimmy.
Jimmy terdiam sejenak sambil memperhatikan bayangannya di cermin. "Ya, sepertinya aku harus ke Dokter. Tapi nanti, setelah barang itu tiba di sini," sahut Jimmy.
Jimmy kembali melangkah menuju ruangan pribadinya dan setibanya di tempat itu, ia pun segera beristirahat. "Ya, Tuhan! Sebenarnya apa yang terjadi padaku? Perasaan aku selalu menjaga kesehatanku. Bahkan makanku pun teratur dengan porsi yang tepat. Tetapi, kenapa malah jadi begini?" gumam Jimmy sambil memijit kepalanya yang sekarang juga ikut-ikutan sakit.
"Ah, apa sebaiknya aku bawa nge-gym aja, ya? Mungkin saja tubuhku butuh pemanasan," lanjutnya.
Jimmy bangkit kemudian mengganti kemeja dan celana formal yang ia gunakan dengan baju kaos serta celana pendek yang biasa ia gunakan ketika nge-gym. Setelah itu ia pun segera keluar dan bergabung bersama teman-temannya yang lain.
"Oh, Ok!" Jimmy bergegas keluar dari tempat itu kemudian menemui orang yang mengantarkan barang pesanannya. Beberapa macam alat fitness baru yang jimmy pesan untuk mengganti alat-alat lama yang sudah rusak dan tidak bisa dipergunakan lagi.
"Diletakkan di mana, Tuan?" tanya orang yang mengantarkan barangnya.
"Bawa saja masuk, nanti anak buahku yang akan mengaturnya," jawab Jimmy.
"Baik, Tuan."
Setelah orang-orang itu selesai dengan pekerjaan mereka, Jimmy pun kembali masuk untuk mengecek alat-alat tersebut.
__ADS_1
"Bagaimana?" tanya Jimmy kepada para sahabatnya yang sedang mengecek alat-alat tersebut.
"Keren lah! Coba lihat ini," jawab salah satu dari mereka. Ia mencoba alat fitness baru itu sambil tersenyum lebar menatap Jimmy.
"Sini, biar aku coba." Ternyata Jimmy pun tergoda ingin mencoba alat baru tersebut. Setelah sahabatnya menjauh, Jimmy pun segera mengambil alih dan mencobanya.
Namun, baru saja Jimmy menyentuh benda itu, tiba-tiba saja Jimmy merasakan dunia berputar dengan sangat cepat. Tubuh besar Jimmy melayang kemudian,
Gdubrakkkk!
Tubuh besar itu jatuh ke lantai dan menimbulkan suara yang cukup mengejutkan. Semua orang di tempat itu sontak terkejut dan bergegas menghampiri Jimmy yang tergolek lemah dan tak sadarkan diri di lantai ruangan tersebut.
"Jimmy, kamu kenapa?! Jimmy!" pekik salah satu sahabatnya sambil menepuk-nepuk pipi lelaki itu.
"Mungkin dia sedang sakit. Lihatlah wajahnya yang memucat itu," ucap lainnya.
"Kamu benar. Tapi, Hei! Tidak bisakah kalian bantu aku mengangkat tubuh besar ini?! Atau kita biarkan saja dia tergolek di sini hingga ia siuman?" pekik salah satu sahabatnya.
"Ah, angkat sendirilah," goda yang lainnya. "Kan kamu juga sudah terbiasa mengangkat beban bahkan lebih berat dari tubuh Boss Jimmy," lanjutnya.
"Aseem kamu! Coba saja lelaki ini dengar apa yang kamu ucapkan barusan, aku yakin bulan ini kamu akan nangis kejer setelah melihat angka yang tertera di rekeningmu," sahut lelaki itu.
"Haha, baiklah-baiklah," jawabnya sembari menghampiri tubuh Jimmy kemudian membantu mengangkatnya.
__ADS_1
...***...